Evaluasi Nilai TKA Rendah: Perbaiki Fondasi Literasi Siswa

Pertumbuhan Nilai TKA Rendah: Posisi Laju Kualitas Literasi dalam Meningkatkan Fokus dan Pendekatan Guru. Pada awalnya, pihak kepengurusan tes kemampuan akademik yang digelar pada 3-9 November 2025 terpenuhi dengan banyak kesulitan teknis dan polemik yang menghantarkannya. Namun, di akhirnya hasilnya dirilis untuk publik pada 26 Desember 2025 lalu, menyebabkan penambahan kesan capaian nilai rata-rata Bahasa Indonesia 55,38, Matematika 36,10 dan Bahasa Inggris di angka 24,93. Perolehan tersebut mengesahkan hasil survei terkait capaian pendidikan Indonesia yang tercatat oleh asesmen internasional Programme for International Student Assessment (PISA) yang dilakukan oleh OECD (Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi).

Mengacu pada data PISA 2018 dan 2022, performa literasi matematika Indonesia memang berada di bawah rata-rata OECD (472 pada 2022), bahkan stagnan selama 10-15 tahun terakhir. Menurut Koordinator Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, hasil TKA ini membuka tabir kondisi pendidikan di Indonesia, jelas ada beberapa aspek dalam sistem pendidikan Indonesia yang wajib dievaluasi.

Menurut Ubaid, pemerintah tidak boleh hanya fokus pada "memperbaiki nilai" siswa, tapi harus memperbaiki sistem dan itu dimulai dari peningkatan kualitas guru. Peningkatan kualitas guru dan redistribusi guru berkualitas adalah langkah yang sangat penting untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia. Jika tidak, TKA akan hanya menjadi ritual tahunan untuk mempertegas marginalisasi saudara-saudara kita di Timur.

Ubaid juga menekankan bahwa pemerintah harus fokus pada literasi dasar dan mengatur kebijakan anggaran berbasis kebutuhan (asymmetric policy). Daerah dengan nilai TKA rendah harus mendapatkan alokasi anggaran yang lebih besar, bukan malah "dihukum" dengan pemotongan anggaran karena dianggap tidak berprestasi.

Pendidikan dasar kita sangat beragam. Jadi, menyamaratakan standar kelulusan lewat TKA berarti mengabaikan konteks lokal dan keberagaman kecerdasan siswa di berbagai daerah. Kita tidak boleh terjebak lagi pada pola lama yang hanya menghargai kecerdasan akademik sempit "di atas kertas."
 
ini bikin kita sadar kalau pendidikan kita ini benar-benar perlu diperbaiki. tapi kita juga harus sadar bahwa perubahan ini bukanlah hal sederhana, harus banyak pertimbangan dan refleksi yang dilakukan. apalagi saat ini kita dihadapkan dengan masalah kesetaraan pendidikan di Indonesia yang sangat memprihatinkan. seperti apa cara kita bisa membuat pendidikan menjadi lebih setara? bagaimana caranya kita bisa memastikan bahwa setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang? ini bikin kita penasaran tentang konsep kesetaraan itu sendiri, apakah itu bisa dicapai dalam pendidikan? dan apa itu arti dari kesetaraan dalam konteks pendidikan Indonesia.
 
Kurangnya pertumbuhan nilai TKA memang buat kita penasaran, apa lagi dengan hasil TKA ini menunjukkan bahwa perbedaan antara pendidikan di daerah tertinggal dan yang lebih maju itu masih jauh. 55,38 rata-rata Bahasa Indonesia, aja udah makin lama lagi. Siapa tahu asesmen internasional lainnya juga akan memberitahu kita kalau sistem pendidikan kita belum bisa meningkatkan prestasi. Makin jelas banget jika pemerintah fokus pada peningkatan kualitas guru, tapi sekarang masih banyak sekali gurunya yang kurang kompeten.
 
