CSIS Wanti-wanti Risiko Jangka Panjang Kesepakatan Tarif RI-AS

Kesepakatan tarif resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) dapat membawa risiko jangka panjang bagi Indonesia, kata Peneliti Senior Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan. Konsekuensi negatif ini bisa terjadi karena akses pasar Indonesia ke AS dianggap tidak adil oleh negara-negara lain.

Perjanjian antara kedua negara itu sudah "locked-in" dan posisi Indonesia dalam perundingan tersebut jauh lebih lemah dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Malaysia, Vietnam, atau Thailand yang telah menyepakati perjanjian tarif dengan AS. Hal ini berarti, pemerintah Indonesia mungkin tidak dapat menikmati keuntungan dari kesepakatan tersebut.

Menurut Deni, kapasitas lokal Indonesia yang terbatas dan daya tawar yang terbatas membuat negosiasi dengan AS menjadi sangat sulit. Oleh karena itu, mungkin sebagian besar keputusan hasil perundingan akan merugikan Indonesia.

Selain itu, kondisi geopolitik antara Cina dan Amerika juga harus dipertimbangkan. Jika Indonesia menyetujui apa yang diminta oleh AS, maka artinya juga akan "merugikan" Cina. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia perlu bisa menafigasi atau membalance dua pengaruh ini untuk tidak terkena dampak negatif dari kesepakatan tarif resiprokal tersebut.

Dalam hal ini, kita harus mempertimbangkan apa yang sebenarnya dimaksud dengan "resiprokal". Apakah sebenarnya negara-negara lain juga akan menyetujui perjanjian yang sama? Atau apakah ada kemungkinan bahwa Indonesia dapat mendapatkan keuntungan dari kesepakatan tersebut jika menegosiasikan dengan cara yang berbeda.
 
Wow 😮, aku pikir pemerintah Indonesia harus berhati-hati saat menandatangani perjanjian tarif resiprokal dengan AS! 🤔 Mungkin kita harus mempertimbangkan apa yang sebenarnya dimaksud dengan "resiprokal" dan apakah ada kemungkinan bahwa negara-negara lain juga akan menyetujui perjanjian yang sama? 🤝 Interesting 📊
 
aku rasa kalau kita terlalu cepat menolak kesepakatan tarif resiprokal ini, mungkin kita harus coba lihat dari perspektif lain. asalnya kesepakatan ini untuk melindungi industri AS di Indonesia, tapi siapa bilang kalau itu benar-benar adil? perlu kita pertimbangkan bagaimana negara-negara lain menghadapi kondisi serupa, misalnya Malaysia atau Vietnam, apakah mereka juga berhasil menikmati keuntungan dari kesepakatan tersebut. dan apa yang salah dengan kita mencoba menemukan keseimbangan antara Indonesia dan AS? jadi, saya pikir kita tidak boleh terlalu cepat membuat kesimpulan tentang kesepakatan ini 🤔
 
Gue pikir kalau Indonesia harus lebih teliti lagi sebelum memutuskan apapun, kan? Kalau kita already kalah dalam perundingan tarif dgn Amerika, nanti gue rasa Indonesia juga akan kehilangan akses pasar ke Amerika, kayaknya tidak adil. Nah, apa sih yang dimaksud dengan "resiprokal" ya? Apakah negara-negara lain akan menyetujui perjanjian yang sama? Kalau gak, maka kita harus bisa ber negociasi dengan cara lain, misalnya.
 
Gue pikir ini kayak kakek ngomong, kalau gue coba cek lihat bagaimana negara-negara lain di Asia barat lakukan di Amerika Selatan, kemungkinan besar mereka juga menangkap keuntungan dari kesepakatan tarif resiprokal itu. Tapi siapa tau apa yang dikatakan Peneliti Senior Deni Friawan itu benar... 🤔 Jadi, apa yang sebenarnya dimaksud dengan "resiprokal" ya? Apakah gue harus percaya dengan kata-kata dari pihak Amerika tanpa mempertimbangkan bagaimana negara-negara lain di Asia barat lakukan juga? atau mungkin ada hal-hal tertentu yang tidak gue ketahui tentang kesepakatan tarif resiprokal itu...
 
