Amerika Serikat, negeri paman sam yang memang berpengaruh besar di dunia ini, menembus batas utangnya hingga mencapai angka sekitar Rp641,820 triliun. Skenario ini membuat masyarakat dan pengusaha keberatan, karena menurut mereka utang terlalu tinggi dan dapat menyebabkan krisis ekonomi di masa depan.
Sementara itu, laporan yang diterbitkan oleh lembaga yang menilai fiskal tanpa partai, yaitu Committee for a Responsible Federal Budget (CRFB), menyatakan bahwa utang AS berpotensi tumbuh lebih cepat dibanding perekonomian AS sendiri. Menurut CRFB, hal ini memicu risiko terjadinya krisis apabila tidak ada perbaikan.
Kondisi ini membuat beban utang menjadi semakin berat dan dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi menjadi lambat. Skenario yang dianggap paling mengkhawatirkan adalah krisis austeritas, di mana kepercayaan pasar melemah sehingga pembuat kebijakan terpaksa melakukan pemangkasan belanja besar-besaran atau menaikkan pajak secara cepat untuk meredam kepanikan.
Jika terjadi kontraksi fiskal setara 5% dari PDB, maka pertumbuhan ekonomi dapat menjadi penyusutan ekonomi sekitar 3%. Skenario ini berpotensi memicu resesi lebih dalam dibanding periode pascaperang yang disertai lonjakan pengangguran dan meningkatnya penutupan bisnis.
Sementara itu, laporan yang diterbitkan oleh lembaga yang menilai fiskal tanpa partai, yaitu Committee for a Responsible Federal Budget (CRFB), menyatakan bahwa utang AS berpotensi tumbuh lebih cepat dibanding perekonomian AS sendiri. Menurut CRFB, hal ini memicu risiko terjadinya krisis apabila tidak ada perbaikan.
Kondisi ini membuat beban utang menjadi semakin berat dan dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi menjadi lambat. Skenario yang dianggap paling mengkhawatirkan adalah krisis austeritas, di mana kepercayaan pasar melemah sehingga pembuat kebijakan terpaksa melakukan pemangkasan belanja besar-besaran atau menaikkan pajak secara cepat untuk meredam kepanikan.
Jika terjadi kontraksi fiskal setara 5% dari PDB, maka pertumbuhan ekonomi dapat menjadi penyusutan ekonomi sekitar 3%. Skenario ini berpotensi memicu resesi lebih dalam dibanding periode pascaperang yang disertai lonjakan pengangguran dan meningkatnya penutupan bisnis.