Bursa Asia bergejolak, karena emas naik 3 persen, investor global terpancar pada IHSG setelah MSCI menangguhkan rebalancing indeks saham. Harga emas spot melonjak lebih dari 3 persen, logam mulia ini menginjak level US$5.500 per ons.
Investor global mendengar dengan antusiasan peningkatan harga emas dunia, seutuhnya setelah Federal Reserve menahan suku bunga acuan tetap di 3,5 persen hingga 3,75 persen. Harga emas spot naik lebih dari 3 persen.
Dikutip dari CNBC Internasional, indeks acuan Jepang Nikkei 225 meningkat 0,18 persen, namun indeks Topix merosot 0,57 persen. Di Korea Selatan, indeks Kospi melesat 1,09 persen, sedangkan indeks Kosdaq yang terdiri dari saham-saham berkapitalisasi kecil menguat sebesar 2,69 persen.
Namun, di Australia, indeks S&P/ASX 200 melambat 0,69 persen. Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong turun sebesar 4,16 persen, sedangkan kontrak berjangka indeks Hang Seng berada di level 27.565 hingga 27.826,91.
Kemudian, investor global terpancar pada pergerakan IHSG setelah MSCI menangguhkan pengaturan ulang (rebalancing) indeks saham yang dilakukan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Goldman Sachs turut menurunkan peringkat Indonesia menjadi underweight mempertimbangkan ekspektasi akan adanya aksi jual pasif lebih lanjut. Para ahli strategi bank Goldman Sachs menganggap perkembangan ini sebagai hambatan yang akan menahan kinerja pasar.
Pada bulan depan, Wall Street mencapai level 7.000 untuk pertama kalinya setelah indeks S&P 500 sempat meluncur. Namun, indeks acuan ini ditutup terkoreksi sebesar 0,01 persen setelah Federal Reserve menahan suku bunga acuannya.
Indeks Dow Jones Industrial Average meningkat 0,02 persen ke level 49.015,60, sedangkan Nasdaq Composite melambung 0,17 persen menjadi 23.857,45.
Investor global mendengar dengan antusiasan peningkatan harga emas dunia, seutuhnya setelah Federal Reserve menahan suku bunga acuan tetap di 3,5 persen hingga 3,75 persen. Harga emas spot naik lebih dari 3 persen.
Dikutip dari CNBC Internasional, indeks acuan Jepang Nikkei 225 meningkat 0,18 persen, namun indeks Topix merosot 0,57 persen. Di Korea Selatan, indeks Kospi melesat 1,09 persen, sedangkan indeks Kosdaq yang terdiri dari saham-saham berkapitalisasi kecil menguat sebesar 2,69 persen.
Namun, di Australia, indeks S&P/ASX 200 melambat 0,69 persen. Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong turun sebesar 4,16 persen, sedangkan kontrak berjangka indeks Hang Seng berada di level 27.565 hingga 27.826,91.
Kemudian, investor global terpancar pada pergerakan IHSG setelah MSCI menangguhkan pengaturan ulang (rebalancing) indeks saham yang dilakukan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Goldman Sachs turut menurunkan peringkat Indonesia menjadi underweight mempertimbangkan ekspektasi akan adanya aksi jual pasif lebih lanjut. Para ahli strategi bank Goldman Sachs menganggap perkembangan ini sebagai hambatan yang akan menahan kinerja pasar.
Pada bulan depan, Wall Street mencapai level 7.000 untuk pertama kalinya setelah indeks S&P 500 sempat meluncur. Namun, indeks acuan ini ditutup terkoreksi sebesar 0,01 persen setelah Federal Reserve menahan suku bunga acuannya.
Indeks Dow Jones Industrial Average meningkat 0,02 persen ke level 49.015,60, sedangkan Nasdaq Composite melambung 0,17 persen menjadi 23.857,45.