Gurun paris ini benar-benar merupakan jalanan yang tak tertandingi bagi pengemudi Vespa. Para pebalap yang memilih skuter ini harus menghadapi kesulitan untuk menaklukkan lintasan yang panjang dan berliku-liku, tetapi mereka tidak pernah menyerah.
Berawal dari Jean-Francois Piot, seorang pebalap yang memiliki visi untuk menggunakan Vespa dalam Reli Paris-Dakar. Piot memiliki kepercayaan bahwa citra Vespa sebagai kendaraan kaum urban penuh gaya bisa digunakan untuk mempromosikan skuter ini sebagai kendaraan tangguh dan bandel.
Pada tahun 1979, Piot mengusulkan kepada Piaggio untuk menggunakan Vespa dalam Reli Paris-Dakar. Ia memiliki kepercayaan bahwa skuter ini bisa menyelesaikan etape pertama di Afrika dengan cepat. Piot juga memiliki rencana untuk memodifikasi Vespa dengan memperkuat bagian sasis, garpu, serta sokbreker, serta memasang tangki bahan bakar tambahan serta ban off-road.
Dalam Reli Paris-Dakar 1980 itu, empat pebalap dari tim Piaggio berhasil menyelesaikan balapan dengan skuter Vespa. Satu dari lima mobil Land Rover yang dipiloti oleh Henri Parascolo berhasil finis di 20 besar, sementara keempat pebalap lainnya melewati garis finis.
Namun, meski mereka berhasil menyelesaikan balapan, Reli Paris-Dakar pada akhirnya masih merupakan ajang yang sangat sulit untuk ditaklukkan. Para pebalap dari tim Piaggio harus menghadapi kesulitan dalam melawan skuternya sendiri, karena ban yang dipasang pada Vespa cepat aus dan akhirnya bocor.
Dalam situasi genting ini, Piot akhirnya sempat memilih cara curang untuk melewati gunungan pasir di Aljazair. Aksi tersebut sempat membuatnya bersitegang dengan Thierry Sabine, yang mengancam akan mendiskualifikasi tim Piaggio jika aksi tersebut terulang kembali.
Meski demikian, ajang Reli Paris-Dakar pada akhirnya masih merupakan ajang yang sangat sulit untuk ditaklukkan. Dari empat pebalap yang ikut serta, hanya dua pebalap yang berhasil melewati garis finis, yaitu Marc Simonot dan Bernard Tcherniavsky.
Terlepas dari segala persoalan dan kesulitan yang melanda, misi Piaggio berhasil. Mereka memang tidak menjadi juara, tetapi setidaknya ada dua skuternya yang melewati garis finis. Penjualan Vespa pun, setelah Reli Paris-Dakar 1980 itu, melonjak sampai 150 persen.
Sayangnya, mimpi Piot tak pernah terwujud. Pada November 1980, tak sampai setahun sejak dia membawa tim Piaggio mencatatkan sejarah di Reli Paris-Dakar, Piot meninggal dunia dalam sebuah balap reli di Maroko. Mobil Land Rover yang dikendarainya masuk ke dalam jurang di Pegunungan Atlas dan Piot tewas seketika.
Meski Piaggio dan Vespa tak pernah lagi berlaga di ajang Reli Dakar dan Piot telah meninggal dunia sebelum berdiri di podiumnya, hal yang dilakukan sosok asal Prancis tersebut masih membekas hingga kini. Berulang kali aksi "heroik" pada rider Vespa itu diceritakan lewat berbagai medium dan, rasanya, status sebagai legenda balap sudah bisa disematkan pada nama mendiang Jean-Francois Piot.
Berawal dari Jean-Francois Piot, seorang pebalap yang memiliki visi untuk menggunakan Vespa dalam Reli Paris-Dakar. Piot memiliki kepercayaan bahwa citra Vespa sebagai kendaraan kaum urban penuh gaya bisa digunakan untuk mempromosikan skuter ini sebagai kendaraan tangguh dan bandel.
Pada tahun 1979, Piot mengusulkan kepada Piaggio untuk menggunakan Vespa dalam Reli Paris-Dakar. Ia memiliki kepercayaan bahwa skuter ini bisa menyelesaikan etape pertama di Afrika dengan cepat. Piot juga memiliki rencana untuk memodifikasi Vespa dengan memperkuat bagian sasis, garpu, serta sokbreker, serta memasang tangki bahan bakar tambahan serta ban off-road.
Dalam Reli Paris-Dakar 1980 itu, empat pebalap dari tim Piaggio berhasil menyelesaikan balapan dengan skuter Vespa. Satu dari lima mobil Land Rover yang dipiloti oleh Henri Parascolo berhasil finis di 20 besar, sementara keempat pebalap lainnya melewati garis finis.
Namun, meski mereka berhasil menyelesaikan balapan, Reli Paris-Dakar pada akhirnya masih merupakan ajang yang sangat sulit untuk ditaklukkan. Para pebalap dari tim Piaggio harus menghadapi kesulitan dalam melawan skuternya sendiri, karena ban yang dipasang pada Vespa cepat aus dan akhirnya bocor.
Dalam situasi genting ini, Piot akhirnya sempat memilih cara curang untuk melewati gunungan pasir di Aljazair. Aksi tersebut sempat membuatnya bersitegang dengan Thierry Sabine, yang mengancam akan mendiskualifikasi tim Piaggio jika aksi tersebut terulang kembali.
Meski demikian, ajang Reli Paris-Dakar pada akhirnya masih merupakan ajang yang sangat sulit untuk ditaklukkan. Dari empat pebalap yang ikut serta, hanya dua pebalap yang berhasil melewati garis finis, yaitu Marc Simonot dan Bernard Tcherniavsky.
Terlepas dari segala persoalan dan kesulitan yang melanda, misi Piaggio berhasil. Mereka memang tidak menjadi juara, tetapi setidaknya ada dua skuternya yang melewati garis finis. Penjualan Vespa pun, setelah Reli Paris-Dakar 1980 itu, melonjak sampai 150 persen.
Sayangnya, mimpi Piot tak pernah terwujud. Pada November 1980, tak sampai setahun sejak dia membawa tim Piaggio mencatatkan sejarah di Reli Paris-Dakar, Piot meninggal dunia dalam sebuah balap reli di Maroko. Mobil Land Rover yang dikendarainya masuk ke dalam jurang di Pegunungan Atlas dan Piot tewas seketika.
Meski Piaggio dan Vespa tak pernah lagi berlaga di ajang Reli Dakar dan Piot telah meninggal dunia sebelum berdiri di podiumnya, hal yang dilakukan sosok asal Prancis tersebut masih membekas hingga kini. Berulang kali aksi "heroik" pada rider Vespa itu diceritakan lewat berbagai medium dan, rasanya, status sebagai legenda balap sudah bisa disematkan pada nama mendiang Jean-Francois Piot.