Broken Strings dan Dinamika Persetujuan Hubungan Relasional

Dalam hubungan relasional, persetujuan sering kali dipandang sebagai keputusan individu yang sederhana. Sebenarnya, proses ini jauh lebih kompleks dan terjadi melalui interaksi kuasa tertentu. Makna dalam hubungan dikelola bersama melalui pola interaksi yang berulang, sehingga apa yang dianggap normal atau wajar dalam sebuah relasi muncul dari proses negosiasi simbolik yang terus-menerus.

Kerangka ini relevan ketika dikaitkan dengan memoar Aurelie Moeremans, "Broken Strings Fragments of a Stolen Youth". Dalam kisah tersebut, pola komunikasinya terungkap: batas personal digeser secara bertahap, penolakan ditanggapi sebagai ketidakdewasaan, dan rasa bersalah dibangun melalui bahasa afeksi. Tidak ada dinamika dramatis yang eksplisit; yang hadir bujukan, normalisasi, dan tuntutan emosional yang terus berulang.

Persetujuan dalam hubungan sering kali muncul di akhir rangkaian interaksi yang panjang, bukan sebagai titik awal keputusan. Konsep "framing" dari Erving Goffman membantu menjelaskan proses ini. Setiap interaksi sosial selalu berlangsung dalam definisi situasi tertentu: siapa yang berhak menentukan apa yang sedang terjadi, dan bagaimana peristiwa itu dipahami.

Dalam konteks hubungan intim, relasi dibingkai sebagai cinta, kedewasaan, dan komitmen. Penolakan dipersepsikan sebagai kegagalan personal, sementara tekanan dipahami sebagai bagian dari dinamika hubungan. Bahasa membentuk batas realitas, sekaligus menentukan ruang gerak tindakan.

Pemikiran Michel Foucault menunjukkan bahwa kekuasaan bekerja melalui wacana dan normalisasi. Bahasa membentuk apa yang dianggap masuk akal, pantas, dan layak diterima. Dalam relasi intim yang timpang, wacana tentang cinta dan pengorbanan berfungsi sebagai mekanisme disipliner: individu menginternalisasi tuntutan relasi sebagai bagian dari identitas dirinya sendiri.

Dimensi gender memperkuat proses ini. Julia Wood menunjukkan bahwa perempuan disosialisasikan untuk menjaga harmoni relasi, menghindari konflik, dan mengutamakan kebutuhan orang lain. Dalam konteks tersebut, pengalaman Aurelie merepresentasikan pola sosial yang lebih luas. Mengatakan "tidak" membawa konsekuensi simbolik: dianggap egois, tidak dewasa, atau tidak cukup peduli terhadap pasangan.

Persetujuan dalam hubungan muncul sebagai produk interaksi: hasil dari bahasa, "framing", relasi kuasa, dan norma gender yang saling bertaut. Ketika seseorang akhirnya mengatakan "ya", pertanyaan analitisnya terletak pada proses komunikatif yang membentuk keputusan tersebut.

Dalam konteks kehidupan di Indonesia, dinamika ini diperkuat oleh budaya sungkan dan struktur relasi yang hierarkis. Perbedaan usia, status sosial, reputasi, atau posisi profesional sering dimaknai sebagai legitimasi simbolik untuk menentukan arah interaksi.
 
Bisa jadi, hubungan kita di Indonesia serupa juga di luar negeri... tapi apa yang membuatnya berbeda adalah bagaimana kita menghadapinya 🤔. Di sini, aku pikir penting buat kita memahami bahwa persetujuan bukan hanya tentang apa yang kita katakan, tapi tentang apa yang kita lakukan secara tidak sadar 😊. Misalnya, ketika kita lebih mau mendengarkan daripada berbicara, itu juga merupakan bentuk kekuasaan... tapi dalam konteks hubungan, dia tidak terlihat sebagai kekuasaan yang dominant 🤷‍♂️.
 
Aku pikir kalau persetujuan dalam hubungan relasional itu bisa jadi tidak sepenuhnya tentang interaksi kuasa dan normalisasi, tapi juga tentang bagaimana kita sendiri bekerja untuk mencapai kepuasan dalam hubungan tersebut 🤔. Aku juga rasa aku salah, karena kalau kita lihat dari perspektif Michel Foucault, bahasa itu memang membentuk apa yang dianggap masuk akal dan pantas, tapi itu bukan berarti individu tidak memiliki pilihan dalam membuat keputusan 🤷‍♂️. Aku pikir aku sendiri terlalu cepat mengikuti pola sosial, tapi kalau kita lihat dari Julia Wood, perempuan memang disosialisasikan untuk menjaga harmoni relasi, tapi itu tidak berarti mereka tidak memiliki kebebasan dalam membuat pilihan 🤷‍♀️. Aku malah rasa aku lebih suka mengikuti arah yang berlawanan, karena kalau kita lihat dari Erving Goffman, framing itu bisa jadi cara untuk menentukan apa yang dianggap normal dan pantas 🙃.
 
