Pasar keuangan Indonesia menghadapi pekan berat, IHSG terluka, rupiah menangkap peluang. Sejak awal perdagangan hari ini, pasar saham sedang menunggu sinyal dari The Fed dan aksi konglo berikutnya.
Bursa saham AS pun tidak seirama dengan pekan lalu, karena keputusan suku bunga The Fed dan pergerakan dolar AS yang meningkat. Rupiah berhasil menguat hingga menghadapi penutupan terkuat dalam dua pekan terakhir.
Sementara itu, pasar valuta asing menikmati peluang untuk tumbuh setelah rupiah menangkap peluangnya. Dalam perdagangan terakhirnya Jumat (23/1/2026), nilai tukar rupiah menguat 0,41% ke level Rp16.810/US$, menjadi penutupan terkuat sejak 9 Januari 2026 atau dalam dua pekan terakhir.
Sebelumnya, pasar saham diharapkan mampu menguat pada perdagangan awal pekan ini. Namun, IHSG harus menghadapi tekanan besar dan mengalami penurunan hingga turun 0,46% atau 41,17 poin ke level 8.951,01.
Dalam perdagangan terakhirnya Jumat (23/1/2026), nilai tukar rupiah mampu menguat disaat kondisi dolar AS justru tengah mengalami penguatan di pasar global. Hal ini tercerminkan dari pergerakan DXY, indeks yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia yang tengah mengalami kenaikan.
Pengaruh penguatan dolar AS ini sudah terlihat sejak awal perdagangan. Rupiah dibuka di level Rp16.800/US$, setara menguat sekitar 0,47%, lalu bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan di rentang Rp16.800-Rp16.848/US$.
Bursa saham AS pun tidak seirama dengan pekan lalu, karena keputusan suku bunga The Fed dan pergerakan dolar AS yang meningkat. Rupiah berhasil menguat hingga menghadapi penutupan terkuat dalam dua pekan terakhir.
Sementara itu, pasar valuta asing menikmati peluang untuk tumbuh setelah rupiah menangkap peluangnya. Dalam perdagangan terakhirnya Jumat (23/1/2026), nilai tukar rupiah menguat 0,41% ke level Rp16.810/US$, menjadi penutupan terkuat sejak 9 Januari 2026 atau dalam dua pekan terakhir.
Sebelumnya, pasar saham diharapkan mampu menguat pada perdagangan awal pekan ini. Namun, IHSG harus menghadapi tekanan besar dan mengalami penurunan hingga turun 0,46% atau 41,17 poin ke level 8.951,01.
Dalam perdagangan terakhirnya Jumat (23/1/2026), nilai tukar rupiah mampu menguat disaat kondisi dolar AS justru tengah mengalami penguatan di pasar global. Hal ini tercerminkan dari pergerakan DXY, indeks yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia yang tengah mengalami kenaikan.
Pengaruh penguatan dolar AS ini sudah terlihat sejak awal perdagangan. Rupiah dibuka di level Rp16.800/US$, setara menguat sekitar 0,47%, lalu bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan di rentang Rp16.800-Rp16.848/US$.