BPNB Mengajukan Pinjaman Luar Negeri untuk Pencegahan Bencana
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, meminta persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (DPR) agar bisa mendapatkan dana tambahan dari pinjaman luar negeri untuk memenuhi kebutuhan anggaran pencegahan bencana. Hal ini dilakukan karena APBN terbatas dan BNPB harus berupaya untuk meningkatkan kemampuan penanggulangan bencana dalam aspek pencegahan.
Anggaran pencegahan BNPB relatif terbatas, berkisar antara Rp17 miliar hingga Rp19 miliar per tahun. Namun, BNPB berhasil memperoleh pinjaman luar negeri sebesar Rp949,168,712,486 yang digunakan untuk membangun pusat pengendalian operasi di 34 provinsi dan 30 kabupaten kota.
Suharyanto menyampaikan bahwa BNPB telah mendapatkan beberapa pinjaman luar negeri dalam lima tahun terakhir ini untuk meningkatkan kemampuan BNPB dalam pra bencana atau pencegahan. Selain itu, BNPB juga memanfaatkan dana siap pakai untuk membangun pencegahan sebagai persiapan menghadapi kemungkinan bencana di masa depan.
Pihak BNPB bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merumuskan konsep peringatan dini gempa bumi dan tsunami. Di sepanjang pantai yang seringkali terjadi gempa bumi dan tsunami, sudah ada sensor-sensor untuk mengirimkan peringatan dini kepada pusat pengendalian operasi.
Suharyanto juga menyampaikan bahwa potensi terjadinya tanah longsor di tanah air harus menjadi perhatian, karena banyak daerah yang mengalami bencana longsor. Dari data BNPB pada 2025, terjadi 2009 bencana hidrometeorologi basah yang menelan 1.353 orang meninggal dunia dan 182 orang hilang, di mana 330 kali adalah bencana tanah longsor dengan korban 237 orang meninggal dan 31 hilang.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, meminta persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (DPR) agar bisa mendapatkan dana tambahan dari pinjaman luar negeri untuk memenuhi kebutuhan anggaran pencegahan bencana. Hal ini dilakukan karena APBN terbatas dan BNPB harus berupaya untuk meningkatkan kemampuan penanggulangan bencana dalam aspek pencegahan.
Anggaran pencegahan BNPB relatif terbatas, berkisar antara Rp17 miliar hingga Rp19 miliar per tahun. Namun, BNPB berhasil memperoleh pinjaman luar negeri sebesar Rp949,168,712,486 yang digunakan untuk membangun pusat pengendalian operasi di 34 provinsi dan 30 kabupaten kota.
Suharyanto menyampaikan bahwa BNPB telah mendapatkan beberapa pinjaman luar negeri dalam lima tahun terakhir ini untuk meningkatkan kemampuan BNPB dalam pra bencana atau pencegahan. Selain itu, BNPB juga memanfaatkan dana siap pakai untuk membangun pencegahan sebagai persiapan menghadapi kemungkinan bencana di masa depan.
Pihak BNPB bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merumuskan konsep peringatan dini gempa bumi dan tsunami. Di sepanjang pantai yang seringkali terjadi gempa bumi dan tsunami, sudah ada sensor-sensor untuk mengirimkan peringatan dini kepada pusat pengendalian operasi.
Suharyanto juga menyampaikan bahwa potensi terjadinya tanah longsor di tanah air harus menjadi perhatian, karena banyak daerah yang mengalami bencana longsor. Dari data BNPB pada 2025, terjadi 2009 bencana hidrometeorologi basah yang menelan 1.353 orang meninggal dunia dan 182 orang hilang, di mana 330 kali adalah bencana tanah longsor dengan korban 237 orang meninggal dan 31 hilang.