Fatmawati Trophy 2026: Simbol Kekuatan Moral Perempuan
Pada hari ini, Fatmawati Trophy 2026 telah diluncurkan di Rumah Fatmawati Soekarno, Jakarta. Ini bukan sekadar ajang penghargaan atau kompetisi biasa, melainkan inisiatif yang membangun kesadaran sejarah dan memperkuat fondasi ideologis partai dalam memaknai peran perempuan.
Ketua Panitia Nasional Fatmawati Trophy, I Gusti Ayu Bintang Darmawati, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan kebudayaan yang menempatkan perempuan sebagai subjek utama sejarah. "Pada hari ini kita tidak hanya meluncurkan sebuah ajang penghargaan. Kita sedang membangun monumen kesadaran sejarah, ruang refleksi ideologis, dan gerakan kebudayaan nasional yang secara sadar menempatkan perempuan di pusat narasi bangsa," ujar Bintang.
Fatmawati Trophy lahir dari kesadaran atas peran Ibu Bangsa Fatmawati Soekarno sebagai Ibu Negara pertama Republik Indonesia yang memiliki makna historis dan ideologis dalam perjuangan kemerdekaan. Dinamika perjuangan itu membentuk karakter Fatmawati sebagai pribadi tangguh, mandiri, dan memiliki kesadaran kebangsaan sejak usia muda.
Fatmawati bukan sekadar pendamping Presiden Soekarno, tetapi figur yang turut mengukir sejarah republik. Ia menjahit Sang Saka Merah Putih dengan tangannya sendiri di tengah kondisi revolusi dan keterbatasan. Sejarah mencatat: putri sulungnya, Megawati Soekarnoputri, menjadi perempuan pertama dalam sejarah Indonesia yang menjabat Wakil Presiden dan Presiden Republik Indonesia.
Fatmawati Trophy dikemas dalam bentuk kompetisi desain fesyen nasional. PDI Perjuangan memandang fesyen bukan sekadar estetika, melainkan medium simbolik yang merepresentasikan nilai, identitas, dan sikap hidup. Trofi Fatmawati sendiri merupakan hasil kontemplasi Ketua DPP PDI Perjuangan M. Prananda Prabowo yang kemudian diwujudkan secara artistik oleh pemahat nasional Dolorosa Sinaga.
Figur yang dihadirkan menggambarkan sosok perempuan berjubah yang berdiri tegak dalam keheninganโmelambangkan keteguhan moral, kepemimpinan tanpa agresi, dan kekuatan dalam sunyi.
Pada hari ini, Fatmawati Trophy 2026 telah diluncurkan di Rumah Fatmawati Soekarno, Jakarta. Ini bukan sekadar ajang penghargaan atau kompetisi biasa, melainkan inisiatif yang membangun kesadaran sejarah dan memperkuat fondasi ideologis partai dalam memaknai peran perempuan.
Ketua Panitia Nasional Fatmawati Trophy, I Gusti Ayu Bintang Darmawati, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan kebudayaan yang menempatkan perempuan sebagai subjek utama sejarah. "Pada hari ini kita tidak hanya meluncurkan sebuah ajang penghargaan. Kita sedang membangun monumen kesadaran sejarah, ruang refleksi ideologis, dan gerakan kebudayaan nasional yang secara sadar menempatkan perempuan di pusat narasi bangsa," ujar Bintang.
Fatmawati Trophy lahir dari kesadaran atas peran Ibu Bangsa Fatmawati Soekarno sebagai Ibu Negara pertama Republik Indonesia yang memiliki makna historis dan ideologis dalam perjuangan kemerdekaan. Dinamika perjuangan itu membentuk karakter Fatmawati sebagai pribadi tangguh, mandiri, dan memiliki kesadaran kebangsaan sejak usia muda.
Fatmawati bukan sekadar pendamping Presiden Soekarno, tetapi figur yang turut mengukir sejarah republik. Ia menjahit Sang Saka Merah Putih dengan tangannya sendiri di tengah kondisi revolusi dan keterbatasan. Sejarah mencatat: putri sulungnya, Megawati Soekarnoputri, menjadi perempuan pertama dalam sejarah Indonesia yang menjabat Wakil Presiden dan Presiden Republik Indonesia.
Fatmawati Trophy dikemas dalam bentuk kompetisi desain fesyen nasional. PDI Perjuangan memandang fesyen bukan sekadar estetika, melainkan medium simbolik yang merepresentasikan nilai, identitas, dan sikap hidup. Trofi Fatmawati sendiri merupakan hasil kontemplasi Ketua DPP PDI Perjuangan M. Prananda Prabowo yang kemudian diwujudkan secara artistik oleh pemahat nasional Dolorosa Sinaga.
Figur yang dihadirkan menggambarkan sosok perempuan berjubah yang berdiri tegak dalam keheninganโmelambangkan keteguhan moral, kepemimpinan tanpa agresi, dan kekuatan dalam sunyi.