Berikut adalah pernyataan dari Dr Irwan Heriyanto, dokter umum lulusan Universitas Indonesia tentang tips menjaga daya tahan tubuh saat berpuasa di musim hujan:
Pernahkah Anda berhanga pada perubahan cuaca yang tidak menentu? Sekarang, Ramadan bertepatan dengan musim hujan. Musim ini memerlukan kesiapan fisik ekstra untuk menjalankan ibadah puasa. Dokter Irwan Heriyanto merekomendasikan Anda untuk memperhatikan asupan mikronutrien guna menjaga daya tahan tubuh, terutama karena Ramadan tahun ini diprediksi bertepatan dengan musim hujan.
Kombinasi antara Vitamin C dan Zinc merupakan kunci utama dalam memperkuat imunitas selama berpuasa. Keduanya dinilai cukup untuk membantu tubuh menangkal infeksi dan penyakit yang mengintai di tengah cuaca lembap. Namun, penting untuk tidak mengatakan bahwa Vitamin C dan Zinc dapat melindungi dari setiap penyakit.
Selain itu, suhu lingkungan yang lebih dingin sebenarnya memberikan keuntungan tersendiri bagi orang yang berpuasa. Suhu lingkungan yang sejuk dapat menekan penguapan cairan tubuh, sehingga risiko dehidrasi dapat diminimalisir. Kondisi hidrasi yang terjaga ini juga berdampak positif pada pencegahan gangguan kesehatan umum saat puasa.
Lalu, apa itu momentum Ramadan? Momentum ini bukan sekadar kewajiban agama, melainkan waktu bagi sel-sel tubuh untuk melakukan proses pembersihan diri atau self cleaning dari racun yang mengendap selama 12 bulan terakhir. Namun, agar proses "pembersihan" ini berjalan optimal, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam memilih menu berbuka, terutama terkait konsumsi gula.
Gula berlebih, baik dari makanan manis maupun nasi, dapat memicu peradangan, lonjakan gula darah, hingga masalah kulit seperti jerawat. Oleh karena itu, penting untuk mengatur pola pikir (mindset) dalam mengonsumsi makanan manis saat berbuka. Anda perlu mencipta kepuasan dari rasa manis sifatnya sangat sementara dan hanya terasa di indera perasa.
Jadi, jangan terlalu berlebihan dengan konsumsi gula, asalkan tetap dalam porsi yang wajar. Sebagai penutup, Dr Irwan Heriyanto mempersilakan masyarakat untuk mencicipi hidangan manis sebagai pelengkap, dan ingatlah bahwa segala sesuatu yang dikonsumsi secara berlebihan justru akan berdampak buruk bagi kesehatan jangka panjang.
Pernahkah Anda berhanga pada perubahan cuaca yang tidak menentu? Sekarang, Ramadan bertepatan dengan musim hujan. Musim ini memerlukan kesiapan fisik ekstra untuk menjalankan ibadah puasa. Dokter Irwan Heriyanto merekomendasikan Anda untuk memperhatikan asupan mikronutrien guna menjaga daya tahan tubuh, terutama karena Ramadan tahun ini diprediksi bertepatan dengan musim hujan.
Kombinasi antara Vitamin C dan Zinc merupakan kunci utama dalam memperkuat imunitas selama berpuasa. Keduanya dinilai cukup untuk membantu tubuh menangkal infeksi dan penyakit yang mengintai di tengah cuaca lembap. Namun, penting untuk tidak mengatakan bahwa Vitamin C dan Zinc dapat melindungi dari setiap penyakit.
Selain itu, suhu lingkungan yang lebih dingin sebenarnya memberikan keuntungan tersendiri bagi orang yang berpuasa. Suhu lingkungan yang sejuk dapat menekan penguapan cairan tubuh, sehingga risiko dehidrasi dapat diminimalisir. Kondisi hidrasi yang terjaga ini juga berdampak positif pada pencegahan gangguan kesehatan umum saat puasa.
Lalu, apa itu momentum Ramadan? Momentum ini bukan sekadar kewajiban agama, melainkan waktu bagi sel-sel tubuh untuk melakukan proses pembersihan diri atau self cleaning dari racun yang mengendap selama 12 bulan terakhir. Namun, agar proses "pembersihan" ini berjalan optimal, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam memilih menu berbuka, terutama terkait konsumsi gula.
Gula berlebih, baik dari makanan manis maupun nasi, dapat memicu peradangan, lonjakan gula darah, hingga masalah kulit seperti jerawat. Oleh karena itu, penting untuk mengatur pola pikir (mindset) dalam mengonsumsi makanan manis saat berbuka. Anda perlu mencipta kepuasan dari rasa manis sifatnya sangat sementara dan hanya terasa di indera perasa.
Jadi, jangan terlalu berlebihan dengan konsumsi gula, asalkan tetap dalam porsi yang wajar. Sebagai penutup, Dr Irwan Heriyanto mempersilakan masyarakat untuk mencicipi hidangan manis sebagai pelengkap, dan ingatlah bahwa segala sesuatu yang dikonsumsi secara berlebihan justru akan berdampak buruk bagi kesehatan jangka panjang.