Kejadian penghancuran cagar budaya Rumah Radio Bung Tomo di Surabaya terjadi sekitar Mei 2016 lalu, yang disaksikan langsung oleh warga setempat. Siapa saja yang ada di lokasi saat itu?
Kuncarsono Prasetyo, salah satu penerus harapan yang masih tersisa di kalangan pecinta budaya Suroboyo mengatakan bahwa ia melihat bangunan tersebut di pagi hari sekitar jam 07.00 WIB. Kuncar yang sudah lama menjadikan kebiasaan berjalan-jalan ke kawasan Jalan Mawar, mengakui ia tidak pernah melihat bangunan itu ada karena ditutup pagar besi saat itu.
"Di pagi hari 2016 jam 07.00 WIB, saya sedang cari makan dan lihat kok ditutup seng. Saya pikir cuma direnovasi. Akhirnya tak buka, loh kosong," ucap Kuncarsono Prasetyo saat dikonfirmasi oleh CNN Indonesia.
Kuncar adalah salah satu pendakwah harapan yang masih tersisa di kalangan pecinta budaya Suroboyo. Lajang, ia mengatakan bahwa rumah ini awalnya merupakan tempat tinggal seorang pejuang bernama Amin pada tahun 1935. Setelah itu dijadikan sebagai Cagar Budaya Rumah Tinggal Pak Amin dan Radio Bung Tomo pada bulan Mei 2016.
Bangunan ini dikenal sebagai salah satu tempat siaran tokoh pejuang Sutomo atau Bung Tomo untuk membakar semangat perlawanan Arek-arek Suroboyo kepada sekutu selama Pertempuran Surabaya November 1945. Menurut Kuncar, bangunan ini memang sempat digunakan Bung Tomo untuk siaran, tapi hanya sementara.
Kuncarsono Prasetyo, salah satu penerus harapan yang masih tersisa di kalangan pecinta budaya Suroboyo mengatakan bahwa ia melihat bangunan tersebut di pagi hari sekitar jam 07.00 WIB. Kuncar yang sudah lama menjadikan kebiasaan berjalan-jalan ke kawasan Jalan Mawar, mengakui ia tidak pernah melihat bangunan itu ada karena ditutup pagar besi saat itu.
"Di pagi hari 2016 jam 07.00 WIB, saya sedang cari makan dan lihat kok ditutup seng. Saya pikir cuma direnovasi. Akhirnya tak buka, loh kosong," ucap Kuncarsono Prasetyo saat dikonfirmasi oleh CNN Indonesia.
Kuncar adalah salah satu pendakwah harapan yang masih tersisa di kalangan pecinta budaya Suroboyo. Lajang, ia mengatakan bahwa rumah ini awalnya merupakan tempat tinggal seorang pejuang bernama Amin pada tahun 1935. Setelah itu dijadikan sebagai Cagar Budaya Rumah Tinggal Pak Amin dan Radio Bung Tomo pada bulan Mei 2016.
Bangunan ini dikenal sebagai salah satu tempat siaran tokoh pejuang Sutomo atau Bung Tomo untuk membakar semangat perlawanan Arek-arek Suroboyo kepada sekutu selama Pertempuran Surabaya November 1945. Menurut Kuncar, bangunan ini memang sempat digunakan Bung Tomo untuk siaran, tapi hanya sementara.