Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang kelas XII SMA dan sederajat telah dirilis. Hasil tersebut secara umum menunjukkan capaian nilai mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris yang dianggap terlalu rendah.
Rata-rata nilai gabungan dari seluruh sekolah negeri dan swasta yang mengikuti TKA 2025 adalah 55,38 untuk Bahasa Indonesia, 36,10 untuk Matematika, dan 24,93 untuk Bahasa Inggris. Ini menunjukkan bahwa siswa masih belum memahami dengan baik teks dan logika dasar.
Sementara itu, hasil TKA 2025 juga menunjukkan capaian cukup baik pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, dengan lebih dari 80 persen siswa berada di kategori baik dan istimewa. Sebaliknya, skor Matematika dan Bahasa Inggris didominasi capaian rendah.
Hasil TKA per provinsi juga menunjukkan bahwa ada ketimpangan antara Pulau Jawa dan Luar Pulau Jawa. Indikator ini menunjukkan bahwa anak-anak di Pulau Jawa relatif mendapatkan pelayanan pendidikan yang lebih baik daripada yang luar Jawa.
Menurut para narasumber, kualitas guru dan pengajaran adalah aspek penting yang harus diperbaiki. Mereka juga menekankan bahwa infrastruktur pendidikan dan fasilitas sekolah perlu diperbaiki agar siswa dapat menerima pembelajaran yang lebih baik.
Selain itu, para narasumber juga menegaskan pentingnya peningkatan anggaran pendidikan. Mereka berharap pemerintah dapat memprioritaskan alokasi anggaran pendidikan untuk membiayai program peningkatan mutu dan perbaikan hasil belajar dan capaian akademik para siswa.
Dengan demikian, kegagalan TKA 2025 bukanlah satu-satunya masalah yang harus dihadapi. Namun, ini dapat menjadi awal dari upaya pemerataan mutu pendidikan di Indonesia.
Rata-rata nilai gabungan dari seluruh sekolah negeri dan swasta yang mengikuti TKA 2025 adalah 55,38 untuk Bahasa Indonesia, 36,10 untuk Matematika, dan 24,93 untuk Bahasa Inggris. Ini menunjukkan bahwa siswa masih belum memahami dengan baik teks dan logika dasar.
Sementara itu, hasil TKA 2025 juga menunjukkan capaian cukup baik pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, dengan lebih dari 80 persen siswa berada di kategori baik dan istimewa. Sebaliknya, skor Matematika dan Bahasa Inggris didominasi capaian rendah.
Hasil TKA per provinsi juga menunjukkan bahwa ada ketimpangan antara Pulau Jawa dan Luar Pulau Jawa. Indikator ini menunjukkan bahwa anak-anak di Pulau Jawa relatif mendapatkan pelayanan pendidikan yang lebih baik daripada yang luar Jawa.
Menurut para narasumber, kualitas guru dan pengajaran adalah aspek penting yang harus diperbaiki. Mereka juga menekankan bahwa infrastruktur pendidikan dan fasilitas sekolah perlu diperbaiki agar siswa dapat menerima pembelajaran yang lebih baik.
Selain itu, para narasumber juga menegaskan pentingnya peningkatan anggaran pendidikan. Mereka berharap pemerintah dapat memprioritaskan alokasi anggaran pendidikan untuk membiayai program peningkatan mutu dan perbaikan hasil belajar dan capaian akademik para siswa.
Dengan demikian, kegagalan TKA 2025 bukanlah satu-satunya masalah yang harus dihadapi. Namun, ini dapat menjadi awal dari upaya pemerataan mutu pendidikan di Indonesia.