Aku pikir ini salah paham, ya... Amerika siapa nih? Mereka bule-bule apa aja! 🙄 Ketika mereka serius-serius sekali untuk membantu Indonesia, tapi sekarang mereka justru menekan tarifnya, itu ganti-ganti. Kita harus lebih bijak dalam menilai apa yang sebenarnya dimaksud dengan "resiprokal". Apakah ini hanya tentang membantu Amerika, atau juga tentang membantu kita sendiri? 🤔
 
Gue pikir kalau kesepakatan tarif resiprokal ini benar-benar tidak baik buat Indonesia. Masyarakat kita masih banyak yang belum bisa bersaing sama-sama dengan perusahaan asing, jadi perjanjian ini pasti akan membuat harga barang dan jasa kita naik. Kalau negara lain juga menyetujui perjanjian ini, berarti mereka sudah siap untuk menyerah kepada kekuatan besar AS. Tapi gue pikir itu tidak adil buat Indonesia yang masih banyaknya keterbatasan sumber daya dan infrastruktur. Gue rasa pemerintah kita harus lebih bijak dalam menyelesaikan perundingan ini, biar kita bisa mendapatkan keuntungan dari kesepakatan tersebut secara seimbang dan tidak merugikan masyarakat kita 🤔💡
 
Perlu diingat, kalau kesepakatan tarif resiprokal ini sebenarnya untuk menggantikan kerentanan kita dalam pasar AS yang makin besar setiap tahunnya 🤔. Tapi, akses kita ke pasar tersebut masih sangat terbatas. Itu membuat Indonesia sulit menandingi negara-negara lain yang lebih berpengalaman di pasar ini, seperti Malaysia atau Vietnam. Mungkin ada kemungkinan bahwa Indonesia akan terpencil dari peruntungan besar-besaran. Lalu, apa itu "resiprokal" sebenarnya? Apakah negara-negara lain juga akan menyetujui kesepakatan tarif yang sama, atau apakah Indonesia bisa mendapatkan keuntungan jika mengejar strategi yang berbeda 🤷‍♂️
 
"Kalau mau punya jangka panjang, kita harus pikirkan apa yang lebih penting ya? Kita tidak ingin terjebak dalam permainan geopolitik yang membuat kita kehilangan keuntungan dari kesepakatan tarif resiprokal itu 🤔. Tapi, di sisi lain, kalau kita menolak, kemungkinan besar AS dan Cina juga akan keberatan 😬. Maka dari itu, kita harus mencari keseimbangan yang tepat. Apakah kita bisa menemukan cara untuk mendapatkan faedah dari kesepakatan tersebut dengan tidak membuat negara-negara lain merasa tidak adil? Itu yang perlu kita pikirkan 🤝."
 
ada kemungkinan kalau kita jangan terburu-buru menandatangani kesepakatan tarif resiprokal ini... asalnya, apa yang dimaksud dengan "resiprokal" sih benar-benar semua negara lain juga akan menyetujui perjanjian yang sama? padahal kami Indonesia ada kapasitas lokal yang terbatas, jadi kita harus bisa mengeksploitasi kesempatan ini dengan caranya sendiri... mungkin jika kita melakukan negosiasi dengan cara yang berbeda, bisa mendapatkan keuntungan dari kesepakatan tersebut... jangan biarkan diri kami menjadi korban perjanjian yang tidak berfaedah 😒
 
Gue pikir kalau ini gue salah paham, aspek tarif punya dampak besar jadi gue sambut perjanjian ini dengan cemas. Gue rasa Amerika Serikat itu juga bermaksud untuk mengontrol pasar Indonesia. Kalau tidak bisa mendapatkan harga yang adil, mungkin kita harus mencari alternatif lain. Seperti misalnya menegosiasikan dengan negara-negara lain yang lebih berdaya saing seperti Jepang atau Eropa.
 
