Penggerebekan kantor X (sebelumnya Twitter) di Prancis semakin mengejutkan. Setelah digerebek pihak kepolisian setempat, hal ini justru memicu kemarahan global. Apakah penggerebekan ini terkait dengan dokumen Epstein Files yang menyebut sang pendiri Elon Musk?
Sangat tidak ada hubungannya. Penyelidikan itu dilakukan pihak kepolisian bersama kejaksaan Prancis, dan targetnya adalah kantor X yang mengembangkan chatbot Grok. Chatbot ini diduga telah melanggar hukum dan terlibat dalam penyebaran gambar pelecehan seksual terhadap anak dan konten pornografi deepfake.
Penggerebekan itu justru merupakan bagian dari penyelidikan dugaan pelanggaran hukum terkait pengembangan chatbot Grok. Penyelidikan itu diawali setelah seorang anggota parlemen Prancis membuat laporan tentang dugaan bahwa algoritma X diprogram secara bias, sehingga memungkinkan distorsi fungsi sistem pemrosesan data otomatis.
Penyelidikan itu kemudian diperluas setelah terjadinya fenomena penyebarluasan konten deepfake non-konsensual bernuansa seksual via Grok dan X pada Januari. Selain itu, Kejaksaan Paris juga menyatakan tengah menyelidiki dugaan bahwa Grok telah membuat pernyataan berisi penyangkalan atas tragedi Holocaust — sebuah tindakan yang dikategorikan sebagai kejahatan di Prancis.
Elon Musk menanggapi penggerebekan itu dengan sinis. Ia menyebut penggerebekan kantor X bernuansa politis, bukan serangan sebenarnya. Sementara itu, pernyataan resmi X juga mengecam penggerebeckan tersebut. X menyebut "Kantor Kejaksaan Paris jelas berupaya untuk menekan manajemen senior X di Amerika Serikat".
Sangat tidak ada hubungannya. Penyelidikan itu dilakukan pihak kepolisian bersama kejaksaan Prancis, dan targetnya adalah kantor X yang mengembangkan chatbot Grok. Chatbot ini diduga telah melanggar hukum dan terlibat dalam penyebaran gambar pelecehan seksual terhadap anak dan konten pornografi deepfake.
Penggerebekan itu justru merupakan bagian dari penyelidikan dugaan pelanggaran hukum terkait pengembangan chatbot Grok. Penyelidikan itu diawali setelah seorang anggota parlemen Prancis membuat laporan tentang dugaan bahwa algoritma X diprogram secara bias, sehingga memungkinkan distorsi fungsi sistem pemrosesan data otomatis.
Penyelidikan itu kemudian diperluas setelah terjadinya fenomena penyebarluasan konten deepfake non-konsensual bernuansa seksual via Grok dan X pada Januari. Selain itu, Kejaksaan Paris juga menyatakan tengah menyelidiki dugaan bahwa Grok telah membuat pernyataan berisi penyangkalan atas tragedi Holocaust — sebuah tindakan yang dikategorikan sebagai kejahatan di Prancis.
Elon Musk menanggapi penggerebekan itu dengan sinis. Ia menyebut penggerebekan kantor X bernuansa politis, bukan serangan sebenarnya. Sementara itu, pernyataan resmi X juga mengecam penggerebeckan tersebut. X menyebut "Kantor Kejaksaan Paris jelas berupaya untuk menekan manajemen senior X di Amerika Serikat".