Pada kasus penusukan di SMAN 72 Jakarta, terinspirasi oleh aksi bom di sekolah yang menewaskan seorang anak dan melukai petugas keamanan. Dengan kata orang, insiden ini memicu remaja muda bernama Mario Nauval (15) melakukan serangan serupa di Odintsovo, Moscow, Rusia.
Menurut Kombes Mayndra Eka Wardhana, juru bicara Densus 88 Antiteror Polri, temuan tulisan "Jakarta Bombing 2025" yang ditulis oleh pelaku di senjata miliknya membantu menjelaskan bagaimana ideologi kekerasan ekstrem saling mempengaruhi secara lintas negara melalui ruang digital.
Tulisan "Jakarta Bombing 2025" dipegang oleh remaja di Moscow dan diunggah ke komunitas tertentu, yang kemudian menjadi inspirasi bagi Mario Nauval untuk melakukan penusukan di sekolah. Dengan demikian, kasus ini menunjukkan bagaimana aksi teror dan kekerasan remaja di berbagai negara saling mempengaruhi.
Dengan melihat temuan ini, Densus 88 menjelaskan bahwa ada puluhan grup yang teridentifikasi menjadi saluran penyebaran ideologi ekstrem seperti Neo Nazi dan White Supremacy kepada anak-anak. Grup-grup tersebut tersebar di platform media sosial seperti WhatsApp, Telegram, hingga Facebook.
Selain itu, Densus 88 juga mengungkapkan bahwa komunitas ini tidak didirikan oleh tokoh, organisasi, atau institusi, tetapi tumbuh secara sporadis seiring dengan perkembangan media digital.
Menurut Kombes Mayndra Eka Wardhana, juru bicara Densus 88 Antiteror Polri, temuan tulisan "Jakarta Bombing 2025" yang ditulis oleh pelaku di senjata miliknya membantu menjelaskan bagaimana ideologi kekerasan ekstrem saling mempengaruhi secara lintas negara melalui ruang digital.
Tulisan "Jakarta Bombing 2025" dipegang oleh remaja di Moscow dan diunggah ke komunitas tertentu, yang kemudian menjadi inspirasi bagi Mario Nauval untuk melakukan penusukan di sekolah. Dengan demikian, kasus ini menunjukkan bagaimana aksi teror dan kekerasan remaja di berbagai negara saling mempengaruhi.
Dengan melihat temuan ini, Densus 88 menjelaskan bahwa ada puluhan grup yang teridentifikasi menjadi saluran penyebaran ideologi ekstrem seperti Neo Nazi dan White Supremacy kepada anak-anak. Grup-grup tersebut tersebar di platform media sosial seperti WhatsApp, Telegram, hingga Facebook.
Selain itu, Densus 88 juga mengungkapkan bahwa komunitas ini tidak didirikan oleh tokoh, organisasi, atau institusi, tetapi tumbuh secara sporadis seiring dengan perkembangan media digital.