Ternyata tabaruk adalah praktik yang diterapkan oleh para sahabat dan ulama salaf dalam mencari keberkahan dari Allah SWT, baik melalui orang, tempat, maupun benda yang memiliki kedudukan istimewa di sisi-Nya. Dalam konteks ini, tabaruk adalah ekspresi cinta dan penghormatan kepada mereka yang dicintai Allah.
Kisah-kisah tabaruk yang pernah dikisahkan oleh para sahabat itu menunjukkan bahwa setiap benda atau orang dapat menjadi sumber keberkahan jika dianggap sebagai wasilah dari Allah SWT. Misalnya, Nabi Yusuf AS mengirimkan bajunya untuk diusapkan ke wajah ayahnya, Nabi Yaqub AS, guna menyembuhkan kebutaannya. Atau lagi, Ummu Sulaim pernah mengumpulkan keringat Nabi SAW saat beliau tidur siang dan memasukkannya ke dalam parfum sebagai sarana mencari berkah dan perlindungan dari Allah.
Namun, perlu diingat bahwa tabaruk tidak menjadi syirik jika seseorang meyakini bahwa benda atau orang tersebutlah yang memberikan manfaat atau mudarat secara mandiri tanpa kehendak Allah. Praktik ini hanya dibenarkan jika diyakini sebagai wasilah dan tidak menciptakan kultus individu yang berlebihan.
Dalam era sekarang, tabaruk dapat dilakukan melalui cara-cara yang lebih sederhana seperti mengamalkan ilmu yang dipelajari dari para ulama, menghadiri majelis ilmu, dan menghormati peninggalan sejarah Islam. Yang penting adalah menjaga adab dan tidak menyembah objek tersebut.
Dalam kesimpulan, tabaruk adalah praktik yang memiliki landasan dalil kuat dalam sumber primer Islam dan dapat menjadi sarana penguat iman serta penyejuk jiwa bagi setiap mukmin.
Kisah-kisah tabaruk yang pernah dikisahkan oleh para sahabat itu menunjukkan bahwa setiap benda atau orang dapat menjadi sumber keberkahan jika dianggap sebagai wasilah dari Allah SWT. Misalnya, Nabi Yusuf AS mengirimkan bajunya untuk diusapkan ke wajah ayahnya, Nabi Yaqub AS, guna menyembuhkan kebutaannya. Atau lagi, Ummu Sulaim pernah mengumpulkan keringat Nabi SAW saat beliau tidur siang dan memasukkannya ke dalam parfum sebagai sarana mencari berkah dan perlindungan dari Allah.
Namun, perlu diingat bahwa tabaruk tidak menjadi syirik jika seseorang meyakini bahwa benda atau orang tersebutlah yang memberikan manfaat atau mudarat secara mandiri tanpa kehendak Allah. Praktik ini hanya dibenarkan jika diyakini sebagai wasilah dan tidak menciptakan kultus individu yang berlebihan.
Dalam era sekarang, tabaruk dapat dilakukan melalui cara-cara yang lebih sederhana seperti mengamalkan ilmu yang dipelajari dari para ulama, menghadiri majelis ilmu, dan menghormati peninggalan sejarah Islam. Yang penting adalah menjaga adab dan tidak menyembah objek tersebut.
Dalam kesimpulan, tabaruk adalah praktik yang memiliki landasan dalil kuat dalam sumber primer Islam dan dapat menjadi sarana penguat iman serta penyejuk jiwa bagi setiap mukmin.