Cak Imin Respons Kasus Siswa SD NTT Bunuh Diri karena Rp10 Ribu

Kasus seorang siswa SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara timur (NTT) yang bunuh diri karena tidak mampu membeli buku dan pena seharga Rp10.000, menjadi isu yang pula membumbui hati masyarakat. Pernahkah kita berfikir bagaimana rasa sedih dan frustrasi dapat memaksa anak muda melakukan tindakan seperti itu? Menurut Cak Imin, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), kasus tersebut harus menjadi cambuk bagi semua pihak.

"Dia mengatakan, kasus bunuh diri anak karena tidak mampu membeli buku dan pena seharga Rp10.000, harus menjadi cambuk bagi semua pihak," kata Cak Imin dengan serius di kawasan Gambir, Jakarta, Selasa (3/2/2026) malam.

Ia juga menekankan pentingnya agar semua pihak membuka diri untuk mudah dimintai tolong oleh siapa pun. "Kita juga harus cari akar masalah frustrasi sosial itu sudah sejauh mana," katanya dengan tegas.

Sebelumnya, seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT, meninggalkan hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya yang berinisial MGT dan berusia 47 tahun. Dalam surat itu, korban menuliskan bahwa dia pergi dari rumah, kemudian memberikan tahu ibundanya bahwa dia tidak akan kembali lagi.

Ibu korban tersebut diketahui bekerja sebagai petani dan serabutan, sehingga hidupnya menjadi sulit. Sementara itu, lima orang anak di keluarginya yang masih tinggal bersama neneknya, termasuk korban yang telah meninggal dunia, harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kasus ini menegaskan bahwa depresi bukanlah persoalan ringan. Jika Anda merasakan tendensi melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tanda-tanda tersebut, sebaiknya menghubungi pihak terkait seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.
 
ini kasus bunuh diri anak SD karena tidak bisa mbeli buku & pena aja, nggak ada yang mau membantu? mungkin kalau kita semua buka diri dan mau menolong, kasus ini tidak akan terjadi lagi πŸ€”. tapi siapa yang mau berbagi kekayaannya atau sumber daya, nggak ada juga yang mau, kayaknya masalahnya jadi makin serius πŸ˜”. aku rasa kita harus membuat sistem bantuan yang lebih baik, supaya anak-anak seperti dia tidak perlu mengalami kesedihan dan frustrasi πŸ€·β€β™€οΈ.
 
Wah, kasus itu makin kaget banget! Mau ngebayangin kalau anak SD yang usianya masih 10 tahun bisa jadi mengalami kesedihan begitu parah sehingga akhirnya bunuh diri karena tidak bisa membeli buku dan pena aja. Itu juga nggak masuk akal, ya!

Kalau kita ngetuin ke Cak Imin itu, dia benar-benar harus cari jalan untuk mengatasinya, tapi apa lagi yang bisa dibicarakan? Mungkin dia harus memastikan bahwa semua pihak bersiap dan siap membantu orang-orang di desa-desa kecil seperti Ngada itu.

Dan sih, aku pikir kalau kita harus berubah, kita harus niat untuk melihat masalah-masalah yang ada di masyarakat, bukan hanya cuma nggak sabar aja sama-sama.
 
kasus ini itu begitu tragis 😭, sepertinya orang tua korban tidak punya banyak sumber daya untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka. padahal anak-anak SD kita harus diajarkan bagaimana cara beradaptasi dengan kesulitan hidup, bukan hanya menganggapnya sebagai rasa sedih dan frustrasi yang tidak bisa diatasi 🀯. mungkin jika semua orang bisa membantu satu sama lain, seperti organisasi bantuan sosial atau program pendidikan yang lebih fleksibel, kasus-kasus seperti ini bisa dilawan 🌟
 
Kasus buku Rp10.000 itu kalau benar-benar terjadi, pasti ada yang salah di dalam sistem pendidikan kita. Saya rasa kita harus lebih berhati-hati dengan anak-anak kita, mereka tidak bisa belajar sendiri nih 😊. Bayangkan kalau aku punya anak yang mau belajar tapi gak punya uang untuk buku dan pena, apa aku akan bisa membuat dia belajar? Tidak, pasti aku tidak bisa πŸ˜”.

Saya juga rasa kita harus lebih banyak memberikan bantuan kepada orang tua yang sulit, seperti petani atau serabutan. Mereka yang bekerja keras di lapangan tapi gak punya uang untuk membeli buku dan pena untuk anak-anaknya. Kita harus membuat aturan yang lebih adil, supaya semua anak bisa belajar dengan baik πŸ€”.

