Bunuh diri anak SD NTT, Rp10.000 jadi pemicu. Cak Imin: 'Kita harus membuka diri'
Kasus seorang siswa SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara timur (NTT) yang bunuh diri karena tidak bisa membeli buku dan pena seharga Rp10.000 menjadi pengingat bagi Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin.
Cak Imin mengatakan, kasus tersebut harus menjadi cambuk bagi semua pihak untuk membuka diri dan membantu mereka yang memerlukan bantuan. Dia menegaskan, kita harus mencari akar masalah frustrasi sosial yang menyebabkan anak kecil seperti itu melakukan tindakan seperti itu.
Cak Imin juga mengingatkan bagi masyarakat untuk tidak menangguhkan membantu mereka yang memerlukan bantuan. Dia mengatakan, depresi bukanlah persoalan sepele dan jika Anda merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tindakan tersebut, sebaiknya hubungi pihak terkait seperti psikolog, psikiater, atau klinik kesehatan jiwa.
Kasus ini menjadi peninggalan kenangan bagi kita semua untuk lebih memahami dan membantu mereka yang memerlukan bantuan. Cak Imin menegaskan, kita harus bekerja sama untuk mencegah kejadian seperti ini terjadi lagi di masa depan.
Kasus seorang siswa SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara timur (NTT) yang bunuh diri karena tidak bisa membeli buku dan pena seharga Rp10.000 menjadi pengingat bagi Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin.
Cak Imin mengatakan, kasus tersebut harus menjadi cambuk bagi semua pihak untuk membuka diri dan membantu mereka yang memerlukan bantuan. Dia menegaskan, kita harus mencari akar masalah frustrasi sosial yang menyebabkan anak kecil seperti itu melakukan tindakan seperti itu.
Cak Imin juga mengingatkan bagi masyarakat untuk tidak menangguhkan membantu mereka yang memerlukan bantuan. Dia mengatakan, depresi bukanlah persoalan sepele dan jika Anda merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tindakan tersebut, sebaiknya hubungi pihak terkait seperti psikolog, psikiater, atau klinik kesehatan jiwa.
Kasus ini menjadi peninggalan kenangan bagi kita semua untuk lebih memahami dan membantu mereka yang memerlukan bantuan. Cak Imin menegaskan, kita harus bekerja sama untuk mencegah kejadian seperti ini terjadi lagi di masa depan.