AS Mengerahkan Kapal Induk Bertenaga Nuklir ke Wilayah Sengketa LCS, Trump Mau Apa Lagi?
Kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln, yang dipimpin oleh Komandan Gugus Tempur Kapal Induk Todd Whalen, telah tiba di Laut China Selatan (LCS) untuk melakukan patroli rutin. Operasi ini dilakukan di tengah ketegangan antara AS dan China atas klaim maritim LCS.
USS Abraham Lincoln membawa armada jet tempur siluman F-35C yang dirancang khusus untuk operasi kapal induk, serta pesawat serangan elektronik EA-18G Growler. Kapal ini juga dilengkapi dengan kapal perusak yang menunjukkan komitmen AS terhadap kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.
Namun, fokus pada USS Abraham Lincoln di wilayah LCS masih menjadi tanda tanya. Terdapat spekulasi mengenai kemungkinan dialahkannya kapal induk ini ke Timur Tengah dalam waktu dekat. Hal ini menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang mengisyaratkan kemungkinan intervensi di Iran jika Teheran terus melakukan kekerasan terhadap para pengunjuk rasa.
Pengerahan kapal induk AS di LCS sejalan dengan strategi keamanan nasional Washington, yang menyerukan pembangunan kapabilitas militer untuk menolak agresi di mana pun di dalam "Rantai Pulau Pertama". Pihak Gedung Putih menganggap penguasaan LCS oleh kekuatan pesaing sebagai tantangan keamanan serius karena dapat memicu sistem tol ilegal atau penutupan jalur secara sepihak.
Kementerian Luar Negeri China belum memberikan komentar resmi terkait kehadiran kapal induk tersebut. Namun, pengerahan ini dipastikan akan menambah daftar panjang gesekan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia tersebut di wilayah Pasifik Barat, terutama terkait kedaulatan maritim dan kebebasan navigasi internasional.
Maka, apa yang membuat AS mengerahkan kapal induk bertenaga nuklir ke wilayah LCS? Apakah ini hanya operasi rutin atau ada tujuan lain? Jawabannya masih menjadi tanda tanya di tengah ketegangan antara AS dan China.
Kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln, yang dipimpin oleh Komandan Gugus Tempur Kapal Induk Todd Whalen, telah tiba di Laut China Selatan (LCS) untuk melakukan patroli rutin. Operasi ini dilakukan di tengah ketegangan antara AS dan China atas klaim maritim LCS.
USS Abraham Lincoln membawa armada jet tempur siluman F-35C yang dirancang khusus untuk operasi kapal induk, serta pesawat serangan elektronik EA-18G Growler. Kapal ini juga dilengkapi dengan kapal perusak yang menunjukkan komitmen AS terhadap kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.
Namun, fokus pada USS Abraham Lincoln di wilayah LCS masih menjadi tanda tanya. Terdapat spekulasi mengenai kemungkinan dialahkannya kapal induk ini ke Timur Tengah dalam waktu dekat. Hal ini menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang mengisyaratkan kemungkinan intervensi di Iran jika Teheran terus melakukan kekerasan terhadap para pengunjuk rasa.
Pengerahan kapal induk AS di LCS sejalan dengan strategi keamanan nasional Washington, yang menyerukan pembangunan kapabilitas militer untuk menolak agresi di mana pun di dalam "Rantai Pulau Pertama". Pihak Gedung Putih menganggap penguasaan LCS oleh kekuatan pesaing sebagai tantangan keamanan serius karena dapat memicu sistem tol ilegal atau penutupan jalur secara sepihak.
Kementerian Luar Negeri China belum memberikan komentar resmi terkait kehadiran kapal induk tersebut. Namun, pengerahan ini dipastikan akan menambah daftar panjang gesekan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia tersebut di wilayah Pasifik Barat, terutama terkait kedaulatan maritim dan kebebasan navigasi internasional.
Maka, apa yang membuat AS mengerahkan kapal induk bertenaga nuklir ke wilayah LCS? Apakah ini hanya operasi rutin atau ada tujuan lain? Jawabannya masih menjadi tanda tanya di tengah ketegangan antara AS dan China.