Tragedi anak di NTT, bukan sekadar masalah kemiskinan. Dua tahun lalu, seekor anak SD berusia 10 tahun di Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal karena hingga kini belum ditemukan penyebabnya. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengatakan bahwa kejadian ini bukan hanya berhubungan dengan kemiskinan, melainkan juga akumulasi beban psikologis yang dipendam sendiri oleh korban.
Bahkan, ada hambatan budaya yang membuat anak laki-laki sulit mengekspresikan perasaan mereka. Konstruksi sosial yang menuntut laki-laki untuk selalu kuat dinilai menjadi penghalang bagi korban untuk mencari pertolongan. Meskipun isu ekonomi mengenai ketidakmampuan membeli alat tulis mencuat sebagai pemicu, Arifah melihat adanya faktor yang lebih kompleks.
Anak laki-laki di Indonesia sering kali tumbuh dalam lingkungan yang tidak memberikan ruang untuk berbagi kesedihan. "Analisa sementara bahwa si anak ini tidak punya tempat untuk bercerita apa yang sebetulnya sedang dirasakan," ujar Arifah Fauzi saat ditemui di Masjid Istiqlal, Jakarta.
Menteri tersebut menambahkan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi lintas kedinasan untuk memberikan penanganan khusus bagi keluarga yang ditinggalkan, termasuk nenek, ibu, dan dua saudara korban. Beberapa langkah yang sedang dijalankan antara lain melakukan pendampingan psikologis kepada nenek dan ibu korban.
Selain itu, pihaknya memastikan agar dua kakak korban yang berusia 14 dan 17 tahun tetap mendapatkan hak pendidikan melalui koordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial. Meskipun pihaknya sudah mendapatkan analisa awal terkait motif utama di balik kejadian tersebut, KemenPPPA masih terus melakukan pendalaman.
Pihaknya tidak ingin terburu-buru menyimpulkan bahwa faktor ekonomi adalah satu-satunya pemicu. "Kami sedang mencoba bersama berbagai dinas yang ada memberikan dampingan. Nanti kalau sudah ada analisa yang lebih kuat, kita akan sampaikan kembali," titur Arifah.
Bahkan, ada hambatan budaya yang membuat anak laki-laki sulit mengekspresikan perasaan mereka. Konstruksi sosial yang menuntut laki-laki untuk selalu kuat dinilai menjadi penghalang bagi korban untuk mencari pertolongan. Meskipun isu ekonomi mengenai ketidakmampuan membeli alat tulis mencuat sebagai pemicu, Arifah melihat adanya faktor yang lebih kompleks.
Anak laki-laki di Indonesia sering kali tumbuh dalam lingkungan yang tidak memberikan ruang untuk berbagi kesedihan. "Analisa sementara bahwa si anak ini tidak punya tempat untuk bercerita apa yang sebetulnya sedang dirasakan," ujar Arifah Fauzi saat ditemui di Masjid Istiqlal, Jakarta.
Menteri tersebut menambahkan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi lintas kedinasan untuk memberikan penanganan khusus bagi keluarga yang ditinggalkan, termasuk nenek, ibu, dan dua saudara korban. Beberapa langkah yang sedang dijalankan antara lain melakukan pendampingan psikologis kepada nenek dan ibu korban.
Selain itu, pihaknya memastikan agar dua kakak korban yang berusia 14 dan 17 tahun tetap mendapatkan hak pendidikan melalui koordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial. Meskipun pihaknya sudah mendapatkan analisa awal terkait motif utama di balik kejadian tersebut, KemenPPPA masih terus melakukan pendalaman.
Pihaknya tidak ingin terburu-buru menyimpulkan bahwa faktor ekonomi adalah satu-satunya pemicu. "Kami sedang mencoba bersama berbagai dinas yang ada memberikan dampingan. Nanti kalau sudah ada analisa yang lebih kuat, kita akan sampaikan kembali," titur Arifah.