Ada kasus seseorang anak di Jepara, Jawa Tengah yang ingin menjadi pelopor kekerasan di sekolah dengan menggunakan komunitas True Crime Community. Anak 14 tahun itu bergabung dengan grup ini dan menyebarkan paham ekstremisme kepada dirinya sendiri melalui konten kekerasan di ruang digital.
Menurut Ajun Komisaris Besar Mayndra Eka Wardhana dari Densus 88, anak tersebut berencana melakukan tindak kekerasan sebelum terjadi insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta pada November 2025. Rencana itu diketahui pada bulan Oktober 2025.
Mayndra mengatakan bahwa rencana anak itu bisa dicegah jika diperhatikan sejak awal. Densus 88 dan Polda Jawa Tengah bekerja sama untuk menangani kasus ini. Mereka juga memutarkan video yang direkam anak tersebut ketika memperagakan rencana aksinya di sekolah, dimana anak itu melakukan simulasi penembakan menggunakan replika senjata api.
Mayndra menjelaskan bahwa anak tersebut masih ingin melakukan tindak kekerasan setelah dilakukan intervensi. "Pernah membawa pisau ke sekolah," ujarnya. Anak ini terkoneksi dengan jaringan internasional REDA yang merupakan pendiri kelompok Berber Nationalist Third Positionist Group (BNTG) di Prancis.
Densus 88 sebelumnya menemukan 70 anak di Indonesia yang terpapar paham ekstremisme dari konten kekerasan di ruang digital. Jumlah terbanyak ada di DKI Jakarta, disusul oleh Jawa Barat, Jawa Timur, dan lain-lain.
Mayndra juga mengatakan bahwa terhadap 70 anak ini, kurang lebih 67 orang sudah dilakukan asesmen, mapping, konseling, dan sebagainya dengan berbagai stakeholders yang ada di masing-masing wilayah. Sebaran usia 70 anak itu pada rentang 11 sampai 18 tahun, didominasi oleh umur 15 tahun, atau transisi dari jenjang SMP ke SMA.
Menurut Ajun Komisaris Besar Mayndra Eka Wardhana dari Densus 88, anak tersebut berencana melakukan tindak kekerasan sebelum terjadi insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta pada November 2025. Rencana itu diketahui pada bulan Oktober 2025.
Mayndra mengatakan bahwa rencana anak itu bisa dicegah jika diperhatikan sejak awal. Densus 88 dan Polda Jawa Tengah bekerja sama untuk menangani kasus ini. Mereka juga memutarkan video yang direkam anak tersebut ketika memperagakan rencana aksinya di sekolah, dimana anak itu melakukan simulasi penembakan menggunakan replika senjata api.
Mayndra menjelaskan bahwa anak tersebut masih ingin melakukan tindak kekerasan setelah dilakukan intervensi. "Pernah membawa pisau ke sekolah," ujarnya. Anak ini terkoneksi dengan jaringan internasional REDA yang merupakan pendiri kelompok Berber Nationalist Third Positionist Group (BNTG) di Prancis.
Densus 88 sebelumnya menemukan 70 anak di Indonesia yang terpapar paham ekstremisme dari konten kekerasan di ruang digital. Jumlah terbanyak ada di DKI Jakarta, disusul oleh Jawa Barat, Jawa Timur, dan lain-lain.
Mayndra juga mengatakan bahwa terhadap 70 anak ini, kurang lebih 67 orang sudah dilakukan asesmen, mapping, konseling, dan sebagainya dengan berbagai stakeholders yang ada di masing-masing wilayah. Sebaran usia 70 anak itu pada rentang 11 sampai 18 tahun, didominasi oleh umur 15 tahun, atau transisi dari jenjang SMP ke SMA.