Makanya gini aku pikir persetujuan dalam hubungan relasional itu jadi hal yang sederhana aja? Nah sepertinya itu salah sekali! Aku pikir itu proses yang sangat kompleks, seperti kerangka yang terus berubah-ubah. Batas personal digeser secara bertahap, penolakan ditanggapi sebagai ketidakdewasaan... apa aku salah? Mereka bilang komunikasi Aurelie Moeremans itu keren aja! Tapi aku pikir bahasa afeksi yang dibangun melalui rasa bersalah itu lebih kompleks lagi. Maksudnya, tidak ada dinamika dramatis yang eksplisit, tapi normalisasi dan tuntutan emosional yang terus berulang. Aku jadi penasaran... apa itu "framing" dari Erving Goffman? Dan bagaimana peristiwa itu dipahami dalam definisi situasi tertentu? Maksudnya, siapa yang berhak menentukan apa yang sedang terjadi dan bagaimana peristiwa itu dipahami? Aku pikir itu proses yang sangat kompleks! 🤯👀
 
Aku pikir kalo kita fokus pada aspek komunikasi dalam hubungan, tapi kita lupa lagi pada bagaimana kekuasaan berperan dalam proses ini 🤔. Makanya, perlu diingat bahwa bahasa dan wacana memang membentuk apa yang dianggap normal atau masuk akal dalam relasi intim. Ini bukan hanya tentang "ya" atau "tidak", tapi juga tentang bagaimana kita memahami dan menginterpretasikan pesan-pesan tersebut. Dan sepertinya, dalam konteks Indonesia, kita harus lebih sadar akan pengaruh budaya sungkan dan struktur relasi yang hierarkis dalam membentuk komunikasi dalam hubungan 💬.
 
gampang banget, kalau kita lihat kasus Aurelie Moeremans, dia justru menolak hubungan karena merasa tidak nyaman dengan pola komunikasinya. tapi yang terjadi, dia tidak bisa mengatakan "tidak" secara langsung, dia harus menggunakan bahasa afeksi dan penolakan yang dipahami sebagai ketidakdewasaan. itu jadi, makin sulit baginya menolak hubungan tersebut.

saya rasa ini juga mengulangi diri dengan budaya sungkan kita sendiri, di mana kita sering kali malu untuk mengatakan tidak atau meminta hal yang kita inginkan karena takut ditolak atau dipernah. tapi itu salah cara, kita harus belajar untuk mengatakan "tidak" secara langsung dan berani menolak apa yang tidak kita inginkan.

dan yang paling penting, persetujuan dalam hubungan bukan tentang keputusan individu, tapi tentang proses interaksi yang kompleks dan saling mempengaruhi. kita harus belajar untuk mengerti dan menghargai perbedaan dalam relasi kita, bukan mencoba menenggelamkannya. 🤝
 
Maksudnya ya, persetujuan dalam hubungan sengaja tidak begitu mudah dicapai, kan? Seringkali kita pikir dia sudah setuju, tapi ternyata masih ada hal-hal yang dihindari. Seperti aku sendiri, aku pernah saling berbicara dengan pacar aku di masa lalu, tapi aku rasa aku tidak menyampaikan diri dengan baik. Aku merasa aku harus selalu menjaga nuansa, agar tidak membuat dia merasa tidak nyaman. Tapi ternyata itu hanya menyebabkan aku menjadi lebih santai, dan aku bisa mengekspresikanku dengan lebih bebas.

Aku pikir itu penting untuk dipelajari, bukan? Bagaimana kita bisa saling memahami dan menghargai kebutuhan masing-masing? Saya rasa itu kunci dari sebuah hubungan yang sehat. 💬👫
 
Gampang banget sih nih. Persetujuan dalam hubungan relasional itu bukan cuma tentang orang yang punya pendapat apa sapa, tapi juga bagaimana cara mereka berkomunikasi dengan orang lain. Nah, aku pikir konsep "framing" dari Erving Goffman benar-benar penting di sini. Iki diajukan sebagai cara untuk memahami bagaimana kita membentuk keputusan dan makna dalam relasional.

Tapi, apa yang membuatku penasaran nih adalah bagaimana budaya sungkan kita berlaku seperti itu di Indonesia. Kita sering mengutamakan ketertiban dan harmoni dalam hubungan, tapi aku rasa itu bisa bikin kita kewalahan dengan diri sendiri. Misalnya, ketika aku ingin mengatakan "tidak" pada orang lain, aku rasa aku harus berpikir lebih panjang untuk bukannya langsung mengatakan itu. Iki diajukan sebagai tuntutan emosional yang kita miliki dalam relasi.

