AS Tiba di Timur Tengah dengan Armada Besar, Iran Siap Balas Serangan
Gugus tempur Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln tiba di perairan Timur Tengah dalam pengerahan yang dilakukan di tengah ancaman Washington melakukan intervensi militer ke Iran. Lokasi tepatnya tidak diketahui, namun Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa gugus tempur ini telah berada di dekat wilayah Iran.
Trump juga mengatakan bahwa armada besar AS lebih besar dari pasukan operasi Venezuela dan menekankan bahwa Washington memiliki tujuan untuk "mengakhiri rezim" Ayatollah Ali Khamenei. Namun, situasi ini menjadi serba menentu karena publik Iran memang menentang kepemimpinan ulama yang berkuasa sejak 1979, namun mereka juga menolak perubahan rezim melalui pemaksaan pihak luar.
Iran telah bersumpah akan menyerang balik pangkalan-pangkalan militer AS jika Trump memilih untuk melaksanakan intervensi militer. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Iran tak segan-segan untuk "melawan dengan semua yang kami punya" jika AS menyerang.
Selain itu, Iran juga terus melakukan kontra-narasi terhadap pernyataan-pernyataan Washington dan telah mengantisipasi serangan rudal dari AS dan Israel. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyebut bahwa Iran "dengan cermat memantau setiap pergerakan" AS di kawasan Teluk dan akan memberikan respons yang komprehensif dan patut disesalkan kepada setiap agresi.
Gugus tempur Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln tiba di perairan Timur Tengah dalam pengerahan yang dilakukan di tengah ancaman Washington melakukan intervensi militer ke Iran. Lokasi tepatnya tidak diketahui, namun Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa gugus tempur ini telah berada di dekat wilayah Iran.
Trump juga mengatakan bahwa armada besar AS lebih besar dari pasukan operasi Venezuela dan menekankan bahwa Washington memiliki tujuan untuk "mengakhiri rezim" Ayatollah Ali Khamenei. Namun, situasi ini menjadi serba menentu karena publik Iran memang menentang kepemimpinan ulama yang berkuasa sejak 1979, namun mereka juga menolak perubahan rezim melalui pemaksaan pihak luar.
Iran telah bersumpah akan menyerang balik pangkalan-pangkalan militer AS jika Trump memilih untuk melaksanakan intervensi militer. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Iran tak segan-segan untuk "melawan dengan semua yang kami punya" jika AS menyerang.
Selain itu, Iran juga terus melakukan kontra-narasi terhadap pernyataan-pernyataan Washington dan telah mengantisipasi serangan rudal dari AS dan Israel. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyebut bahwa Iran "dengan cermat memantau setiap pergerakan" AS di kawasan Teluk dan akan memberikan respons yang komprehensif dan patut disesalkan kepada setiap agresi.