Berdasar analisis menggunakan model ekonomi makro dinamis Overlapping Generations-Indonesia (OG-IDN) yang dikembangkan bersama Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB (UNDESA), guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undip, Firmansyah menyatakan bahwa pembentukan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara telah memicu penurunan konsumsi masyarakat dalam jangka pendek.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa penurunan konsumsi terjadi di semua kelompok masyarakat, baik kalangan bawah maupun atas. Namun, perbedaan besar terjadi antara kedua kelompok ini. Kelompok bottom 25 persen (masyarakat kalangan bawah) yang cenderung sensitif likuiditas menahan pengeluaran untuk mendapatkan manfaat pendapatan yang lebih tinggi nantinya, sedangkan kelompok top 1 persen (masyarakat kalangan atas) mengatur pengeluaran mereka untuk menanti keuntungan dari reformasi Danantara.
Firmansyah menjelaskan bahwa penurunan konsumsi ini bukan merupakan kebijakan yang regresif melainkan transisi intertemporal. Dampak distribusi ini bersifat sementara dan tidak mencerminkan kerugian kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang. Ia juga menekankan bahwa Danantara bukan instrumen untuk menstimulus konsumsi maupun ekspansi fiskal, melainkan reformasi dari sisi penawaran yang bekerja.
Berdasarkan analisis tersebut, perlu diperhatikan bahwa penurunan konsumsi jangka pendek ini dapat memiliki dampak pada masyarakat dalam jangka panjang. Oleh karena itu, penting untuk memantau dan mengatur efek dari reformasi seperti ini untuk memastikan bahwa manfaatnya bagi masyarakat tidak hanya sementara tetapi juga berkelanjutan.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa penurunan konsumsi terjadi di semua kelompok masyarakat, baik kalangan bawah maupun atas. Namun, perbedaan besar terjadi antara kedua kelompok ini. Kelompok bottom 25 persen (masyarakat kalangan bawah) yang cenderung sensitif likuiditas menahan pengeluaran untuk mendapatkan manfaat pendapatan yang lebih tinggi nantinya, sedangkan kelompok top 1 persen (masyarakat kalangan atas) mengatur pengeluaran mereka untuk menanti keuntungan dari reformasi Danantara.
Firmansyah menjelaskan bahwa penurunan konsumsi ini bukan merupakan kebijakan yang regresif melainkan transisi intertemporal. Dampak distribusi ini bersifat sementara dan tidak mencerminkan kerugian kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang. Ia juga menekankan bahwa Danantara bukan instrumen untuk menstimulus konsumsi maupun ekspansi fiskal, melainkan reformasi dari sisi penawaran yang bekerja.
Berdasarkan analisis tersebut, perlu diperhatikan bahwa penurunan konsumsi jangka pendek ini dapat memiliki dampak pada masyarakat dalam jangka panjang. Oleh karena itu, penting untuk memantau dan mengatur efek dari reformasi seperti ini untuk memastikan bahwa manfaatnya bagi masyarakat tidak hanya sementara tetapi juga berkelanjutan.