Aksi teror yang dilayangkan terhadap aktivis dan influencer, seperti DJ Donny, Sherly Annavita, Virgiawan Aurelio, serta Iqbal Damanik, merupakan bukti kemunduran dalam peradaban politik Indonesia. Meskipun negara ini mengakui bahwa menjadi negara demokrasi, masih adanya ancaman teror yang diberikan kepada masyarakat usai mereka mengemukakan kritik dan pendapatnya atas kebijakan negara.
Dalam analisis ini, aksi teror tersebut bertujuan untuk membungkam para influencer yang mengekspresikan suara rakyat. Menurut Andreas Hugo Pareira, wakil ketua komisi XIII DPR Fraksi PDIP, pemerintah dan aparat keamanan harus hadir dalam melindungi rakyatnya dan mengusut serta menemukan dalang teror tersebut.
"Apa kalau negara tidak bisa menguak dalang pelaku teror? Masyarakat akan asumsikan bahwa pelaku teror adalah aparat keamanan itu sendiri," kata Andreas.
Namun, apa yang terjadi sebenarnya? Sejumlah aktivis dan influencer, seperti DJ Donny, Sherly Annavita, dan Iqbal Damanik, mengalami serangan digital dan fisik dari orang tidak dikenal. Teror tersebut meliputi serangan digital melalui media sosial, pelemparan bom molotov, pengrusakan mobil, pengiriman pesan ancaman pembunuhan, dan kiriman bangkai hewan.
Dalam keterangan yang dirilis oleh para korban, mereka menduga bahwa teror-teror tersebut berkaitan dengan kritik yang mereka lakukan terkait isu bencana banjir dan tanah longsor di Sumatra pada akhir November 2025. Pesan-pesan yang dikirimkan para peneror bernada serupa, yakni ancaman agar tidak lagi bersuara terkait bencana dan membuat konten terkait hal tersebut.
Dengan demikian, teror-teror tersebut merupakan contoh dari bagaimana masyarakat dapat menjadi korban teror usai mengekspresikan pendapatnya atas kebijakan negara. Ini menunjukkan bahwa masih adanya ancaman teror yang diberikan kepada masyarakat Indonesia dalam rangka menjaga kekuasaannya.
Dalam analisis ini, aksi teror tersebut bertujuan untuk membungkam para influencer yang mengekspresikan suara rakyat. Menurut Andreas Hugo Pareira, wakil ketua komisi XIII DPR Fraksi PDIP, pemerintah dan aparat keamanan harus hadir dalam melindungi rakyatnya dan mengusut serta menemukan dalang teror tersebut.
"Apa kalau negara tidak bisa menguak dalang pelaku teror? Masyarakat akan asumsikan bahwa pelaku teror adalah aparat keamanan itu sendiri," kata Andreas.
Namun, apa yang terjadi sebenarnya? Sejumlah aktivis dan influencer, seperti DJ Donny, Sherly Annavita, dan Iqbal Damanik, mengalami serangan digital dan fisik dari orang tidak dikenal. Teror tersebut meliputi serangan digital melalui media sosial, pelemparan bom molotov, pengrusakan mobil, pengiriman pesan ancaman pembunuhan, dan kiriman bangkai hewan.
Dalam keterangan yang dirilis oleh para korban, mereka menduga bahwa teror-teror tersebut berkaitan dengan kritik yang mereka lakukan terkait isu bencana banjir dan tanah longsor di Sumatra pada akhir November 2025. Pesan-pesan yang dikirimkan para peneror bernada serupa, yakni ancaman agar tidak lagi bersuara terkait bencana dan membuat konten terkait hal tersebut.
Dengan demikian, teror-teror tersebut merupakan contoh dari bagaimana masyarakat dapat menjadi korban teror usai mengekspresikan pendapatnya atas kebijakan negara. Ini menunjukkan bahwa masih adanya ancaman teror yang diberikan kepada masyarakat Indonesia dalam rangka menjaga kekuasaannya.