Bergulatnya kesehatan pria di Indonesia tidak hanya mencakup masalah performa seksual, tapi juga persoalan yang lebih luas seperti kualitas hidup. Salah satu faktor penting dalam hal ini adalah keseimbangan hormon, terutama testosteron. Hormon ini bukan hanya berperan dalam proses reproduksi, tapi juga memengaruhi metabolisme tubuh dan keamanan mental.
Sejak usia muda, perubahan hormon dapat berdampak pada energi, keseimbangan emosi, hingga kemampuan berpikir yang jernih. Namun, gejala-gejalanya sering dianggap sebagai kelelahan biasa akibat aktivitas sehari-hari.
Penyakit kardiovaskular (CVD) merupakan penyebab utama kematian global, dan penyebabnya tidak hanya disebabkan oleh faktor genetik, tetapi juga oleh penurunan hormon testosteron. Menurut data World Health Organization (WHO) dan Global Burden of Disease (GBD), CVD menyebabkan sekitar 19,8 juta kematian global pada 2022, yaitu sekitar 32 persen dari total kematian dunia.
"Testosteron tidak hanya hormon reproduksi, tetapi juga memengaruhi metabolisme tubuh," ujar dr. Ivonne Andriani Santoso, founder Klinik Pratama Steros. "Kadar testosteron yang rendah dapat menyebabkan peningkatan lemak visceral, gangguan kolesterol dan gula darah, tekanan darah tinggi, serta inflamasi kronis."
Selain itu, penyebab penuaan juga terbagi menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup ketidakseimbangan hormon, radikal bebas, kerusakan DNA, hingga penurunan sistem imun. Sementara itu, faktor eksternal meliputi pola hidup dan diet tidak sehat, kebiasaan buruk, paparan polusi, serta stres berkepanjangan.
Menurut Prof. Dr. Wimpie Pangkahila, penyebab penuaan terbagi menjadi fase subklinis, transisi, dan klinis. Fase subklinis terjadi pada usia 25-35 tahun, fase transisi berlangsung pada usia 35-45 tahun, dan fase klinis terjadi pada usia 45 tahun ke atas.
"Perubahan level hormon mulai terjadi pada usia muda," ujar Prof. Wimpie. "Hal ini menjadi penyebab utama terjadinya proses penuaan. Manusia menjadi tua karena hormon berkurang, bukan sebaliknya."
Dalam hal ini, penting bagi pria untuk memahami peran hormon testosteron dalam kesehatan dan usia fisiologis mereka. Dengan demikian, mereka dapat mengambil tindakan tepat waktu untuk mencegah penurunan hormon testosteron dan menghindari risiko penyakit kronis.
Sejak usia muda, perubahan hormon dapat berdampak pada energi, keseimbangan emosi, hingga kemampuan berpikir yang jernih. Namun, gejala-gejalanya sering dianggap sebagai kelelahan biasa akibat aktivitas sehari-hari.
Penyakit kardiovaskular (CVD) merupakan penyebab utama kematian global, dan penyebabnya tidak hanya disebabkan oleh faktor genetik, tetapi juga oleh penurunan hormon testosteron. Menurut data World Health Organization (WHO) dan Global Burden of Disease (GBD), CVD menyebabkan sekitar 19,8 juta kematian global pada 2022, yaitu sekitar 32 persen dari total kematian dunia.
"Testosteron tidak hanya hormon reproduksi, tetapi juga memengaruhi metabolisme tubuh," ujar dr. Ivonne Andriani Santoso, founder Klinik Pratama Steros. "Kadar testosteron yang rendah dapat menyebabkan peningkatan lemak visceral, gangguan kolesterol dan gula darah, tekanan darah tinggi, serta inflamasi kronis."
Selain itu, penyebab penuaan juga terbagi menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup ketidakseimbangan hormon, radikal bebas, kerusakan DNA, hingga penurunan sistem imun. Sementara itu, faktor eksternal meliputi pola hidup dan diet tidak sehat, kebiasaan buruk, paparan polusi, serta stres berkepanjangan.
Menurut Prof. Dr. Wimpie Pangkahila, penyebab penuaan terbagi menjadi fase subklinis, transisi, dan klinis. Fase subklinis terjadi pada usia 25-35 tahun, fase transisi berlangsung pada usia 35-45 tahun, dan fase klinis terjadi pada usia 45 tahun ke atas.
"Perubahan level hormon mulai terjadi pada usia muda," ujar Prof. Wimpie. "Hal ini menjadi penyebab utama terjadinya proses penuaan. Manusia menjadi tua karena hormon berkurang, bukan sebaliknya."
Dalam hal ini, penting bagi pria untuk memahami peran hormon testosteron dalam kesehatan dan usia fisiologis mereka. Dengan demikian, mereka dapat mengambil tindakan tepat waktu untuk mencegah penurunan hormon testosteron dan menghindari risiko penyakit kronis.