ILO mendukung pertumbuhan UMKM melalui digitalisasi, tujuannya adalah membangun ekosistem keuangan yang lebih inklusif bagi UMKM di rantai nilai. Proyek ini dilaksanakan bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Otoritas Jasa Keuangan.
Proyek tersebut difokuskan di tiga lokasi dengan sektor yang berbeda-beda, seperti sapi perah di Jawa Barat, minyak nilam di Aceh, dan rumput laut di Sumba Timur. ILO melakukan intervensi pada UMKM yang sudah memiliki pasar dan menghasilkan transaksi bisnis, kemudian melakukan digitalisasi proses bisnis tersebut.
Contohnya adalah bisnis sapi perah, di mana proses bisnis mulai dari penyetoran susu, pembayaran cicilan, hingga transaksi penjualan dapat dilakukan secara digital. Hingga saat ini sudah ada 2.054 peternak sapi perah yang usahanya terintegrasi dalam sistem ERP.
Selain UMKM, ILO juga mendorong transformasi digital lembaga keuangan seperti Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembangunan Daerah. OJK melihat bahwa digitalisasi lewat penggunaan ERP dapat mempermudah UMKM mengakses pembiayaan karena tidak memiliki aset sebagai jaminan.
Sementara itu, sebagian besar UMKM tidak memiliki riwayat kredit, sehingga bank enggan menyalurkan Kredit Usaha Rakyat. OJK memiliki model bisnis bernama Pemeringkatan Kredit Alternatif (PKA), yang memberikan profil masyarakat menggunakan data alternatif. Harmonisasi antara ERP dan PKA dapat mendorong transisi dari pemberian pinjaman berbasis aset menjadi berbasis informasi, sehingga UMKM akan lebih mudah mendapatkan pembiayaan.
Proyek tersebut difokuskan di tiga lokasi dengan sektor yang berbeda-beda, seperti sapi perah di Jawa Barat, minyak nilam di Aceh, dan rumput laut di Sumba Timur. ILO melakukan intervensi pada UMKM yang sudah memiliki pasar dan menghasilkan transaksi bisnis, kemudian melakukan digitalisasi proses bisnis tersebut.
Contohnya adalah bisnis sapi perah, di mana proses bisnis mulai dari penyetoran susu, pembayaran cicilan, hingga transaksi penjualan dapat dilakukan secara digital. Hingga saat ini sudah ada 2.054 peternak sapi perah yang usahanya terintegrasi dalam sistem ERP.
Selain UMKM, ILO juga mendorong transformasi digital lembaga keuangan seperti Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembangunan Daerah. OJK melihat bahwa digitalisasi lewat penggunaan ERP dapat mempermudah UMKM mengakses pembiayaan karena tidak memiliki aset sebagai jaminan.
Sementara itu, sebagian besar UMKM tidak memiliki riwayat kredit, sehingga bank enggan menyalurkan Kredit Usaha Rakyat. OJK memiliki model bisnis bernama Pemeringkatan Kredit Alternatif (PKA), yang memberikan profil masyarakat menggunakan data alternatif. Harmonisasi antara ERP dan PKA dapat mendorong transisi dari pemberian pinjaman berbasis aset menjadi berbasis informasi, sehingga UMKM akan lebih mudah mendapatkan pembiayaan.