Hari pertama penerapan program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2026, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana meninjau pelaksanaannya di SDN 01 Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara. Program MBG ini dilaksanakan serentak pertama kali pada periode 2026 dengan total penerima manfaat sebanyak 55,1 juta orang.
Dalam peninjauannya, Dadan memberikan saouvenir berupa tas dengan isi topi, alat tulis, dan botol minum kepada murid-murid. Dia juga menstimulus para murid untuk menghabiskan sayur dengan memberi uang Rp50 ribu. "Saya seringkali kalau berkunjung ingin melihat seberapa besar anak yang suka sayur, jadi kita kasih reward lah bukan bagi-bagi, tapi bagi mereka yang suka sayur dan ingin termotivasi untuk mengkonsumsi sayur kita beri reward lah," ungkap Dadan.
Pemenuhan gizi ini disesuaikan dengan kebutuhan tiap anak, termasuk pengecualian karena alergi dan pantangannya. Sejumlah anak yang tidak bisa mengkonsumsi telur akan dialihkan ke protein lain, bahkan apabila ada kebiasaan tak memakan nasi juga dialihkan ke karbohidrat lainnya.
Pihak BGN menargetkan zero accident di seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam satu tahun ini. Hal ini ditargetkan sebagai evaluasi dari adanya 250 kejadian sepanjang 2025. Kepala Badan Pasca Bencana Nasional (Bappenas), Rachmat Pambudy, mengapresiasi pelaksanaan MBG setelah satu tahun. Dia mengakui bahwa program ini adalah kerja berat yang perlu pengawasan setiap jamnya.
"Kualitas dari rantai pasok di mana gizi itu harus dicukupi dari bahan baku yang ada di sekitar wilayah SPPG dan wilayah dapur yang ada dan dipastikan dimasak dengan baik dan juga dipastikan juga dikirim juga dengan baik dan pada saat dimakan oleh anak-anak juga itu harus sampai pada makanan yang bergizi, makanan yang standar gizinya terjaga," tutur dia.
Dalam peninjauannya, Dadan memberikan saouvenir berupa tas dengan isi topi, alat tulis, dan botol minum kepada murid-murid. Dia juga menstimulus para murid untuk menghabiskan sayur dengan memberi uang Rp50 ribu. "Saya seringkali kalau berkunjung ingin melihat seberapa besar anak yang suka sayur, jadi kita kasih reward lah bukan bagi-bagi, tapi bagi mereka yang suka sayur dan ingin termotivasi untuk mengkonsumsi sayur kita beri reward lah," ungkap Dadan.
Pemenuhan gizi ini disesuaikan dengan kebutuhan tiap anak, termasuk pengecualian karena alergi dan pantangannya. Sejumlah anak yang tidak bisa mengkonsumsi telur akan dialihkan ke protein lain, bahkan apabila ada kebiasaan tak memakan nasi juga dialihkan ke karbohidrat lainnya.
Pihak BGN menargetkan zero accident di seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam satu tahun ini. Hal ini ditargetkan sebagai evaluasi dari adanya 250 kejadian sepanjang 2025. Kepala Badan Pasca Bencana Nasional (Bappenas), Rachmat Pambudy, mengapresiasi pelaksanaan MBG setelah satu tahun. Dia mengakui bahwa program ini adalah kerja berat yang perlu pengawasan setiap jamnya.
"Kualitas dari rantai pasok di mana gizi itu harus dicukupi dari bahan baku yang ada di sekitar wilayah SPPG dan wilayah dapur yang ada dan dipastikan dimasak dengan baik dan juga dipastikan juga dikirim juga dengan baik dan pada saat dimakan oleh anak-anak juga itu harus sampai pada makanan yang bergizi, makanan yang standar gizinya terjaga," tutur dia.