Kondisi Darurat Sampah di Pasar-Pasar Tangsel Masih Belum Terpacu
Tiga pasar tradisional di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kini mulai mengalami penanganan darurat sampah, meski masih ada area yang belum sepenuhnya tertangani. Pengangkutan tumpukan sampah di Pasar Cimanggis, Pasar Jombang, dan Pasar Ciputat telah dilakukan oleh petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangsel.
Saat ini, kondisi darurat sampah masih terlihat di Pasar Jombang. Tumpukan sampah di lokasi tersebut belum sepenuhnya tertangani, sehingga air lindi tampak mengalir ke badan jalan, memunculkan bau menyengat. Bahkan, larat beterbangan di sekitar area pasar dan belatung terlihat merayap hingga beberapa meter dari titik tumpukan sampah.
Di Pasar Ciputat, penumpukan sampah relatif tidak setinggi Pasar Jombang, tetapi keberadaannya tetap mengganggu aktivitas pengunjung dan pedagang. Bau menyengat masih tercium, terutama di area penampungan sampah dalam pasar.
Warga yang berbelanja di Pasar Ciputat, Muksit, mengatakan bahwa keadaan ini sudah lama memprihatinkannya. "Ini mah sudah lama di sini. Ya segini aja tampungannya ada di dalam pasar. Kalau soal bau, parah," katanya.
Dalam beberapa minggu terakhir, ketinggian tumpukan sampah di Pasar Cimanggis dan Pasar Jombang diperkirakan mencapai sekitar tiga meter, bahkan nyaris menyentuh atap kios pedagang. Kondisi ini memicu keluhan pedagang dan kekhawatiran warga terkait kesehatan lingkungan.
Camat Ciputat, Mamat, menyatakan bahwa persoalan sampah belum sepenuhnya selesai meski pengangkutan telah dilakukan. Ia mengaku masih ada warga yang nekat membuang sampah di lokasi yang baru saja dibersihkan.
"Persoalan menjadi semakin kompleks karena tidak semua pembuang sampah merupakan warga Tangsel," katanya. Ia juga mengaku sempat memeriksa identitas salah satu warga yang membuang sampah di lokasi tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan darurat sampah di Tangsel tidak hanya bergantung pada pengangkutan oleh pemerintah daerah, tetapi juga membutuhkan pengawasan ketat serta kesadaran warga. Tanpa perubahan perilaku dan pengendalian lintas wilayah, masalah sampah berpotensi kembali berulang meski pembersihan telah dilakukan.
Tiga pasar tradisional di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kini mulai mengalami penanganan darurat sampah, meski masih ada area yang belum sepenuhnya tertangani. Pengangkutan tumpukan sampah di Pasar Cimanggis, Pasar Jombang, dan Pasar Ciputat telah dilakukan oleh petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangsel.
Saat ini, kondisi darurat sampah masih terlihat di Pasar Jombang. Tumpukan sampah di lokasi tersebut belum sepenuhnya tertangani, sehingga air lindi tampak mengalir ke badan jalan, memunculkan bau menyengat. Bahkan, larat beterbangan di sekitar area pasar dan belatung terlihat merayap hingga beberapa meter dari titik tumpukan sampah.
Di Pasar Ciputat, penumpukan sampah relatif tidak setinggi Pasar Jombang, tetapi keberadaannya tetap mengganggu aktivitas pengunjung dan pedagang. Bau menyengat masih tercium, terutama di area penampungan sampah dalam pasar.
Warga yang berbelanja di Pasar Ciputat, Muksit, mengatakan bahwa keadaan ini sudah lama memprihatinkannya. "Ini mah sudah lama di sini. Ya segini aja tampungannya ada di dalam pasar. Kalau soal bau, parah," katanya.
Dalam beberapa minggu terakhir, ketinggian tumpukan sampah di Pasar Cimanggis dan Pasar Jombang diperkirakan mencapai sekitar tiga meter, bahkan nyaris menyentuh atap kios pedagang. Kondisi ini memicu keluhan pedagang dan kekhawatiran warga terkait kesehatan lingkungan.
Camat Ciputat, Mamat, menyatakan bahwa persoalan sampah belum sepenuhnya selesai meski pengangkutan telah dilakukan. Ia mengaku masih ada warga yang nekat membuang sampah di lokasi yang baru saja dibersihkan.
"Persoalan menjadi semakin kompleks karena tidak semua pembuang sampah merupakan warga Tangsel," katanya. Ia juga mengaku sempat memeriksa identitas salah satu warga yang membuang sampah di lokasi tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan darurat sampah di Tangsel tidak hanya bergantung pada pengangkutan oleh pemerintah daerah, tetapi juga membutuhkan pengawasan ketat serta kesadaran warga. Tanpa perubahan perilaku dan pengendalian lintas wilayah, masalah sampah berpotensi kembali berulang meski pembersihan telah dilakukan.