Di bandara, ada 'tukang parkir' pesawat yang selalu siap menolong. Mereka dikenal sebagai marshaller atau 'tukang parkir' pesawat, namun tidak semua orang menyadari bahwa mereka memerlukan kecepatan dan ketepatan tinggi dalam menolong. Profesi ini termasuk risiko tinggi karena satu kesalahan bisa menyebabkan tabrakan yang berat.
Marshallers harus siap menghadapi situasi darurat, sehingga mereka membutuhkan kemampuan khusus dalam memberikan arahan kepada pilot. Meskipun demikian, untuk menjadi marshaller tidak memerlukan gelar akademik tinggi. Serta, setelah lulus SMA, dapat langsung mengambil sertifikasi dari lembaga yang terakreditas.
Sertifikat utama di Indonesia dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara atau lembaga pelatihan penerbangan yang terakreditasi. Gaji marshaller bisa bervariasi mulai dari Rp 7 juta hingga Rp 15 juta per bulan, tergantung pada level senior dan bandara tempat mereka bekerja.
Menariknya lagi, gaji ini bisa dipengaruhi oleh bandara dan perusahaan ground handling yang menerbitkannya. Apalagi, marshaller tidak membutuhkan gelar akademik tinggi untuk mulai menolong "burung besi" di landasan pacu udara.
Marshallers harus siap menghadapi situasi darurat, sehingga mereka membutuhkan kemampuan khusus dalam memberikan arahan kepada pilot. Meskipun demikian, untuk menjadi marshaller tidak memerlukan gelar akademik tinggi. Serta, setelah lulus SMA, dapat langsung mengambil sertifikasi dari lembaga yang terakreditas.
Sertifikat utama di Indonesia dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara atau lembaga pelatihan penerbangan yang terakreditasi. Gaji marshaller bisa bervariasi mulai dari Rp 7 juta hingga Rp 15 juta per bulan, tergantung pada level senior dan bandara tempat mereka bekerja.
Menariknya lagi, gaji ini bisa dipengaruhi oleh bandara dan perusahaan ground handling yang menerbitkannya. Apalagi, marshaller tidak membutuhkan gelar akademik tinggi untuk mulai menolong "burung besi" di landasan pacu udara.