Kapal induk Amerika Serikat yang diklaim sebagai milik China terlibat dalam latihan tembak di Laut China Selatan
Amerika Serikat telah mengumbar tembakan kapal induknya, USS Abraham Lincoln, di perairan yang diklaim sebagai milik China di Laut China Selatan. Latihan ini berlangsung beberapa hari lalu dan kemudian dipublikasikan oleh Layanan Distribusi Informasi Visual Pertahanan.
Menurut keterangan resmi, latihan tersebut merupakan operasi rutin kapal induk Abraham Lincoln yang ditugaskan ke Armada ke-7 AS untuk melakukan patroli Indo-Pasifik secara teratur. Kapal ini bersama-sama dengan beberapa unit lain dari Angkatan Laut AS akan melakukan misi untuk mencegah agresi, memperkuat aliansi dan kemitraan serta meningkatkan perdamaian melalui kekuatan.
Namun, serangan tembak kapal induk tersebut dikatakan sebagai tanggapan dari latihan tembak China di Laut China Selatan yang dilaksanakan sebelumnya. China menyebut manuver itu sebagai "Misi Keadilan 2025" dan menyangkal klaim Amerika Serikat.
Sementara itu, Kapten Dan Keeler, komandan Abraham Lincoln, mengatakan bahwa awak kapalnya sangat senang kembali ke wilayah dunia ini dan berharap dapat menunjukkan kemampuan kapal induk dalam pertempuran. "Para pelaut kami bersemangat untuk belajar dari budaya baru dan memperkuat kemitraan di seluruh wilayah selama penugasan kami," kata dia.
Namun, ada perbedaan pendapat antara Amerika Serikat dengan China dalam menafsirkan latihan militer tersebut. Amerika Serikat melihatnya sebagai operasi rutin, sedangkan China memandangnya sebagai tindakan provokatif dari AS terhadap kekuasaannya di Laut China Selatan.
Amerika Serikat telah mengumbar tembakan kapal induknya, USS Abraham Lincoln, di perairan yang diklaim sebagai milik China di Laut China Selatan. Latihan ini berlangsung beberapa hari lalu dan kemudian dipublikasikan oleh Layanan Distribusi Informasi Visual Pertahanan.
Menurut keterangan resmi, latihan tersebut merupakan operasi rutin kapal induk Abraham Lincoln yang ditugaskan ke Armada ke-7 AS untuk melakukan patroli Indo-Pasifik secara teratur. Kapal ini bersama-sama dengan beberapa unit lain dari Angkatan Laut AS akan melakukan misi untuk mencegah agresi, memperkuat aliansi dan kemitraan serta meningkatkan perdamaian melalui kekuatan.
Namun, serangan tembak kapal induk tersebut dikatakan sebagai tanggapan dari latihan tembak China di Laut China Selatan yang dilaksanakan sebelumnya. China menyebut manuver itu sebagai "Misi Keadilan 2025" dan menyangkal klaim Amerika Serikat.
Sementara itu, Kapten Dan Keeler, komandan Abraham Lincoln, mengatakan bahwa awak kapalnya sangat senang kembali ke wilayah dunia ini dan berharap dapat menunjukkan kemampuan kapal induk dalam pertempuran. "Para pelaut kami bersemangat untuk belajar dari budaya baru dan memperkuat kemitraan di seluruh wilayah selama penugasan kami," kata dia.
Namun, ada perbedaan pendapat antara Amerika Serikat dengan China dalam menafsirkan latihan militer tersebut. Amerika Serikat melihatnya sebagai operasi rutin, sedangkan China memandangnya sebagai tindakan provokatif dari AS terhadap kekuasaannya di Laut China Selatan.