Dan ya, kita juga harus menghubungi pihak terkait jika kita melihat anak yang sedang merasakan frustrasi atau depresi. Kita tidak bisa biarkan kasus seperti ini terjadi lagi 😒.
 
ini salah satu kasus yang memang terasa sedih banget πŸ€• aku pikir apa yang bikin anak muda seperti itu rasanya begitu sedih dan frustrasi? rasanya kayaknya ada sesuatu yang bisa dibantu, tapi siapa tahu apa yang sebenarnya bikin rasa itu... kayaknya pemerintah harus buka diri dan cari tahu dari mana masalah itu berasal πŸ€”
 
Oooh, ini kasus bunuh diri anak kecil, sih πŸ˜­πŸ€•. Kalau aku pikirkan, bagaimana kalau kita ajak semua orang di sekitar anak itu untuk membantu, nggak perlu masalah begitu parah. Ibu korbannya bekerja keras sebagai petani, tapi apa dia bisa memenuhi kebutuhan anaknya sendiri? Kita harus berusaha cari solusi yang lebih baik, nggak hanya memberi bantuan saja, tapi juga belajar bagaimana mengatasi masalah ini secara akurat. Aku rasa kita harus lebih sadar tentang pentingnya mendukung anak-anak kita πŸ€πŸΌπŸ’•.
 
ini kasus nyata yang bikin sedih banget, si anak itu masih berumur 10 tahun! siapa sih yang bisa memahami dia kalau kita tidak punya anak sendiri? tapi apa yang kita dapat lakukan kalau kita mengenal si anak itu? kita harus lebih ramah dan bantu dia, gak usah terlalu memikirkan uang dan apa-apa lagi. kenapa kita tidak buat program untuk membantu anak-anak SD yang kurang mampu membeli buku dan pena seperti itu? pasti bisa mengurangi kasus bunuh diri di masa depan!
 
Aku rasa gini buah hati anak muda di kalangan kita sekarang terlalu banyak tekanan dan stres karena kesulitan kehidupan yang tidak terkendali. Gak cuma kasus korban itu, aku sendiri pernah merasakan hal yang sama ketika aku masih sekolah menengah pertama. Aku punya ibu yang bekerja sambilan dan hidupnya serasa tidak ada jalan keluar. Tapi, aku tidak bubar bunuh diri karena aku tahu aku bisa mencari bantuan dari orang tua atau teman-temanku.

Aku rasa sekarang kita perlu ada platform yang lebih banyak di Indonesia yang dapat membantu anak muda seperti itu dengan memberikan dukungan psikologis dan sumber daya lainnya. Gak cuma itu, aku rasa kita juga perlu membuat sistem pendidikan yang lebih fleksibel dan fleksibilitas untuk memenuhi kebutuhan belajar anak-anak di kalangan kita sekarang. Kita harus tahu bahwa setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
 
ini kasus yang bikin hati sedih sekali... si kecil itu hanya 10 tahun dan sudah tidak bisa lagi menanggung beban hidupnya karena bayaran buku dan pena itu kayak apa ya? tolong sama tolong aja, gak butuh buat bunuh diri ngerasa apa apa. harus ada cara lain untuk membantu anak-anak seperti itu yang sedang menghadapi kesulitan hidup.
 
Coba dengar, rasanya sangatlah memprihkan kalau anak-anak kita yang masih kecil dan belia ini harus melewati kesulitan apa pun, apalagi karena tidak bisa membeli sesuatu yang sepekan 10 ribu rupiah. tapi apa yang harus dipikir lagi? di mana orang tua mereka bisa memberikan contoh bagaimana cara menghadapi masalah dengan cara yang positif? kadang-kadang orang tua juga sedang menghadapi kesulitan sendiri, bukan? jadi, aku pikir kita harus mencari solusi dari root of the problem, bukan hanya menutup mata dan harap-harap. tapi sepertinya, masih banyak yang belum terusir dengan masalah seperti ini... πŸ€”
 
Kalau sih kasus ini terlalu sedih banget, tapi aku pikir justru ada salah satu solusi. Ibu korban itu yang bekerja sebagai petani dan serabutan, kalau bisa ikut program bantuan pemerintah atau NGO-nya kan. Mungkin mereka bisa membantu banyak orang seperti ibunya, bahkan anak-anak SD yang tidak mampu membeli buku dan pena. Dan kalau korban itu sebelumnya sudah pernah meminta tolong kepada temannya atau keluarga, tapi dia tidak diakui, kalau mau kita cari tahu apa salahnya. Mungkin ada orang lain yang mau membantu dia, tapi malah dia sendiri yang takut menyerah.
 
