"PU Mulai Bangun Jembatan Permanen Gantikan Darurat, Tapi Kekhawatiran Ada"
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mulai mengarahkan pembangunan jembatan permanen di wilayah terdampak bencana Sumatra sebagai gantinya darurat. Jembatan sementara yang dibangun untuk kepentingan tanggap darurat dan pengiriman logistik sering dilalui kendaraan bermuatan berlebih.
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, menyampaikan bahwa jembatan fungsional yang maksimum hanya bisa dilalui 10 sampai 20 ton. Namun, di lapangan, truk dengan muatan hingga 40 ton sering melintasi jembatan tersebut.
"Dengan jembatan-jembatan fungsional yang maksimum hanya bisa dilalui 10 sampai 20 ton, kami sering dikomplain. Pak, tim Bapak juga sering komplain ke kami, kapan ini dibuat permanennya," kata Dody dalam rapat Satgas di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat.
Dody mengaku telah berulang kali mengimbau agar kendaraan yang melintas tidak melebihi batas muatan. Namun, pengawasan pada malam hari sulit dilakukan, sementara kebutuhan distribusi logistik seperti BBM, LPG, dan beras tetap berjalan.
"Ada beberapa jembatan fungsional yang hari ini sudah mulai progres mengarah ke tahapan permanen, Pak. Karena mengejar itu tadi, takut kalau saya diamkan kemudian itu ambruk gitu, nanti yang dihujat saya juga ujung-ujungnya," ujarnya.
Pembangunan jembatan permanen membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga delapan bulan. Selama masa tersebut, jembatan fungsional akan terus dipantau dan diperkuat secara berkala.
"Jadi, nah, sementara waktu kami mengerjakan secara permanen, karena butuh waktu sekitar 7 sampai 8 bulan, Pak, jembatan-jembatan fungsional ini secara Berkala, secara dua mingguan kita cek, Pak, strukturnya. Dan biasanya tiap dua minggu itu pasti kita harus lakukan perkuatan," imbuhnya.
Seluruh jalan nasional di wilayah terdampak bencana telah berfungsi 100 persen. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan kelancaran distribusi logistik.
"Dan alhamdulillah, terakhir itu di 30 Desember, Pak, 30 Desember 2025, semua jalan nasional itu bisa fungsional, Pak. Memang, memang yang kita kejar hari ini, kemarin itu adalah fungsionalnya dulu, Pak. Agar logistik itu bisa lancar," kata Dody.
Namun, satu ruas jalan nasional di Sumatera Utara, yakni Tarutung–Sibolga, masih dalam tahap penanganan agar dapat digunakan secara sementara.
"Itu memang sekarang sudah sebetulnya masih tanggap darurat, tapi khusus PU agak susah, Pak, membedakan antara apa, timing tanggap darurat dengan rehab-rekon," jelasnya.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mulai mengarahkan pembangunan jembatan permanen di wilayah terdampak bencana Sumatra sebagai gantinya darurat. Jembatan sementara yang dibangun untuk kepentingan tanggap darurat dan pengiriman logistik sering dilalui kendaraan bermuatan berlebih.
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, menyampaikan bahwa jembatan fungsional yang maksimum hanya bisa dilalui 10 sampai 20 ton. Namun, di lapangan, truk dengan muatan hingga 40 ton sering melintasi jembatan tersebut.
"Dengan jembatan-jembatan fungsional yang maksimum hanya bisa dilalui 10 sampai 20 ton, kami sering dikomplain. Pak, tim Bapak juga sering komplain ke kami, kapan ini dibuat permanennya," kata Dody dalam rapat Satgas di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat.
Dody mengaku telah berulang kali mengimbau agar kendaraan yang melintas tidak melebihi batas muatan. Namun, pengawasan pada malam hari sulit dilakukan, sementara kebutuhan distribusi logistik seperti BBM, LPG, dan beras tetap berjalan.
"Ada beberapa jembatan fungsional yang hari ini sudah mulai progres mengarah ke tahapan permanen, Pak. Karena mengejar itu tadi, takut kalau saya diamkan kemudian itu ambruk gitu, nanti yang dihujat saya juga ujung-ujungnya," ujarnya.
Pembangunan jembatan permanen membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga delapan bulan. Selama masa tersebut, jembatan fungsional akan terus dipantau dan diperkuat secara berkala.
"Jadi, nah, sementara waktu kami mengerjakan secara permanen, karena butuh waktu sekitar 7 sampai 8 bulan, Pak, jembatan-jembatan fungsional ini secara Berkala, secara dua mingguan kita cek, Pak, strukturnya. Dan biasanya tiap dua minggu itu pasti kita harus lakukan perkuatan," imbuhnya.
Seluruh jalan nasional di wilayah terdampak bencana telah berfungsi 100 persen. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan kelancaran distribusi logistik.
"Dan alhamdulillah, terakhir itu di 30 Desember, Pak, 30 Desember 2025, semua jalan nasional itu bisa fungsional, Pak. Memang, memang yang kita kejar hari ini, kemarin itu adalah fungsionalnya dulu, Pak. Agar logistik itu bisa lancar," kata Dody.
Namun, satu ruas jalan nasional di Sumatera Utara, yakni Tarutung–Sibolga, masih dalam tahap penanganan agar dapat digunakan secara sementara.
"Itu memang sekarang sudah sebetulnya masih tanggap darurat, tapi khusus PU agak susah, Pak, membedakan antara apa, timing tanggap darurat dengan rehab-rekon," jelasnya.