Dolar AS Bangkit di Awal 2026, Setelah Mencatat Penurunan Tahunan Terdalam dalam Delapan Tahun Terakhir.
Minggu lalu, dolar AS berhasil bangkit dari sebagian besar mata uang setelah mengalami tekanan setelah mencatat penurunan tahunan terdalam dalam delapan tahun terakhir. Mata uang AS ini membuka tahun baru dengan catatan positif, naik 0,24 persen ke level 98,48 pada Jumat lalu.
Penurunan tahunan terdalam dolar AS ini didorong oleh beberapa faktor, seperti menyempitnya selisih suku bunga dengan negara-negara lain, kekhawatiran atas kondisi fiskal AS, perang dagang global, serta isu independensi The Fed. Namun, pasar sekarang terlihat lebih bersemangat setelah dolar AS bangkit dari penurunan tersebut.
Saat ini, pasar mengalihkan perhatian ke rangkaian data ekonomi AS pekan depan yang akan ditutup dengan laporan ketenagakerjaan (non-farm payrolls). Data tersebut dipandang krusial untuk mengukur peluang pemangkasan suku bunga lanjutan oleh The Fed.
Direktur Perdagangan Monex USA, Juan Perez, menyatakan bahwa penutupan pemerintahan AS yang berlangsung lama turut memengaruhi kualitas data ekonomi. "Penutupan pemerintah AS sebelumnya belum pernah terjadi selama ini dan berlangsung sangat lama, sehingga memengaruhi cara data dikumpulkan, diinterpretasikan, dan dinilai akurasinya," ujarnya.
Selain itu, investor juga mencermati dinamika politik AS, khususnya rencana Presiden AS Donald Trump menunjuk Ketua The Fed baru. Masa jabatan Jerome Powell akan berakhir pada Mei 2026 dan Trump menyatakan akan mengumumkan penggantinya bulan ini.
Dalam periode ini, pasar memproyeksikan dua kali penurunan suku bunga pada tahun 2026, yang lebih agresif dibandingkan proyeksi internal The Fed. Kita belum akan melihat rapat The Fed hingga akhir bulan, dan saat ini belum ada konsensus.
Dolar AS bangkit di awal 2026 menunjukkan bahwa pasar terlihat lebih bersemangat setelah penurunan dolar AS terdalam dalam delapan tahun terakhir. Namun, masih banyak faktor yang memengaruhi keseimbangan pasar dan pergerakan mata uang.
Minggu lalu, dolar AS berhasil bangkit dari sebagian besar mata uang setelah mengalami tekanan setelah mencatat penurunan tahunan terdalam dalam delapan tahun terakhir. Mata uang AS ini membuka tahun baru dengan catatan positif, naik 0,24 persen ke level 98,48 pada Jumat lalu.
Penurunan tahunan terdalam dolar AS ini didorong oleh beberapa faktor, seperti menyempitnya selisih suku bunga dengan negara-negara lain, kekhawatiran atas kondisi fiskal AS, perang dagang global, serta isu independensi The Fed. Namun, pasar sekarang terlihat lebih bersemangat setelah dolar AS bangkit dari penurunan tersebut.
Saat ini, pasar mengalihkan perhatian ke rangkaian data ekonomi AS pekan depan yang akan ditutup dengan laporan ketenagakerjaan (non-farm payrolls). Data tersebut dipandang krusial untuk mengukur peluang pemangkasan suku bunga lanjutan oleh The Fed.
Direktur Perdagangan Monex USA, Juan Perez, menyatakan bahwa penutupan pemerintahan AS yang berlangsung lama turut memengaruhi kualitas data ekonomi. "Penutupan pemerintah AS sebelumnya belum pernah terjadi selama ini dan berlangsung sangat lama, sehingga memengaruhi cara data dikumpulkan, diinterpretasikan, dan dinilai akurasinya," ujarnya.
Selain itu, investor juga mencermati dinamika politik AS, khususnya rencana Presiden AS Donald Trump menunjuk Ketua The Fed baru. Masa jabatan Jerome Powell akan berakhir pada Mei 2026 dan Trump menyatakan akan mengumumkan penggantinya bulan ini.
Dalam periode ini, pasar memproyeksikan dua kali penurunan suku bunga pada tahun 2026, yang lebih agresif dibandingkan proyeksi internal The Fed. Kita belum akan melihat rapat The Fed hingga akhir bulan, dan saat ini belum ada konsensus.
Dolar AS bangkit di awal 2026 menunjukkan bahwa pasar terlihat lebih bersemangat setelah penurunan dolar AS terdalam dalam delapan tahun terakhir. Namun, masih banyak faktor yang memengaruhi keseimbangan pasar dan pergerakan mata uang.