iya aja klo lihat hasil TKA kayak ini, benar-benar membuat kita heran siapa sih yang ngejar nilai ini kayak gila. kalau aku pakai kata sederhana aja, nilainya 55,38? itu banyakin kayaknya, tapi apa sih yang dipikirin di balik data ini? mungkin pemerintah ngerasa udah waktunya untuk "bertanggung jawab" terhadap kondisi pendidikan kita. tapi aq pikir, biar nggak capek ngeliat nilai saja, pemerintah harusnya fokus pada hal-hal lain seperti peningkatan kualitas guru dan distribusi sumber daya yang lebih merata. kayaknya, TKA hanya perlu dijadikan sebagai tools untuk mengevaluasi kondisi pendidikan kita, bukan sebagai tujuan utama.
 
pikir aku ini, kalau kita ingin meningkatkan nilai pendidikan, kita harus mulai dari diri sendiri. nggak bisa ngebawa orang lain, kan? kita harus mengembangkan diri sendiri terlebih dahulu agar kita bisa membantu orang lain. dan itu salah satunya adalah peningkatan kualitas guru. jangan cuma fokus pada nilai siswa, tapi juga fokus pada sistem pendidikan itu sendiri. dan kita harus lebih berhati-hati dalam mengatur kebijakan anggaran agar tidak ada yang "dihukum" karena kurangnya alokasi anggaran. kita harus lebih pintar dalam merancang kebijakan yang bisa membantu semua daerah, bukan hanya beberapa yang lebih baik. dan terakhir, kita harus menghargai keberagaman kecerdasan siswa di setiap daerah. tidak bisa satu sama lain, kan? kita harus saling menghormati dan mendukung.
 
ini penting banget! TKA hasilnya jadi bukti bahwa pendidikan kita masih ada banyak kesulitan. siapa bilang kita sudah bisa? nilai bahasa indonesia 55,38 jadi masih jauh dari ideal. dan siapa yang bilang ini hasil survei pisa 2018 dan 2022 tapi pemerintah gak peduli dengan ini? kita perlu fokus pada kualitas guru dan redistribusi guru berkualitas. kalau tidak, TKA ini hanya ritual tahunan yang nggak membuat perubahan apa pun di pendidikan kita.
 
Makasih banget hasil survei TKA yang serius, tapi kira-kira bagaimana cara ini bisa jadi realistis? Jika pemerintah fokus sekedar memperbaiki nilai siswa saja, itu sama kayak caraku berlari dengan bahan basah. Kualitas guru itu penting banget, tapi aku rasa kita juga harus pertimbangkan akses ke pendidikan yang wajib ada di setiap daerah 😊. Jika pemerintah fokus pada literasi dasar dan mengatur kebijakan anggaran berbasis kebutuhan, itu akan jadi langkah yang sangat masuk akal.
 
Gue pikir pemerintah harus lebih teliti dalam pengelolaan pendidikan kita 🤔. Nilai TKA itu gede banget, tapi siapa tahu apa yang dibawa oleh nilai itu? Apakah benar-benar meningkatkan kualitas pendidikan atau hanya buatan media untuk memamerkan prestasi sekolah-scholah tertinggi. Gue rasa pemerintah harus fokus pada peningkatan kualitas guru dan distribusi pendapatan guru berkualitas, bukan hanya menekankan nilai TKA. Dan juga, kita harus lebih teliti dalam mengatur kebijakan anggaran pendidikan kita, agar semua daerah mendapatkan alokasi yang sama dan tidak ada yang di "dihukum" karena memiliki nilai rendah. Kita harus jujur dengan diri sendiri dan masyarakat tentang kondisi pendidikan kita 🙏
 
Saya pikir nilai TKA ini memang bagus sekali, tapi kalau mau benar-benar meningkatkan pendidikan kita, gak boleh hanya fokus pada peningkatan kualitas guru aja. Kita juga harus pertimbangkan tentang sistem pendidikan kita sendiri, kayak gini ada masalah dengan kebijakan anggaran yang tidak seragam, ada daerah yang dianggap kurang berprestasi tapi masih membutuhkan bantuan sama pemerintah. Dan kenyataannya, TKA ini sendiri juga memiliki beberapa kesalahan teknis dan polemik yang gak enak dilihat. Tapi kalau kita bisa mengatasi masalah itu dan fokus pada peningkatan literasi dasar aja, saya yakin pendidikan kita bisa berubah menjadi lebih baik 😊
 
heya, ternyata nilai TKA tahun ini jadi bahan perdebatan 😂. aku pikir hasilnya bisa dijadikan pelajaran untuk kita semua. tapi apa yang terus bikin masalah adalah sistem pendidikan kita masih belum optimal 🤔. ubaid matraji benar-benar tepat dalam menekankan pentingnya peningkatan kualitas guru dan redistribusi guru berkualitas. kalau tidak, TKA hanya akan jadi ritual tahunan yang membiarkan siswa kita terus marginalisasi 🚫.

