MSCI menunjukkan langkah keras dengan memutuskan untuk membekukan rebalancing indeks saham Indonesia (IHSG) karena masih ada masalah transparansi kepemilikan saham. Pada Prasasti Economic Forum 2026, CIO Danantara Asset Management, Pandu Sjahrir menyatakan bahwa keputusan ini bukanlah hal yang mengejutkan dan sudah dapat diantisipasi.
Pandu menjelaskan bahwa ia telah membaca laporan MSCI yang menyoroti masalah utama terkait transparansi kepemilikan saham. Ia mengakui bahwa isu ini sudah menjadi perhatian sejak beberapa bulan lalu. "Saya sudah baca laporan MSCI, bukanlah hal yang mengejutkan. Saya juga berharap teman-teman tahu tentang masalah ini sejak 3-4 bulan yang lalu," kata Pandu.
Pandu menyatakan bahwa kejadian ini adalah "wake-up call" atau panggilan yang sangat dibutuhkan bagi semua pihak, terutama regulator, untuk segera melakukan perbaikan. Ia menyoroti bahwa langkah MSCI harus diantisipasi dan tidak menjadi kejutan.
Pandu juga mengingatkan bahwa masukan dari MSCI sudah sangat jelas dan kini saatnya regulator bertindak. Ia menyoroti daftar negara frontier market MSCI yang kini menjadi tujuan persiapan Indonesia, seperti Bangladesh, Pakistan, dan negara-negara Afrika Barat.
Sebagai pelaku pasar, Danantara berharap adanya pasar modal yang lebih dalam, sehat, dan baik. Pandu menilai langkah MSCI tepat dan harus disikapi dengan bijak, bukan dengan defensif. Ia juga berpesan bahwa jika tidak mau berubah, maka akan diubah oleh keadaan.
"Dan saya selalu diingetin Ya kalau kita gak berubah, nanti kita diubah. Jadi ini adalah langkah yang sangat penting dan harus diantisipasi," kata Pandu.
Pandu menjelaskan bahwa ia telah membaca laporan MSCI yang menyoroti masalah utama terkait transparansi kepemilikan saham. Ia mengakui bahwa isu ini sudah menjadi perhatian sejak beberapa bulan lalu. "Saya sudah baca laporan MSCI, bukanlah hal yang mengejutkan. Saya juga berharap teman-teman tahu tentang masalah ini sejak 3-4 bulan yang lalu," kata Pandu.
Pandu menyatakan bahwa kejadian ini adalah "wake-up call" atau panggilan yang sangat dibutuhkan bagi semua pihak, terutama regulator, untuk segera melakukan perbaikan. Ia menyoroti bahwa langkah MSCI harus diantisipasi dan tidak menjadi kejutan.
Pandu juga mengingatkan bahwa masukan dari MSCI sudah sangat jelas dan kini saatnya regulator bertindak. Ia menyoroti daftar negara frontier market MSCI yang kini menjadi tujuan persiapan Indonesia, seperti Bangladesh, Pakistan, dan negara-negara Afrika Barat.
Sebagai pelaku pasar, Danantara berharap adanya pasar modal yang lebih dalam, sehat, dan baik. Pandu menilai langkah MSCI tepat dan harus disikapi dengan bijak, bukan dengan defensif. Ia juga berpesan bahwa jika tidak mau berubah, maka akan diubah oleh keadaan.
"Dan saya selalu diingetin Ya kalau kita gak berubah, nanti kita diubah. Jadi ini adalah langkah yang sangat penting dan harus diantisipasi," kata Pandu.