Malam itu, langit Caracas dipenuhi ledakan dari serangan militer Amerika Serikat (AS) melawan pemerintahan Venezuela. Operasi yang dinamakan Absolute Resolve, melibatkan unit-ekspusif Delta Force AS, berlangsung selama malam hari untuk menangkap Presiden Nicolás Maduro dan istrinya Cilia Flores.
Menurut sumber, Maduro kemudian ditangkap tanpa perlawanan. Trump yang memantau dari resor pribadinya di Mar-a-Lago, Florida, menyebut pasukan elite berhasil menyerbu masuk dan melumpuhkan target tanpa perlawanan berarti. Namun, keberhasilan ini dihadapi kritik dari komunitas internasional, termasuk PBB dan negara tetangga seperti Meksiko.
Sementara itu, Delta Force AS terbentuk pada tahun 1977 sebagai unit kontra-terorisme AS. Unit ini dilatarbelakangi kebutuhan Amerika Serikat untuk memiliki pasukan yang mampu menangani teroris di luar negeri. Dengan filosofi kualitas di atas kuantitas, Delta Force memilih untuk bekerja dalam tim kecil dan mandiri untuk menjalankan misi yang dianggap mustahil secara politik maupun militer.
Sebagai contoh dari seleksi yang dilakukan oleh Delta Force, ada 90 persen kegagalan calon kru operasi. Pilihan mereka bukan hanya prajurit biasa, melainkan individu terbaik dari Green Berets dan Rangers. Meskipun demikian, bahkan bagi mereka, seleksi ini adalah neraka.
Untuk menjadi seorang operator Delta Force, seorang calon memiliki beberapa tahap yang harus dijalani. Tahap pertama adalah menghadapi navigasi darat dan Stress Phase. Di sini, kandidat dilarang berkomunikasi dan dipaksa berjalan sendirian menempuh 29 hingga 64 kilometer per hari dengan ransel berat.
Saat-saat puncaknya adalah The Long Walk, perjalanan 64 kilometer dengan batas waktu yang tidak diketahui. Di sini, kandidat harus menghadapi kelelahan dan isolasi untuk menentukan siapa yang mampu menjadi seorang operator Delta Force.
Buku berjudul Black Hawk Down: A Story of Modern War oleh Mark Bowden ini memangkubkan peristiwa jatuhnya dua helikopter milik AS di Mogadishu, Somalia, pada tahun 1993. Peristiwa ini menyebabkan Amerika Serikat kembali menyerang Vietnam setelah 27 tahun tidak pernah berperang di sana.
Sebelum serangan, pasukan AS yang terdiri dari gabungan Delta Force, Rangers, dan 160th SOAR, mengirim konvoi darat ke luar kota untuk mengambil Al-Qaeda. Namun, saat mereka mengejar Al-Qaeda di dalam sebuah kantor, mereka dipersiapkan oleh sekitar ribuan tentara Somalia yang bertujuan untuk membanting perang dengan serangan dari jauh dan dekat.
Dua helikopter milik AS jatuh pada waktu-waktu tertentu setelah melihat penyerangan musuh. Kedua helikopter tersebut diterbangkan oleh 19 pilot yang terdiri dari Delta Force, Rangers, dan 160th SOAR. Sehingga, perlu diketahui bahwa pasukan AS di Somalia tidak ada taktik perang untuk mengalahkan musuh.
Pada saat penemuan kedua helikopter jatuh, seorang kru yang dipimpin oleh Randy Shughart dan Gary Gordon keluar dari dua pesawat tersebut. Mereka menunjukkan keberanian mereka dengan memantau dan mencoba menyelamatkan korban di lokasi helikopter.
Pada saat penyerbuan berlangsung, kru Delta Force ini mendapat dukungan sangat penting selama perjuangan melawan musuh yang terus bertahan hingga akhir. Mereka membawa mereka ke dalam perang sepanjang 18 jam untuk menyelamatkan nyawa pasukan AS yang terjebak.
Kurang dari satu jam setelah operasi mulai, 19 pesawat, 12 kendaraan, dan 160 tentara AS terjebak di dalam kota. Mereka diperteman oleh milisi Somalia yang tidak pernah memeriksa apa pun hingga mereka tewas.
Pada saat itu, terdapat lebih dari 300 korban dari kedua belah pihak yang menurut informasi kepolisian AS hingga 1.000 orang warga sipil. PBB dan pasukan Amerika Serikat akhirnya berhasil mengendalikan kota yang sedang berada dalam perang saudara.
