Pameran Bully: Aurelie Moeremans Mengkhawatirkan Artis di Indonesia yang Dikaitkan dengan Buku Breaknig Strings
Dalam beberapa hari terakhir, pameran bully terhadap sejumlah artis Indonesia telah memicu perhatian masyarakat. Salah satunya adalah Aurelie Moeremans, penulis buku Broken Strings yang mengangkat pengalaman pribadi terkait hubungan toxic dan manipulasi emosional.
Aurelie Moeremans menutup penipuan warganet yang meluapkan komentar negatif dan serangan terhadap karakter-karakter di dalam buku tersebut. Ia mengingatkan netizen untuk menghentikan serangan dan spekulasi berlebihan yang berujung pada aksi bullying.
"Plis jangan membully atau menyerang karakter-karakter yang ada di dalam buku, apalagi kalau itu masih sebatas tebakan-tebakan. Banyak asumsi di luar sana yang belum tentu benar dan jujur aku gak enak bacanya," tulis Aurelie Moeremans.
Aurelie memang mengangkat pengalaman pribadi terkait hubungan toxic dan manipulasi emosional, tetapi ia menekankan bahwa fokus cerita tersebut bukanlah untuk membuka identitas orang-orang di dunia nyata. "Fokusnya adalah pengalaman, luka, dan proses penyembuhan yang aku bagikan dengan sangat jujur," lanjutnya.
Meski demikian, sebagian pihak merasa terseret dan bahkan mengklaim diri mereka sebagai karakter tertentu dalam buku tersebut. Aurelie menegaskan bahwa hal itu berada di luar tanggung jawabnya sebagai penulis.
"Aku nulis buku ini bukan untuk menciptakan target baru buat dibully. Aku nulis karena ingin membuka mata, member awareness, dan semoga bisa membantu orang lain yang pernah berada di posisi yang sama," lanjutnya.
Aurelie Moeremans mengharapkan masyarakat untuk tetap bijak dan tidak membiarkan serangan bullying menghantam artis-artis Indonesia. Ia berharap buku tersebut justru bisa membuka mata masyarakat tentang pentingnya empati terhadap korban relasi abusif.
Dalam beberapa hari terakhir, pameran bully terhadap sejumlah artis Indonesia telah memicu perhatian masyarakat. Salah satunya adalah Aurelie Moeremans, penulis buku Broken Strings yang mengangkat pengalaman pribadi terkait hubungan toxic dan manipulasi emosional.
Aurelie Moeremans menutup penipuan warganet yang meluapkan komentar negatif dan serangan terhadap karakter-karakter di dalam buku tersebut. Ia mengingatkan netizen untuk menghentikan serangan dan spekulasi berlebihan yang berujung pada aksi bullying.
"Plis jangan membully atau menyerang karakter-karakter yang ada di dalam buku, apalagi kalau itu masih sebatas tebakan-tebakan. Banyak asumsi di luar sana yang belum tentu benar dan jujur aku gak enak bacanya," tulis Aurelie Moeremans.
Aurelie memang mengangkat pengalaman pribadi terkait hubungan toxic dan manipulasi emosional, tetapi ia menekankan bahwa fokus cerita tersebut bukanlah untuk membuka identitas orang-orang di dunia nyata. "Fokusnya adalah pengalaman, luka, dan proses penyembuhan yang aku bagikan dengan sangat jujur," lanjutnya.
Meski demikian, sebagian pihak merasa terseret dan bahkan mengklaim diri mereka sebagai karakter tertentu dalam buku tersebut. Aurelie menegaskan bahwa hal itu berada di luar tanggung jawabnya sebagai penulis.
"Aku nulis buku ini bukan untuk menciptakan target baru buat dibully. Aku nulis karena ingin membuka mata, member awareness, dan semoga bisa membantu orang lain yang pernah berada di posisi yang sama," lanjutnya.
Aurelie Moeremans mengharapkan masyarakat untuk tetap bijak dan tidak membiarkan serangan bullying menghantam artis-artis Indonesia. Ia berharap buku tersebut justru bisa membuka mata masyarakat tentang pentingnya empati terhadap korban relasi abusif.