Bergelimang harta dan banyak pengikut, para influencer ternama di media sosial tidak selalu mendapatkan kekayaan yang seharusnya. Menurut laporan Wall Street Journal, kreator konten itu sudah makin sesak dan memunculkan persaingan sengit untuk mendapat cuan.
Misalnya Clint Brantley, kreator konten full-time sejak 2021. Dia membagikan konten ke TikTok, YouTube, dan Twitch, dengan kebanyakan kontennya seputar tren yang berkaitan dengan game mobile Fortnite. Meski memiliki lebih dari 400.000 follower dengan rata-rata view pada kontennya lebih dari 100.000, penghasilannya pada tahun lalu lebih kecil daripada gaji median tahunan pekerja full-time di AS pada 2023 sebesar US$ 58.084 atau Rp 950 jutaan.
Brantley tidak siap berkomitmen untuk menyewa apartemen karena penghasilannya yang tak tetap. Saat ini, dia masih tinggal dengan ibunya di Washington dan mengaku sangat rentan. "Saya sangat rentan," ujarnya, dikutip dari The Wall Street Journal, Rabu (19/6/2024).
Platform media sosial pun kabarnya sudah tidak seroyal dulu memberikan komisi ke para kreator konten. Para brand kawakan juga lebih pilih-pilih untuk bekerja sama dengan influencer. Menurut laporan Goldman Sachs pada 2023, ratusan juta orang di seluruh dunia mem-posting konten yang menghibur dan mengedukasi di media sosial. Sekitar 50 juta orang mengumpulkan uang dari sana.
Namun, makin banyak yang mencari rezeki dari industri ini, makin kecil pula 'kue' yang harus dibagi-bagi. Menurut NeoReach, pada tahun lalu 48% influencer mengumpulkan kurang dari US$ 15.000 atau Rp 245 jutaan. Hanya 14% yang mengumpulkan uang lebih dari US$ 100.000 atau Rp 1,6 miliar.
Ketimpangan pemasukan influencer ini ditentukan beberapa faktor, seperti apakah influencer bekerja secara full-time atau part-time, tipe konten yang dibagikan, hingga durasi mereka berkarir sebagai influencer. Beberapa orang yang terkenal saat pandemi Covid-19 dan fokus pada topik yang populer seperti fesyen, investasi, dan hack gaya hidup, mengaku sangat terbantu karena momentumnya pas.
Tapi, di balik itu semua, kreator konten mengaku pekerjaan ini sangat menguras energi dan mental. Mereka harus selalu memikirkan konten apa yang akan disukai audiens dan mengambil momentum yang tepat. "Ini adalah pekerjaan yang sangat berat dibandingkan apa yang dikira kebanyakan orang," kata analis Emarketer, Jasmine Enberg.
Merak tak mendapatkan jaminan kesehatan, uang pensiun, serta bonus tahunan. Di tengah inflasi dan ketidakpastian ekonomi, influencer menghadapi tekanan yang kian sulit untuk mengamankan keuangan mereka.
Misalnya Clint Brantley, kreator konten full-time sejak 2021. Dia membagikan konten ke TikTok, YouTube, dan Twitch, dengan kebanyakan kontennya seputar tren yang berkaitan dengan game mobile Fortnite. Meski memiliki lebih dari 400.000 follower dengan rata-rata view pada kontennya lebih dari 100.000, penghasilannya pada tahun lalu lebih kecil daripada gaji median tahunan pekerja full-time di AS pada 2023 sebesar US$ 58.084 atau Rp 950 jutaan.
Brantley tidak siap berkomitmen untuk menyewa apartemen karena penghasilannya yang tak tetap. Saat ini, dia masih tinggal dengan ibunya di Washington dan mengaku sangat rentan. "Saya sangat rentan," ujarnya, dikutip dari The Wall Street Journal, Rabu (19/6/2024).
Platform media sosial pun kabarnya sudah tidak seroyal dulu memberikan komisi ke para kreator konten. Para brand kawakan juga lebih pilih-pilih untuk bekerja sama dengan influencer. Menurut laporan Goldman Sachs pada 2023, ratusan juta orang di seluruh dunia mem-posting konten yang menghibur dan mengedukasi di media sosial. Sekitar 50 juta orang mengumpulkan uang dari sana.
Namun, makin banyak yang mencari rezeki dari industri ini, makin kecil pula 'kue' yang harus dibagi-bagi. Menurut NeoReach, pada tahun lalu 48% influencer mengumpulkan kurang dari US$ 15.000 atau Rp 245 jutaan. Hanya 14% yang mengumpulkan uang lebih dari US$ 100.000 atau Rp 1,6 miliar.
Ketimpangan pemasukan influencer ini ditentukan beberapa faktor, seperti apakah influencer bekerja secara full-time atau part-time, tipe konten yang dibagikan, hingga durasi mereka berkarir sebagai influencer. Beberapa orang yang terkenal saat pandemi Covid-19 dan fokus pada topik yang populer seperti fesyen, investasi, dan hack gaya hidup, mengaku sangat terbantu karena momentumnya pas.
Tapi, di balik itu semua, kreator konten mengaku pekerjaan ini sangat menguras energi dan mental. Mereka harus selalu memikirkan konten apa yang akan disukai audiens dan mengambil momentum yang tepat. "Ini adalah pekerjaan yang sangat berat dibandingkan apa yang dikira kebanyakan orang," kata analis Emarketer, Jasmine Enberg.
Merak tak mendapatkan jaminan kesehatan, uang pensiun, serta bonus tahunan. Di tengah inflasi dan ketidakpastian ekonomi, influencer menghadapi tekanan yang kian sulit untuk mengamankan keuangan mereka.