saya rasa hal ini juga perlu membawa perhatian kita ke literasi dasar dan pengaturan anggaran yang lebih berbasis kebutuhan. daerah-daerah dengan nilai TKA rendah harus mendapatkan alokasi anggaran yang lebih besar, bukan malah dihukum dengan pemotongan anggaran 🤑. kita tidak boleh lagi terjebak pada pola lama yang hanya menghargai kecerdasan akademik sempit di atas kertas 📚.

nah, mari kita jangan biarkan TKA menjadi hasil yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tapi gunakan sebagai pelajaran untuk meningkatkan pendidikan kita 📈.
 
Gue penasaran sih apa salahnya hasil TKA itu, tapi malah bikin kita pikir "mua" apa aja kalau nilai rendah 😂. Maksudnya, gak usah bingung-bingung, karena sudah ada jawabannya, yaitu sistem pendidikan kita yang belum optimal 🤦‍♂️.

Gue pikir, pemerintah harus fokus pada meningkatkan kualitas guru, bukan hanya memperbaiki nilai siswa. Kalau tidak, TKA itu hanya akan jadi ritual tahunan, dan kita tetap saja di posisi "mengurut-urutan" 🤦‍♂️.

Mungkin kalau kita bikin sistem pendidikan yang lebih beragam, seperti ada standar untuk daerah yang memiliki kondisi sosial dan ekonomi yang berbeda-beda, maka TKA itu tidak akan menjadi masalah 😊. Dan kalau gak mau, kita harus meningkatkan kualitas guru dan distributor guru berkualitas, bukan hanya memotong anggaran 🤑.
 
Maaf ya, aku mau bilang pendapatku tentang ini. TKA hasilnya tidak mengecewakan tapi masih jauh dari optimalisasi. Aku pikir pemerintah harus fokus pada mengembangkan program guru-guru SD yang berkualitas dan memberikan fasilitas-fasilitas yang cukup untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. TKA ini sebenarnya hanya mengekspos permasalahan-permasalahan yang telah ada di dalam sistem pendidikan kita. Jadi, apa yang harus dilakukan adalah memperbaiki aspek-aspek yang rusak bukan mencari solusi di dalam "memperkuat" program ini. 🤔
 
Gak bisa ngerti siapa nanti yang akan dipilih sebagai guru untuk SD kita, tapi hasil TKA ini memang bikin kita penasaran. Kalau nilai Bahasa Indonesia 55,38 itu berarti kita masih banyak yang belum bisa membaca dengan baik 😕. Saya rasa pemerintah harus serius dalam meningkatkan kualitas guru dan sistem pendidikan kita. Jangan cuma fokus pada "memperbaiki nilai" siswa aja, tapi juga harus perhatikan kondisi di lapangan dan bagaimana kita bisa membuat semua lulusan kita bisa berpartisipasi penuh dalam masyarakat 🤝.
 
Gue pikir aspek yang paling penting dari hasil TKA ini adalah perlu ada peningkatan kualitas guru di sekolah-sekolah kita 🤔. Jika tidak, nilai siswa hanya akan meningkat karena tekanan, bukan karena pemahaman yang sebenarnya. Dan itu juga membuat kita lagi terjebak pada pola pendidikan yang hanya menghargai kecerdasan akademik, bukannya kecerdasan sejati... 📚💡
 
