Korban Keracunan MBG di Lembang Dipicu Kadar Nitrit Tinggi, Bukan Masalah Air!
Pada Oktober lalu, siswa-siswa di sekolah mengejutkan banyak dengan gejala-gejala keracunan makanan bergizi gratis (MBG) di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Banyak korban yang mengalami gejala-gejala seperti sakit kepala, muntah, dan pusing.
Ketua Tim Investigasi Independen Badan Gizi Nasional (BGN), Arie Karimah Muhammad, menyatakan bahwa penyebab utama insiden ini adalah tingginya kadar nitrit dalam makanan. "Kesimpulan kami adalah keracunan disebabkan tingginya kadar nitrit dalam makanan," kata Arie.
Investigasi yang dilakukan oleh tim BGN menemukan bahwa makanan yang mengandung nitrit berasal dari dua satuan penyedia pangan gizi (SPPG) di daerah tersebut, yaitu SPPG Kayu Ambon dan SPPG Cibodas 2. Di kedua satuan ini, nitrit positif terdeteksi pada menu makanan yang disajikan kepada siswa-siswa.
Menurut Arie, tingginya kadar nitrit di kedua satuan tersebut disebabkan oleh pupuk tanaman yang digunakan untuk menumbuhkan sayuran. "Kadarnya kemungkinan melebihi batas aman yang dapat ditoleransi tubuh," kata Arie.
Tim investigasi juga menemukan bahwa gejala-gejala keracunan muncul pada malam hari, karena nitrit berubah menjadi Nitric Oxide (NO) dan memberikan efek positif seperti menurunkan tekanan darah. Namun, dalam kadar berlebih, nitrit mengganggu kemampuan darah membawa oksigen ke seluruh tubuh.
Sebagai hasil dari investigasi, Arie menjelaskan bahwa faktor kimia, yaitu nitrit, menjadi penyebab utama insiden ini. Dia juga menyatakan bahwa sudah banyak bukti yang menunjukkan bahwa nitrit dapat meningkat bila tanaman mendapat tambahan pupuk yang mengandung nitrit tinggi atau bahan pengawet.
Namun, perlu diingat bahwa gejala-gejala keracunan makanan juga dapat disebabkan oleh faktor-faktor lain, seperti masalah air dalam makanan. Oleh karena itu, Arie meminta agar pihak berwenang untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan menemukan penyebab akhir dari insiden ini.
Sementara itu, BGN juga menyatakan bahwa sudah melakukan penilaian kembali keamanan air yang disediakan oleh kedua satuan SPPG di daerah tersebut. "Kami akan terus memantau dan meningkatkan keamanan air yang disediakan untuk mencegah terjadinya insiden seperti ini lagi," kata Arie.
Jika Anda mengalami gejala-gejala keracunan makanan, segera hubungi dokter atau fasilitas perawatan yang terdekat.
Pada Oktober lalu, siswa-siswa di sekolah mengejutkan banyak dengan gejala-gejala keracunan makanan bergizi gratis (MBG) di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Banyak korban yang mengalami gejala-gejala seperti sakit kepala, muntah, dan pusing.
Ketua Tim Investigasi Independen Badan Gizi Nasional (BGN), Arie Karimah Muhammad, menyatakan bahwa penyebab utama insiden ini adalah tingginya kadar nitrit dalam makanan. "Kesimpulan kami adalah keracunan disebabkan tingginya kadar nitrit dalam makanan," kata Arie.
Investigasi yang dilakukan oleh tim BGN menemukan bahwa makanan yang mengandung nitrit berasal dari dua satuan penyedia pangan gizi (SPPG) di daerah tersebut, yaitu SPPG Kayu Ambon dan SPPG Cibodas 2. Di kedua satuan ini, nitrit positif terdeteksi pada menu makanan yang disajikan kepada siswa-siswa.
Menurut Arie, tingginya kadar nitrit di kedua satuan tersebut disebabkan oleh pupuk tanaman yang digunakan untuk menumbuhkan sayuran. "Kadarnya kemungkinan melebihi batas aman yang dapat ditoleransi tubuh," kata Arie.
Tim investigasi juga menemukan bahwa gejala-gejala keracunan muncul pada malam hari, karena nitrit berubah menjadi Nitric Oxide (NO) dan memberikan efek positif seperti menurunkan tekanan darah. Namun, dalam kadar berlebih, nitrit mengganggu kemampuan darah membawa oksigen ke seluruh tubuh.
Sebagai hasil dari investigasi, Arie menjelaskan bahwa faktor kimia, yaitu nitrit, menjadi penyebab utama insiden ini. Dia juga menyatakan bahwa sudah banyak bukti yang menunjukkan bahwa nitrit dapat meningkat bila tanaman mendapat tambahan pupuk yang mengandung nitrit tinggi atau bahan pengawet.
Namun, perlu diingat bahwa gejala-gejala keracunan makanan juga dapat disebabkan oleh faktor-faktor lain, seperti masalah air dalam makanan. Oleh karena itu, Arie meminta agar pihak berwenang untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan menemukan penyebab akhir dari insiden ini.
Sementara itu, BGN juga menyatakan bahwa sudah melakukan penilaian kembali keamanan air yang disediakan oleh kedua satuan SPPG di daerah tersebut. "Kami akan terus memantau dan meningkatkan keamanan air yang disediakan untuk mencegah terjadinya insiden seperti ini lagi," kata Arie.
Jika Anda mengalami gejala-gejala keracunan makanan, segera hubungi dokter atau fasilitas perawatan yang terdekat.