Jakarta Masuk Peringkat Kualitas Udara Terburuk Dunia, Masyarakat Diimbau Tetap Gunakan Masker
Pagi ini, kualitas udara Jakarta kembali masuk dalam kategori tidak sehat. Menurut IQAir, Jakarta menempati peringkat ke-10 sebagai kota paling berpolusi di dunia.
Masyarakat diimbau untuk tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan guna menghindari dampak buruk bagi kesehatan. Kualitas udara Jakarta saat ini tergolong dalam kategori tidak sehat, yaitu 127 dengan nilai konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 40 mikrogram per meter kubik.
Sementara itu, kategori baik adalah tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai estetika. Namun, Jakarta masih jauh dari kategori ini dengan rentang PM2,5 sebesar 0-50.
Jakarta juga menempati peringkat ke-10 sebagai kota paling berpolusi di dunia, meskipun sistem pemantauan kualitas udara terintegrasi dan terluas di Indonesia.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menjelaskan bahwa sistem ini merupakan kombinasi antara stasiun referensi dan sensor berbiaya rendah yang dipasang di berbagai titik strategis.
"Melalui sistem yang terintegrasi ini, kami dapat memantau kondisi udara secara 'real-time' dan melakukan langkah mitigasi lebih cepat untuk melindungi kesehatan warga," ujar Asep.
Pagi ini, kualitas udara Jakarta kembali masuk dalam kategori tidak sehat. Menurut IQAir, Jakarta menempati peringkat ke-10 sebagai kota paling berpolusi di dunia.
Masyarakat diimbau untuk tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan guna menghindari dampak buruk bagi kesehatan. Kualitas udara Jakarta saat ini tergolong dalam kategori tidak sehat, yaitu 127 dengan nilai konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 40 mikrogram per meter kubik.
Sementara itu, kategori baik adalah tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai estetika. Namun, Jakarta masih jauh dari kategori ini dengan rentang PM2,5 sebesar 0-50.
Jakarta juga menempati peringkat ke-10 sebagai kota paling berpolusi di dunia, meskipun sistem pemantauan kualitas udara terintegrasi dan terluas di Indonesia.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menjelaskan bahwa sistem ini merupakan kombinasi antara stasiun referensi dan sensor berbiaya rendah yang dipasang di berbagai titik strategis.
"Melalui sistem yang terintegrasi ini, kami dapat memantau kondisi udara secara 'real-time' dan melakukan langkah mitigasi lebih cepat untuk melindungi kesehatan warga," ujar Asep.