[ GIF: orang Jawa sedang memandamkan hidupnya ]
Gue rasa Indonesia harus lebih bijaksana dalam perundingan ini, jangan terburu-buru memilih satu pilihan saja. Kita harus mempertimbangkan semua kemungkinan dan tidak terlalu cepat menyerah. Dan apa artinya "resiprokal" sih? Kita harus lebih teliti banget!
 
Kesepakatan tarif resiprokal itu gini sih... kalau kita jujur, gak ada keuntungannya untuk kita... Malaysia dan Vietnam udah punya alasan lain buat setuju dengan AS, dan Indonesia gak bisa menyerap apa yang dimaksudkan. Kapasitas lokal kita terbatas banget, sehingga kita harus berhati-hati dalam negosiasi ini. Dan siapa tahu, kalau kita menyetujui kesepakatan itu, maka Cina juga akan merasa tidak nyaman... jadi apa yang harus kita lakukan? Perlu kita cari strategi lain buat mendapatkan keuntungan dari kesepakatan ini... mungkin kita harus negosiasikan dengan cara yang lebih cerdas... 😊
 
"Kalau kita terusin dinding, jalan itu tidak akan ada. Kita harus bisa melihat perspektif kedua belah pihak dan mencari keseimbangan. Indonesia harus fokus pada kemampuan sendiri dan bukan hanya memikirkan apa yang diminta oleh luar. Kalau kita ingin keuntungan, kita harus bersedia berkorban sedikit. Tapi kalau kita terusin diri sendiri, tidak akan ada jalan keluarnya 😊🤔"
 
Gampang banget ya, kalau kita lihat dari sudut pandang sederhana... Asalahnya apa kalo kita setuju dengar AS? Artinya kita akan "mudharat" oleh negara-negara lain yang sama-sama tidak setuju dengan tarif resiprokal ini. Nah, kalau kita pikir dari sudut pandang perusahaan-industri di Indonesia, misalnya, tekstil atau industri manufaktur... Mereka benar-benar khawatir apa jadi kalo AS setujui tarif resiprokal ini. Karena itu, pemerintah Indonesia harus bisa melihat dua arah... Artinya, harus bisa menemukan cara agar perusahaan-perusahaan di Indonesia tidak terkena dampak negatif dari kesepakatan tersebut. Tapi, sementara ini, saya masih tidak yakin... Atau mungkin kita harus pikir dari sudut pandang lain... Misalnya, bagaimana kalau kita menegosiasikan dengan AS dengan cara yang berbeda? Artinya, bukan hanya fokus pada tarif resiprokal ini, tapi juga ada aspek lain seperti investasi atau kerja sama bisnis.
 
Gue pikir gue harus jujur, perlu diwaspadai kan kalau kita setujui kesepakatan tarif resiprokal itu nanti, kita mungkin akan kehilangan akses pasar ke AS dan malah kehilangan kemampuan kita untuk bersaing dengan negara-negara lain yang telah menyepakati perjanjian tarif tersebut. Mungkin gue salah, tapi aku rasa kita harus berhati-hati dan tidak terburu-buru dalam menandatangani perjanjian itu
 
Kalau gini aja, perundingan tarif resiprokal antara Indonesia dan AS kayaknya harus lebih teliti. Kalau AS sih terus2 memanggil Indonesia sebagai negara pengekspornya, kalau punya keuntungan dari impor barang dari Amerika, tapi Indonesia sih masih kehilangan banyak keuntungannya sendiri di pasar lain. Saya rasa pemerintah harus lebih berhati-hati dan tidak terburu-buru dalam menandatangani perjanjian yang tidak faedah bagi kita. Dan kalau gini aja, kemungkinan besar Indonesia akan jadi target dari negara-negara lain yang merasa kesepakatan tarif resiprokal AS dengan Indonesia kurang adil.
 
kembali
Top