Pertumbuhan Dolar AS Mengalami Perubahan, Rupiah Merasa Lebih Menarik
Dalam perdagangan Kamis (22/1/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak dalam arah positif. Rupiah menutup dengan lebih kuat dibandingkan penutupan sebelumnya, yaitu Rp16.896 per dolar AS, naik 40 poin atau 0,24 persen.
Sumber informasi mengatakan bahwa sentimen geopolitik menjadi faktor utama dalam pelemahan indeks dolar AS. Pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait isu tarif dan geopolitik juga dipicu. Ia menarik ancaman penerapan tarif terhadap negara-negara Eropa serta menyampaikan bahwa penggunaan kekuatan militer terkait isu Greenland tidak akan dilakukan.
Dalam laporan tertentu, Trump dinyatakan telah menahan diri untuk tidak menyebutkan tarif maupun tindakan militer atas Greenland. Pernyataan ini dianggap meredakan ketegangan pasar global dan mendorong pelemahan dolar AS.
Sementara itu, Menteri Keuangan Jerman Lars Klingbeil mengingatkan agar pasar tidak terlalu cepat bereuforia. Penarikan ancaman tarif dinilai belum sepenuhnya menghilangkan risiko meningkatnya kembali ketegangan antara AS dan Uni Eropa.
Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati rilis sejumlah data ekonomi AS. Selain itu, pemerintah juga mendapat kesempatan untuk menekan praktik under invoicing impor dan ekspor yang membebani penerimaan negara.
Dalam perdagangan Kamis (22/1/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak dalam arah positif. Rupiah menutup dengan lebih kuat dibandingkan penutupan sebelumnya, yaitu Rp16.896 per dolar AS, naik 40 poin atau 0,24 persen.
Sumber informasi mengatakan bahwa sentimen geopolitik menjadi faktor utama dalam pelemahan indeks dolar AS. Pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait isu tarif dan geopolitik juga dipicu. Ia menarik ancaman penerapan tarif terhadap negara-negara Eropa serta menyampaikan bahwa penggunaan kekuatan militer terkait isu Greenland tidak akan dilakukan.
Dalam laporan tertentu, Trump dinyatakan telah menahan diri untuk tidak menyebutkan tarif maupun tindakan militer atas Greenland. Pernyataan ini dianggap meredakan ketegangan pasar global dan mendorong pelemahan dolar AS.
Sementara itu, Menteri Keuangan Jerman Lars Klingbeil mengingatkan agar pasar tidak terlalu cepat bereuforia. Penarikan ancaman tarif dinilai belum sepenuhnya menghilangkan risiko meningkatnya kembali ketegangan antara AS dan Uni Eropa.
Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati rilis sejumlah data ekonomi AS. Selain itu, pemerintah juga mendapat kesempatan untuk menekan praktik under invoicing impor dan ekspor yang membebani penerimaan negara.