Aku rasa hasil TKA ini juga nggak bisa diartikan dari satu sudut aja, bikin kita lihat kondisi pendidikan Indonesia secara keseluruhan. Kita tahu nilai TKA rendah tapi apa yang bikin itu terjadi? Masih punya kerangka dasar yang solid atau tidak? Aku pikir perlu kita refleksi dulu bagaimana sistem pendidikan kita di Indonesia bisa seperti ini 🤔. Ubaid Matraji ya benar, pemerintah harus fokus pada peningkatan kualitas guru dan redistribusi guru berkualitas, bukan hanya menekan nilai TKA siswa. Kita butuh kebijakan yang lebih adil dan mengacu pada kebutuhan masyarakat lokal, tapi apa yang kita lakukan sekarang? 🤷‍♂️
 
ini tapi nih, nilai TKA naik sedikit deh, tapi apa nggak bisa, kita masih jauh dari kesepian kita di dunia pendidikan. 55,38 nggak terlalu badut sih, tapi di bawah rata-rata OECD juga. kayaknya pemerintah harus makin fokus pada kualitas guru, bukan hanya mau memperbaiki nilai siswa aja. kalau gak bergerak, kita jadi malas banget ngganti-nya. dan Ubaid benar, pemerintah harus lebih serius dengan literasi dasar dan asimetrik anggaran. jangan dihukum daerah yang kurang beruntung aja.
 
ini gini, kalau ngeluarin hasil tes kemampuan akademik TKA itu, pake rasa ketidakpercayaan dan sedih ya... siapa yang tidak ingat saat 90an lupa sekolah sambil main game PS1 di rumah? tapi sekarang, anak-anak kita harus belajar siap-siap untuk tes yang akan membuat mereka jemu banget. dan hasilnya apa? nilai rata-rata Bahasa Indonesia 55,38... kayaknya masih jauh dari ideal. dan apa yang pemerintah lakukan? hanya memperbaiki nilai itu, gak peduli apa lagi sih... perlu diubah sistem pendidikan kita, kualitas guru harus ditingkatkan aja... dan tidak boleh fokus pada anggaran saja, tapi juga harus ada kebijakan yang adil banget... tapi, apa pun yang dilakukan, masih banyak sekali tantangan yang harus dihadapi. kayaknya belum ada solusi yang tepat... 🤔
 
ini kayaknya hasil tes TKA gede banget, sih... nilai bahasa indonesia 55,38, itu kayaknya tidak bisa dianggap baik. tapi apa yang bingung, ini tes sama apa? dah lama kita already punya nilai tka sebelumnya, dan giliran ini hasilnya kembali rendah, tapi sih... di akhirnya masih diakui oleh pisa, kayaknya ini bukan tes baru aja, tapi lagi-lagi hasil yang sama. apa yang perlu dilakukan, ini nggak bisa diterima lagi, kayak gitu kita jadi nyanggupan saja, tapi sih... sebenarnya ada koreksi yang di butuhkan dari pemerintah dan lembaga pendidikan, kayaknya lebih penting jika kita fokus pada meningkatkan kualitas guru dan kebijakan anggaran, bukan hanya ngasih nilai yang tinggi.
 
rasanya masih banyak yang harus diperbaiki dalam sistem pendidikan kita 🤯. nilai TKA yang rendah bukan cuma masalah siswa, tapi juga perlu dianalisis dari segi guru dan sistem pendidikan. kalau kita hanya fokus memperbaiki nilai siswa saja, maka apa yang akan terjadi dengan kualitas pendidikan di daerah-daerah yang masihkurang sumber daya? itu bukan solusi yang serius 🤔. perlu ada langkah lebih jauh dalam meningkatkan kualitas guru dan sistem pendidikan kita agar bisa bersaing dengan negara-negara lain 💪.
 
rasanya ini kabar gembira kalau nilai TKA bisa diakui, tapi aku masih paham kenapa nilai itu masih rendah, karena kita semua tahu sistem pendidikan kita masih banyak yang ada masalah. saya ingat lagi kalau tahun lalu aku mengerjakan proyek untuk mengawasi keberlangsungan pembangunan infrastruktur di daerahku, dan salah satu kesalahan utama adalah kurangnya pendidikan dasar di daerah itu, sehingga membuat siswa kita masih banyak yang lemah dalam matematika dan bahasa indonesia. saya pikir pemerintah harus fokus pada peningkatan kualitas guru dan sistem pendidikan, bukan hanya memperbaiki nilai siswa. dan aku juga setuju dengan Ubaid bahwa daerah dengan nilai TKA rendah harus mendapatkan alokasi anggaran yang lebih besar, jangan malah dihukum karena dianggap tidak berprestasi 😊
 
kembali
Top