ini gampang di bayangkan betapa kesedihan dan kesulitan hidup anak muda yang harus memilih antara membeli buku dan pena dengan kebutuhan sehari-hari keluarga. siapa tahu, mungkin jika kita dapat membantu mereka dengan mengumpulkan buku dan pena, atau bahkan memberikan bantuan uang untuk belanja, kasus seperti ini tidak perlu terjadi lagi

saya rasa penting sekali kita memahami bahwa kesulitan hidup anak muda banyak kali disebabkan oleh faktor luar, bukan hanya masalah pribadinya sendiri. jadi, kita harus cari akar masalah dan membantu mereka dengan baik, sehingga mereka tidak perlu melakukan tindakan yang sangat berat seperti bunuh diri
 
Maksudnya sih kasus anak kecil ini terlalu berat banget πŸ€•. Saya pikir apa yang bikin anak-anak SD seperti itu merasa sangat kesal dan frustrasi? Mungkin ada masalah sosial di sekolah, di rumah, atau bahkan pada orang tua mereka sendiri. Menurut Cak Imin, kita harus membuka diri untuk tolong-tolong siapa pun yang membutuhkan, tapi mungkin kita tidak selalu berhasil berkomunikasi dengan baik dengannya. Saya pikir perlu ada program pendidikan untuk anak-anak tentang mengelola emosi dan rasa frustrasi mereka, agar mereka tidak merasa salah satu atau malu membicarakan masalahnya πŸ€—.
 
Kasus itu sangat mempriai hati, gue punya bayanganku yang sama, bagaimana bisa anak muda itu merasa begitu sedih dan frustrasi sehingga pilih jalan bunuh diri? Gue pikir lebih baik jika ada program bantuan yang lebih luas untuk anak muda seperti itu, bukan hanya sekedar membantu dengan uang. Yang penting adalah membuat mereka merasa tidak sendirian dan ada orang yang peduli dengan kehidupan mereka πŸ€•
 
Gue pikir Cak Imin nggak boleh sembarangan, kasus itu jelas perlu dipecahkan dari sumbernya, bukannya hanya menampakan cambuk. Gue rasa penting juga kita lihat bagaimana sistem pendidikan di Indonesia nggak mampu memberikan akses yang adil untuk semua anak, terutama dari keluarga yang sedang menderita. Gue tidak percaya bahwa Rp10.000 itu mahal banget, gue pikir itu bisa dibantu dengan cara kerja sosial atau program bantuan belajar yang lebih efektif.
 
ini kasus sangat berat banget, anak itu sendirian menghadapi kesulitan hidup dan tidak ada yang bisa membantunya. rasanya ini sangat nyaman di dada, siapa yang akan berani untuk membantu anak itu? perlu ada solusi cepat agar anak itu tidak kehilangan harapannya lagi πŸ€•
 
Wah, kasus ini benar-benar sedih banget πŸ˜”. Si anak SD itu sudah berusia 10 tahun, nggak usah bermaksud bunuh diri karena tidak bisa membeli buku dan pena yang harganya Rp10.000, nggak cuma soal kekurangan uang aja πŸ€¦β€β™‚οΈ. Mungkin ada hal lain di baliknya ya... seperti masalah keluarga yang sulit, atau kesulitan di sekolah? Menurut saya, kita harus lebih banyak membuka diri dan mendengar cerita dari anak-anak muda seperti itu, bukan cuma nggak tahu apa-apa. Kita juga harus cari cara untuk mengatasi masalah-masalah tersebut agar tidak memaksa mereka melakukan hal seperti itu πŸ€”.
 
Aku sengaja baca cerita kasus anak SD itu dan aku harus berbicara tentang apa yang terjadi padanya πŸ€•. Aku pikir itu adalah contoh bagaimana permasalahan sosial yang serius bisa membuat anak muda merasa tidak ada harapan. Tapi, kalau kita ambil waktu untuk pemikiran, aku pikir itu juga harus menjadi kesempatan bagi kita semua untuk berubah πŸ”„.

Kita harus memikirkan apakah kita bisa melakukan hal apa sibuk kita? Apakah kita bisa membantu anak-anak yang sedang menghadapi permasalahan yang serupa? Aku pikir itu adalah tanggung jawab kita sebagai masyarakat πŸ’–. Kita tidak boleh hanya menatap masalah, tapi juga harus bergerak untuk mengatasinya πŸ”„πŸ’ͺ
 
kembali
Top