Black Midi kehilangan salah satu talenta mudanya, Matt Kwasniewski-Kelvin, gitaris band rock eksperimental asal Inggris Black Midi. Ia meninggal dunia pada usia 26 tahun setelah perjuangan panjang melawan kesehatan mentalnya.
Kesedihan ini menyambut kabar duka dalam industri musik yang sudah mengenal kehilangan banyak talenta muda dalam beberapa tahun terakhir. Matt Kwasniewski-Kelvin merupakan bagian penting dari perjalanan Black Midi, salah satu band rock paling banyak dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir.
Kwasniewski-Kelvin pertama kali tertarik pada musik sejak kecil dengan pengaruh pop-punk dan rock klasik. Namun, setelah bertemu dengan vokalis Black Midi, Geordie Greep, arah musikalnya berubah dan ia mulai tertarik pada musik noise dan rock eksperimental.
Dari sana, ia menjadi bagian dari identitas musikal Black Midi yang agresif, progresif, dan sulit dikotakkan. Album debut mereka, Schlagenheim, mendapat sambutan luas dari kritikus dan penggemar serta mengukuhkan posisi Black Midi sebagai band dengan pendekatan musikal yang berani dan tak konvensional.
Namun, di balik pencapaian tersebut, Kwasniewski-Kelvin menghadapi perjuangan pribadi yang berat. Pada 2021, ia memutuskan meninggalkan Black Midi dengan alasan kesehatan mental. Setelah kepergian Kwasniewski-Kelvin, band melanjutkan perjalanan sebagai trio dan merilis dua album studio tambahan sebelum akhirnya bubar pada 2024.
Keluarga Kwasniewski-Kelvin menyatakan bahwa ia akan selalu dicintai dan meminta agar para pria muda dapat menghentikan hal ini terjadi. Pernyataan keluarga tersebut dibagikan di media sosial oleh label rekaman Black Midi, Rough Trade, yang menyebut Kwasniewski-Kelvin sebagai sosok yang sangat berbakat dan akan selalu dirindukan.
Kesedihan ini menyambut kabar duka dalam industri musik yang sudah mengenal kehilangan banyak talenta muda dalam beberapa tahun terakhir. Matt Kwasniewski-Kelvin merupakan bagian penting dari perjalanan Black Midi, salah satu band rock paling banyak dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir.
Kwasniewski-Kelvin pertama kali tertarik pada musik sejak kecil dengan pengaruh pop-punk dan rock klasik. Namun, setelah bertemu dengan vokalis Black Midi, Geordie Greep, arah musikalnya berubah dan ia mulai tertarik pada musik noise dan rock eksperimental.
Dari sana, ia menjadi bagian dari identitas musikal Black Midi yang agresif, progresif, dan sulit dikotakkan. Album debut mereka, Schlagenheim, mendapat sambutan luas dari kritikus dan penggemar serta mengukuhkan posisi Black Midi sebagai band dengan pendekatan musikal yang berani dan tak konvensional.
Namun, di balik pencapaian tersebut, Kwasniewski-Kelvin menghadapi perjuangan pribadi yang berat. Pada 2021, ia memutuskan meninggalkan Black Midi dengan alasan kesehatan mental. Setelah kepergian Kwasniewski-Kelvin, band melanjutkan perjalanan sebagai trio dan merilis dua album studio tambahan sebelum akhirnya bubar pada 2024.
Keluarga Kwasniewski-Kelvin menyatakan bahwa ia akan selalu dicintai dan meminta agar para pria muda dapat menghentikan hal ini terjadi. Pernyataan keluarga tersebut dibagikan di media sosial oleh label rekaman Black Midi, Rough Trade, yang menyebut Kwasniewski-Kelvin sebagai sosok yang sangat berbakat dan akan selalu dirindukan.