Harga Emas Dunia Terus Melonjak, Jika Dolar AS Kembali Turun
Kamis, 29 Januari 2026 - Harga emas dunia semakin menggila dan kian sulit dibendung. Logam mulia ini melampaui level Rp 91,8 juta per ons, bahkan meleset 7,92 persen atau 402,92 poin hingga Kamis pagi pukul 06.56 WIB.
Harga emas global mencapai US$5.487,88 per ons, memanfaatkan ketegangan geopolitik global dan pelemahan dolar AS. Dolar AS turun 1,5 persen terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, membuat investor kembali bergantung pada emas sebagai aset safe haven.
Tidak hanya itu, harga emas juga dipengaruhi oleh permintaan kuat bank sentral dunia yang secara agresif menambang emas sejak tahun 2022. Banyak negara Barat membekukan cadangan devisa Rusia menyusul invasi ke Ukraina dan meningkatkan kepemilikan emas untuk mengurangi ketergantungan pada aset berbasis dolar.
Analisis dari Kepala Ekonom Bank Safra Sarasin, Karsten Junius, menyatakan bahwa emas telah mengambil mahkota dari obligasi pemerintah sebagai tujuan utama investor saat risiko meningkat. "Untuk saat ini, tidak ada aset tradisional yang aman, likuid, dan dihargai dalam dolar AS selain emas," katanya.
Pandangan senada disampaikan Analis CitiGroup, Ben Wiltshire. Ia mengatakan bahwa emas telah mengambil alih peran obligasi negara sebagai tujuan utama investor saat risiko meningkat. "Emas telah mengambil mahkota dari obligasi pemerintah sebagai aset refleks ketika investor mencari perlindungan," katanya.
Harga emas global terus melonjak, membuat investor kembali bergantung pada logam mulia ini sebagai aset safe haven.
Kamis, 29 Januari 2026 - Harga emas dunia semakin menggila dan kian sulit dibendung. Logam mulia ini melampaui level Rp 91,8 juta per ons, bahkan meleset 7,92 persen atau 402,92 poin hingga Kamis pagi pukul 06.56 WIB.
Harga emas global mencapai US$5.487,88 per ons, memanfaatkan ketegangan geopolitik global dan pelemahan dolar AS. Dolar AS turun 1,5 persen terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, membuat investor kembali bergantung pada emas sebagai aset safe haven.
Tidak hanya itu, harga emas juga dipengaruhi oleh permintaan kuat bank sentral dunia yang secara agresif menambang emas sejak tahun 2022. Banyak negara Barat membekukan cadangan devisa Rusia menyusul invasi ke Ukraina dan meningkatkan kepemilikan emas untuk mengurangi ketergantungan pada aset berbasis dolar.
Analisis dari Kepala Ekonom Bank Safra Sarasin, Karsten Junius, menyatakan bahwa emas telah mengambil mahkota dari obligasi pemerintah sebagai tujuan utama investor saat risiko meningkat. "Untuk saat ini, tidak ada aset tradisional yang aman, likuid, dan dihargai dalam dolar AS selain emas," katanya.
Pandangan senada disampaikan Analis CitiGroup, Ben Wiltshire. Ia mengatakan bahwa emas telah mengambil alih peran obligasi negara sebagai tujuan utama investor saat risiko meningkat. "Emas telah mengambil mahkota dari obligasi pemerintah sebagai aset refleks ketika investor mencari perlindungan," katanya.
Harga emas global terus melonjak, membuat investor kembali bergantung pada logam mulia ini sebagai aset safe haven.