Bukti Tertinggi dari Operasi Mata-Mata Israel yang Nyaris Menjadi Wakil Menteri Suriah
Jakarta, Sebuah kisah spionase klasik memang sudah sangat mengesankan. Siapa di antara kita yang tidak pernah mendengar tentang Eli Cohen? Nama ini pasti sudah familiar bagi para pecinta sejarah dan intelijen. Cohen adalah agen mata-mata Israel yang nyaris berhasil membangun reputasi sebagai pengusaha kaya dan nasionalis Suriah.
Cohen lahir di Mesir pada tahun 1924, lalu direkrut oleh Mossad pada tahun 1954. Setelah itu, ia dikirim ke Suriah dengan kedok menjadi seorang pengusaha tekstil yang sukses. Cohen memanfaatkan latar belakang fiktif ini untuk mendapatkan kepercayaan dari elite Suriah.
Cohen berhasil masuk ke lingkaran elite militer dan politik di Suriah, bahkan hampir mengantarkannya menjadi Wakil Menteri Pertahanan Suriah. Operasi ini berlangsung lebih dari tiga tahun, dengan Cohen mengirimkan rahasia strategis Suriah langsung ke Israel melalui kode morse.
Namun, nasib Cohen berbalik ketika ia ditangkap oleh militer Suriah pada tahun 1965. Ia dihukum gantung di depan publik dan Jenazahnya tidak pernah dipulangkan ke Israel. Meski sudah dieksekusi, dampak operasi Cohen tetap terasa.
Operasi ini membantu Israel memenangkan Perang Enam Hari pada tahun 1967. "Ia mungkin sosok paling berpengaruh dalam sejarah intelijen Timur Tengah," kata Elie Cohn, pengarang buku "Our Man in Damascus".
Cohen adalah contoh dari bagaimana spionase dapat mempengaruhi dinamika regional. Kisah ini juga menunjukkan betapa pentingnya keamanan dan intelijen dalam menjaga keselamatan negara.
Sementara itu, dampak operasi Cohen tidak hanya terbatas pada Perang Enam Hari. Ia membantu Israel memahami strategi pertahanan Suriah yang lebih baik dan membantu negara ini menghadapi ancaman dari musuh-musuhnya di sekitarnya.
Dalam kesimpulan, kisah Eli Cohen adalah bukti nyata dari bagaimana spionase dapat mempengaruhi keamanan nasional. Ia merupakan contoh yang sangat berharga dalam sejarah intelijen Timur Tengah dan menunjukkan betapa pentingnya spionase dalam menjaga keselamatan negara.
Jakarta, Sebuah kisah spionase klasik memang sudah sangat mengesankan. Siapa di antara kita yang tidak pernah mendengar tentang Eli Cohen? Nama ini pasti sudah familiar bagi para pecinta sejarah dan intelijen. Cohen adalah agen mata-mata Israel yang nyaris berhasil membangun reputasi sebagai pengusaha kaya dan nasionalis Suriah.
Cohen lahir di Mesir pada tahun 1924, lalu direkrut oleh Mossad pada tahun 1954. Setelah itu, ia dikirim ke Suriah dengan kedok menjadi seorang pengusaha tekstil yang sukses. Cohen memanfaatkan latar belakang fiktif ini untuk mendapatkan kepercayaan dari elite Suriah.
Cohen berhasil masuk ke lingkaran elite militer dan politik di Suriah, bahkan hampir mengantarkannya menjadi Wakil Menteri Pertahanan Suriah. Operasi ini berlangsung lebih dari tiga tahun, dengan Cohen mengirimkan rahasia strategis Suriah langsung ke Israel melalui kode morse.
Namun, nasib Cohen berbalik ketika ia ditangkap oleh militer Suriah pada tahun 1965. Ia dihukum gantung di depan publik dan Jenazahnya tidak pernah dipulangkan ke Israel. Meski sudah dieksekusi, dampak operasi Cohen tetap terasa.
Operasi ini membantu Israel memenangkan Perang Enam Hari pada tahun 1967. "Ia mungkin sosok paling berpengaruh dalam sejarah intelijen Timur Tengah," kata Elie Cohn, pengarang buku "Our Man in Damascus".
Cohen adalah contoh dari bagaimana spionase dapat mempengaruhi dinamika regional. Kisah ini juga menunjukkan betapa pentingnya keamanan dan intelijen dalam menjaga keselamatan negara.
Sementara itu, dampak operasi Cohen tidak hanya terbatas pada Perang Enam Hari. Ia membantu Israel memahami strategi pertahanan Suriah yang lebih baik dan membantu negara ini menghadapi ancaman dari musuh-musuhnya di sekitarnya.
Dalam kesimpulan, kisah Eli Cohen adalah bukti nyata dari bagaimana spionase dapat mempengaruhi keamanan nasional. Ia merupakan contoh yang sangat berharga dalam sejarah intelijen Timur Tengah dan menunjukkan betapa pentingnya spionase dalam menjaga keselamatan negara.