Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa pemerintahnya dan otoritas sementara Venezuela telah mencapai kesepakatan untuk mengekspor 30 hingga 50 juta barel minyak mentah yang terblokir karena embargo AS atas Venezuela. Kesepakatan ini bernilai sekitar US$2 miliar atau sekitar 31 triliun rupiah dan akan dijual dengan harga pasar, kemudian dikendalikan oleh Trump untuk kepentingan rakyat Venezuela dan AS.
Trump menyatakan bahwa kesepakatan ini dilakukan setelah serangan pasukan AS ke Venezuela yang menyebabkan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap dan dibawa ke New York untuk diadili. Sebelumnya, Amerika Serikat menerapkan embargo dagang terhadap minyak mentah dari Venezuela di akhir tahun 2025 lalu.
Embargo ini membuat banyak produksi minyak Venezuela terjebak di pelabuhan atau batal dikirim, sehingga penurunan drastis ekspor negara itu. Aktivitas pengiriman minyak ke Asia dan negara lain juga terganggu karena risiko sanksi atau penyitaan yang berpengaruh pada pendapatan negara.
Sanksi ekonomi ini diberlakukan AS pada Venezuela sejak rezim Presiden Nicolas Maduro dinilai tidak demokratis. Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum mengatakan bahwa kesepakatan ekonomi antara Pemerintah AS dan otoritas sementara Venezuela dipandang dapat menguntungkan kedua negara.
Venezuela selama ini dikenal sebagai negara yang mempunyai cadangan minyak terbesar di dunia, namun sayangnya negara tersebut merupakan salah satu negara miskin karena sebagian besar penduduk Venezuela hidup di bawah garis kemiskinan.
Trump menyatakan bahwa kesepakatan ini dilakukan setelah serangan pasukan AS ke Venezuela yang menyebabkan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap dan dibawa ke New York untuk diadili. Sebelumnya, Amerika Serikat menerapkan embargo dagang terhadap minyak mentah dari Venezuela di akhir tahun 2025 lalu.
Embargo ini membuat banyak produksi minyak Venezuela terjebak di pelabuhan atau batal dikirim, sehingga penurunan drastis ekspor negara itu. Aktivitas pengiriman minyak ke Asia dan negara lain juga terganggu karena risiko sanksi atau penyitaan yang berpengaruh pada pendapatan negara.
Sanksi ekonomi ini diberlakukan AS pada Venezuela sejak rezim Presiden Nicolas Maduro dinilai tidak demokratis. Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum mengatakan bahwa kesepakatan ekonomi antara Pemerintah AS dan otoritas sementara Venezuela dipandang dapat menguntungkan kedua negara.
Venezuela selama ini dikenal sebagai negara yang mempunyai cadangan minyak terbesar di dunia, namun sayangnya negara tersebut merupakan salah satu negara miskin karena sebagian besar penduduk Venezuela hidup di bawah garis kemiskinan.