Banjir Bandang di Jembatan Lubuk Sidup, Akses Desa Aras Sembilan Terputus
Desa Aras Sembilan yang terletak di Kabupaten Aceh Tamiang menghadapi kesulitan menemui keluarganya setelah jembatan baja mengalami kerusakan parah akibat banjir bandang pada Rabu, 26 November lalu. Hingga saat ini, warga tidak memiliki alternatif lain selain menggunakan perahu kayu untuk menyeberangi sungai yang menghubungkan desanya dengan Desa Lubuk Sidup.
Yuni, seorang warga Desa Aras Sembilan, menyatakan bahwa jembatan itu benar-benar terputus dan tidak ada lagi alternatif lain. Meski demikian, ia tidak meremehkan rasa ingin tahu tentang perjalanan menyeberangi sungai yang berlangsung tak sampai lima menit dengan harga Rp 10 ribu.
"Warga sekitar memanfaatkan keadaan ini untuk mencari rezeki. Meski begitu, saya tidak mempersoalkan harus merogoh kocek demi sampai ke tujuannya di pusat Kabupaten Aceh Tamiang," kata Yuni sambil menunjuk ke seberang sungai.
Jembatan Lubuk Sidup yang memiliki panjang 200-250 meter menghubungkan Desa Lubuk Sidup dengan Desa Aras Sembilan dan merupakan salah satu infrastruktur vital di Aceh Tamiang. Banjir bandang itu menyebabkan akses antara sejumlah desa terputus, sehingga warga sulit untuk menjangkau ke dua desa lainnya.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono memerlukan laporan dari Datok Penghulu Lubuk Sidup Ibrahim tentang akses antara sejumlah desa yang terputus akibat hancurnya jembatan itu. Menurutnya, kerusakan jembatan tersebut tidak hanya menyebabkan kesulitan menemui keluarga, tetapi juga mengganggu pendistribusian bantuan pascabencana banjir seperti kebutuhan pokok, bahan bakar minyak, dan air bersih.
Desa Aras Sembilan yang terletak di Kabupaten Aceh Tamiang menghadapi kesulitan menemui keluarganya setelah jembatan baja mengalami kerusakan parah akibat banjir bandang pada Rabu, 26 November lalu. Hingga saat ini, warga tidak memiliki alternatif lain selain menggunakan perahu kayu untuk menyeberangi sungai yang menghubungkan desanya dengan Desa Lubuk Sidup.
Yuni, seorang warga Desa Aras Sembilan, menyatakan bahwa jembatan itu benar-benar terputus dan tidak ada lagi alternatif lain. Meski demikian, ia tidak meremehkan rasa ingin tahu tentang perjalanan menyeberangi sungai yang berlangsung tak sampai lima menit dengan harga Rp 10 ribu.
"Warga sekitar memanfaatkan keadaan ini untuk mencari rezeki. Meski begitu, saya tidak mempersoalkan harus merogoh kocek demi sampai ke tujuannya di pusat Kabupaten Aceh Tamiang," kata Yuni sambil menunjuk ke seberang sungai.
Jembatan Lubuk Sidup yang memiliki panjang 200-250 meter menghubungkan Desa Lubuk Sidup dengan Desa Aras Sembilan dan merupakan salah satu infrastruktur vital di Aceh Tamiang. Banjir bandang itu menyebabkan akses antara sejumlah desa terputus, sehingga warga sulit untuk menjangkau ke dua desa lainnya.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono memerlukan laporan dari Datok Penghulu Lubuk Sidup Ibrahim tentang akses antara sejumlah desa yang terputus akibat hancurnya jembatan itu. Menurutnya, kerusakan jembatan tersebut tidak hanya menyebabkan kesulitan menemui keluarga, tetapi juga mengganggu pendistribusian bantuan pascabencana banjir seperti kebutuhan pokok, bahan bakar minyak, dan air bersih.