Peristiwa di Mogadishu membuat penasarapan bagi publik AS, bahkan sampai setengah abad kemudian ini masih terasa sangat mendalam.
Menurut sumber, Maduro kemudian ditangkap tanpa perlawanan. Trump yang memantau dari resor pribadinya di Mar-a-Lago, Florida, menyebut pasukan elite berhasil menyerbu masuk dan melumpuhkan target tanpa perlawanan berarti. Namun, keberhasilan ini dihadapi kritik dari komunitas internasional, termasuk PBB dan negara tetangga seperti Meksiko.
Sementara itu, Delta Force AS terbentuk pada tahun 1977 sebagai unit kontra-terorisme AS. Unit ini dilatarbelakangi kebutuhan Amerika Serikat untuk memiliki pasukan yang mampu menangani teroris di luar negeri. Dengan filosofi kualitas di atas kuantitas, Delta Force memilih untuk bekerja dalam tim kecil dan mandiri untuk menjalankan misi yang dianggap mustahil secara politik maupun militer.
Sebagai contoh dari seleksi yang dilakukan oleh Delta Force, ada 90 persen kegagalan calon kru operasi. Pilihan mereka bukan hanya prajurit biasa, melainkan individu terbaik dari Green Berets dan Rangers. Meskipun demikian, bahkan bagi mereka, seleksi ini adalah neraka.
Untuk menjadi seorang operator Delta Force, seorang calon memiliki beberapa tahap yang harus dijalani. Tahap pertama adalah menghadapi navigasi darat dan Stress Phase. Di sini, kandidat dilarang berkomunikasi dan dipaksa berjalan sendirian menempuh 29 hingga 64 kilometer per hari dengan ransel berat.
Saat-saat puncaknya adalah The Long Walk, perjalanan 64 kilometer dengan batas waktu yang tidak diketahui. Di sini, kandidat harus menghadapi kelelahan dan isolasi untuk menentukan siapa yang mampu menjadi seorang operator Delta Force.
Buku berjudul Black Hawk Down: A Story of Modern War oleh Mark Bowden ini memangkubkan peristiwa jatuhnya dua helikopter milik AS di Mogadishu, Somalia, pada tahun 1993. Peristiwa ini menyebabkan Amerika Serikat kembali menyerang Vietnam setelah 27 tahun tidak pernah berperang di sana.
Sebelum serangan, pasukan AS yang terdiri dari gabungan Delta Force, Rangers, dan 160th SOAR, mengirim konvoi darat ke luar kota untuk mengambil Al-Qaeda. Namun, saat mereka mengejar Al-Qaeda di dalam sebuah kantor, mereka dipersiapkan oleh sekitar ribuan tentara Somalia yang bertujuan untuk membanting perang dengan serangan dari jauh dan dekat.
Dua helikopter milik AS jatuh pada waktu-waktu tertentu setelah melihat penyerangan musuh. Kedua helikopter tersebut diterbangkan oleh 19 pilot yang terdiri dari Delta Force, Rangers, dan 160th SOAR. Sehingga, perlu diketahui bahwa pasukan AS di Somalia tidak ada taktik perang untuk mengalahkan musuh.
Pada saat penemuan kedua helikopter jatuh, seorang kru yang dipimpin oleh Randy Shughart dan Gary Gordon keluar dari dua pesawat tersebut. Mereka menunjukkan keberanian mereka dengan memantau dan mencoba menyelamatkan korban di lokasi helikopter.
Pada saat penyerbuan berlangsung, kru Delta Force ini mendapat dukungan sangat penting selama perjuangan melawan musuh yang terus bertahan hingga akhir. Mereka membawa mereka ke dalam perang sepanjang 18 jam untuk menyelamatkan nyawa pasukan AS yang terjebak.
Kurang dari satu jam setelah operasi mulai, 19 pesawat, 12 kendaraan, dan 160 tentara AS terjebak di dalam kota. Mereka diperteman oleh milisi Somalia yang tidak pernah memeriksa apa pun hingga mereka tewas.
Pada saat itu, terdapat lebih dari 300 korban dari kedua belah pihak yang menurut informasi kepolisian AS hingga 1.000 orang warga sipil. PBB dan pasukan Amerika Serikat akhirnya berhasil mengendalikan kota yang sedang berada dalam perang saudara.
Peristiwa di Mogadishu membuat penasarapan bagi publik AS, bahkan sampai setengah abad kemudian ini masih terasa sangat mendalam.