Mengenai kejadian berita yang dilaporkan oleh tirto.id, tercatat di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), seorang anak SD berusia sepuluh tahun bernama YBS mengalami bunuh diri dengan cara menggantungkan dirinya pada pohon cengkeh.
Berdasarkan laporan yang didapatkan dari Kapolda NTT, YBS ditemukan sudah tidak bernyawa saat hari Jumat kemarin. Penyebab yang paling diduga adalah karena kekecewaan dan tekanan ekonomi keluarganya karena kurang mampu membeli buku dan pensil dengan harga kurang dari Rp10.000.
Korban masih berada pada usia yang sangat rentan secara emosional dan psikologis sebagai siswa SD kelas IV. Ia tinggal bersama neneknya karena ibunya harus berjuang menghidupi kelima anaknya, sehingga tidak bisa menemani YBS di rumah.
Peristiwa ini memicu perhatian serius banyak pihak. Polda NTT mengirimkan tim konselor psikologi ke lokasi untuk memberikan pendampingan mental dan psikologis kepada keluarga korban agar mampu menghadapi trauma yang dialami.
Selain itu, kasus ini juga menjadi perhatian dari DPR dan pemerintah pusat. Menko PM Abdul Muhaimin Iskandar menilai bahwa peristiwa ini harus menjadi cambuk bagi negara untuk memastikan perlindungan anak-anak dan hak pendidikannya.
Dalam surat yang ditulis oleh YBS sebelum meninggal, ia meminta ibunya agar merelakan kepergiannya. Surat tersebut bertuliskan: "Surat buat Mama **** Mama saya pergi dulu Mama relakan saya pergi Jangan menangis ya Mama Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau mencari saya".
Kasus ini menjadi peringatan bagi kita semua untuk lebih memahami kebutuhan dan kesulitan yang dialami oleh anak-anak di Indonesia, terutama yang tinggal dalam lingkungan keluarga yang kurang mampu.
Berdasarkan laporan yang didapatkan dari Kapolda NTT, YBS ditemukan sudah tidak bernyawa saat hari Jumat kemarin. Penyebab yang paling diduga adalah karena kekecewaan dan tekanan ekonomi keluarganya karena kurang mampu membeli buku dan pensil dengan harga kurang dari Rp10.000.
Korban masih berada pada usia yang sangat rentan secara emosional dan psikologis sebagai siswa SD kelas IV. Ia tinggal bersama neneknya karena ibunya harus berjuang menghidupi kelima anaknya, sehingga tidak bisa menemani YBS di rumah.
Peristiwa ini memicu perhatian serius banyak pihak. Polda NTT mengirimkan tim konselor psikologi ke lokasi untuk memberikan pendampingan mental dan psikologis kepada keluarga korban agar mampu menghadapi trauma yang dialami.
Selain itu, kasus ini juga menjadi perhatian dari DPR dan pemerintah pusat. Menko PM Abdul Muhaimin Iskandar menilai bahwa peristiwa ini harus menjadi cambuk bagi negara untuk memastikan perlindungan anak-anak dan hak pendidikannya.
Dalam surat yang ditulis oleh YBS sebelum meninggal, ia meminta ibunya agar merelakan kepergiannya. Surat tersebut bertuliskan: "Surat buat Mama **** Mama saya pergi dulu Mama relakan saya pergi Jangan menangis ya Mama Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau mencari saya".
Kasus ini menjadi peringatan bagi kita semua untuk lebih memahami kebutuhan dan kesulitan yang dialami oleh anak-anak di Indonesia, terutama yang tinggal dalam lingkungan keluarga yang kurang mampu.