Jadi, aku pikir persetujuan dalam hubungan relasional itu benar-benar kompleks dan memerlukan perhatian yang lebih dekat.
 
Gue pikir persetujuan dalam hubungan relasional bukan cuma tentang apa yang dianggap normal, tapi juga bagaimana bahasa kita bisa mempengaruhi apa yang dianggap wajar atau tidak. Seperti bagaimana Aurelie Moeremans menulis bahwa "tidak" itu bisa memiliki konsekuensi simbolik yang berbeda-beda, tergantung pada konteksnya. Gue juga pikir penting untuk memahami dinamika kuasa dalam hubungan, karena sering kali kita lupa bahwa ada banyak faktor yang mempengaruhi proses komunikasi kita. 🤔💬
 
Kalau kita lihat kehidupan romantis di Indonesia, seringkali ada perasaan bahwa "ya" itu sudah menjadi pilihan yang tepat karena orang lain udah banyak berbicara dan memaksakan halnya. Nah, itu juga bisa jadi strategi kita untuk tidak membuat orang lain marah atau kecewa. Tapi, kalau kita benar-benar terbuka untuk percaya diri dan mengekspresikan perasaan kita sendiri, mungkin persetujuan itu nggak selalu menjadi pilihan yang "tepat" ya?

Kita juga harus ingat bahwa tidak ada kebenaran satu-satu dalam hubungan. Yang penting adalah kita bisa hidup bersama dengan rasa hormat dan saling mengerti. Jadi, kalau kamu merasa "ya", pastikan itu karena alasanmu sendiri, bukan hanya untuk memuaskan orang lain ya?
 
aku pikir kisah Aurelie Moeremans memang sangat relevan dengan banyak hubungan relasional di Indonesia 🤔. tapi, aku rasa kalau persetujuan dalam hubungan itu tidak bisa dipandang sembarangan, kalau bukan karena ada dinamika kuasa yang makin kompleksnya terlihat dalam bahasa dan pola komunikasi yang saling berinteraksi 🗣️. seperti apa itu normalisasi? bagaimana cara kita menentukan batas realitas dalam hubungan intim? aku ingin mendiskusinya lebih lanjut 💬
 
Gue rasa kalo persetujuan dalam hubungan gampang dipahami, tapi sebenarnya prosesnya jauh lebih kompleks 😊. Gue bayangkan ketika kita berbicara dengan pasangan, kita nggak hanya bicara tentang apa yang kita inginkan, tapi juga tentang bagaimana kita ingin membuat pasangan merasa nyaman dan terima apapun yang kita lakukan. Itu proses "framing" yang dijabarkan oleh Erving Goffman, yaitu cara kita memahami situasi dan menentukan siapa yang berhak menentukan apa yang sedang terjadi 🤔.

Gue juga rasa kalo konsep "normalisasi" dari Michel Foucault sangat relevan di Indonesia. Kita nggak hanya bicara tentang apa yang kita inginkan, tapi juga tentang bagaimana kita ingin membuat pasangan merasa nyaman dan terima apapun yang kita lakukan. Itu proses normalisasi yang membentuk keputusan kita dalam hubungan.

Dan gue rasa kalo pengalaman Aurelie Moeremans sangat relevan di Indonesia, khususnya di kalangan perempuan. Kita nggak hanya bicara tentang apa yang kita inginkan, tapi juga tentang bagaimana kita ingin membuat pasangan merasa nyaman dan terima apapun yang kita lakukan. Itu proses sosialisasi yang membentuk pola komunikasi kita dalam hubungan 💬.

Gue rasa kalo konsep "framing" dan "normalisasi" sangat penting untuk dipahami dalam konteks kehidupan di Indonesia, terutama dalam hubungan intim. Kita nggak hanya bicara tentang apa yang kita inginkan, tapi juga tentang bagaimana kita ingin membuat pasangan merasa nyaman dan terima apapun yang kita lakukan 🙏.
 
Kalau gitu, persetujuan dalam hubungan relasional gini kayaknya super kompleks. Maksudnya tidak sekedar tentang yang mau dan yang tidak mau, tapi juga ada faktor-faktor lain seperti kuasa, simbolisme, dan norma gender yang mempengaruhi proses tersebut. Seperti katanya dalam memoir Aurelie Moeremans, pengalaman pribadinya terjadi karena ia mencoba untuk menyesuaikan diri dengan apa yang diharapkan oleh orang lain.

Aku pikir ini relevan banget dengan kehidupan kita sehari-hari, terutama di Indonesia. Di sini, kita sering melihat bahwa persetujuan dalam hubungan relasional muncul dari proses interaksi yang panjang dan kompleks, bukan sekedar tentang satu-satunya pilihan. Dan yang jadi, kita harus memahami bahwa bahasa dan "framing" adalah faktor-faktor yang sangat penting dalam membentuk keputusan tersebut.
 
kembali
Top