"Bankir Indonesia Jika Dilihat Secara Psikologis, Rahasia Koreksi IHSG Tidak Ada. Mereka Bilang: Kami Tetap Fokus, Jangan Terpengaruh!"
Koreksi IHSG dalam dua hari terakhir ini, yang dipicu oleh pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada hari Rabu lalu, membuat banyak orang bingung bagaimana bank-bank di Indonesia memihak koreksi ini. Apakah mereka benar-benar tidak terpengaruh oleh penurunan nilai IHSG? Ataukah mereka hanya ingin memberikan penampilan yang baik di depan umum?
Mengulas lebih lanjut, direktur Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) Ganda Raharja Rusli mengatakan bahwa saham bank digital itu ikut terseret pelemahan IHSG, namun bukan karena fundamental perusahaan. Terlebih, pihaknya juga telah melaksanakan pembelian kembali atau buyback saham sejak pertengahan tahun 2025.
Sementara itu, direktur utama PT Bank KB Indonesia Tbk (BBKP) Kunardy Darma Lie mengatakan bahwa fokus KB Bank saat ini adalah menjaga likuiditas, kualitas aset, serta pengelolaan risiko secara prudent. Bahkan, mereka masih memantau dinamika pasar dan berkoordinasi dengan regulator guna memastikan stabilitas kinerja tetap terjaga.
Meskipun demikian, bank-bank di Indonesia harus dinyatakan tidak terpengaruh oleh koreksi IHSG. Mereka bilang bahwa pergerakan saham berada di luar kendali manajemen dan tidak berdampak langsung pada kegiatan usaha, permodalan, maupun likuiditas bank.
Misalnya, direktur kepatuhan Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) Efdinal Alamsyah mengatakan bahwa pergerakan saham DNAR merupakan mekanisme pasar yang berada di luar kendali operasional bank dan tidak berdampak langsung pada kegiatan usaha. Oleh karena itu, mereka harus tetap fokus pada pengelolaan risiko dan menjaga stabilitas kinerja.
Sementara itu, direktur risk management PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) Setiyo Wibowo mengatakan bahwa fundamental kinerja perusahaan menjadi sisi penting dalam kondisi ini. Bahkan, mereka harus melihat sifat dari aksi penjualan massif yang terjadi di pasar saham.
Dengan demikian, bank-bank di Indonesia harus dinyatakan tidak terpengaruh oleh koreksi IHSG. Mereka harus tetap fokus pada pengelolaan risiko dan menjaga stabilitas kinerja, serta melihat sifat dari pergerakan saham di pasar saham.
Namun, salah satu pertanyaan yang masih ada adalah: apa lagi yang membuat bank-bank di Indonesia tidak terpengaruh oleh koreksi IHSG? Apakah mereka benar-benar tidak memiliki pengelolaan risiko yang efektif? Ataukah mereka hanya ingin memberikan penampilan yang baik di depan umum?
Tentu saja masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Namun, satu hal pasti: bank-bank di Indonesia harus tetap fokus pada pengelolaan risiko dan menjaga stabilitas kinerja dalam kondisi ini.
Koreksi IHSG dalam dua hari terakhir ini, yang dipicu oleh pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada hari Rabu lalu, membuat banyak orang bingung bagaimana bank-bank di Indonesia memihak koreksi ini. Apakah mereka benar-benar tidak terpengaruh oleh penurunan nilai IHSG? Ataukah mereka hanya ingin memberikan penampilan yang baik di depan umum?
Mengulas lebih lanjut, direktur Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) Ganda Raharja Rusli mengatakan bahwa saham bank digital itu ikut terseret pelemahan IHSG, namun bukan karena fundamental perusahaan. Terlebih, pihaknya juga telah melaksanakan pembelian kembali atau buyback saham sejak pertengahan tahun 2025.
Sementara itu, direktur utama PT Bank KB Indonesia Tbk (BBKP) Kunardy Darma Lie mengatakan bahwa fokus KB Bank saat ini adalah menjaga likuiditas, kualitas aset, serta pengelolaan risiko secara prudent. Bahkan, mereka masih memantau dinamika pasar dan berkoordinasi dengan regulator guna memastikan stabilitas kinerja tetap terjaga.
Meskipun demikian, bank-bank di Indonesia harus dinyatakan tidak terpengaruh oleh koreksi IHSG. Mereka bilang bahwa pergerakan saham berada di luar kendali manajemen dan tidak berdampak langsung pada kegiatan usaha, permodalan, maupun likuiditas bank.
Misalnya, direktur kepatuhan Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) Efdinal Alamsyah mengatakan bahwa pergerakan saham DNAR merupakan mekanisme pasar yang berada di luar kendali operasional bank dan tidak berdampak langsung pada kegiatan usaha. Oleh karena itu, mereka harus tetap fokus pada pengelolaan risiko dan menjaga stabilitas kinerja.
Sementara itu, direktur risk management PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) Setiyo Wibowo mengatakan bahwa fundamental kinerja perusahaan menjadi sisi penting dalam kondisi ini. Bahkan, mereka harus melihat sifat dari aksi penjualan massif yang terjadi di pasar saham.
Dengan demikian, bank-bank di Indonesia harus dinyatakan tidak terpengaruh oleh koreksi IHSG. Mereka harus tetap fokus pada pengelolaan risiko dan menjaga stabilitas kinerja, serta melihat sifat dari pergerakan saham di pasar saham.
Namun, salah satu pertanyaan yang masih ada adalah: apa lagi yang membuat bank-bank di Indonesia tidak terpengaruh oleh koreksi IHSG? Apakah mereka benar-benar tidak memiliki pengelolaan risiko yang efektif? Ataukah mereka hanya ingin memberikan penampilan yang baik di depan umum?
Tentu saja masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Namun, satu hal pasti: bank-bank di Indonesia harus tetap fokus pada pengelolaan risiko dan menjaga stabilitas kinerja dalam kondisi ini.