Bahaya Aksi AS di Amerika Latin dan Ujian Politik Bebas Aktif RI

Aksi serangkaian AS terhadap Venezuela dan negara-negara Amerika Latin sebenarnya bukan berarti pelaku menyerang, tetapi lebih kepada mengancam dan menekan. Trump menggelar langkah yang melibatkan serangan militer dan penculikan kepala negara Nicolás Maduro. Kedua hal ini memiliki tujuan utama untuk menanap kembali kepentingan AS di benua Amerika.

AS memang telah menjadi pemimpin ekonomi dunia, namun pengaruhnya juga sangat besar dalam bidang politik dan militer. Oleh karena itu, ketika ada ancaman terhadap kedaulatan AS, AS tidak akan melepaskan tangan. Trump ingin menegaskan bahwa AS masih menjadi negara yang kuat di Amerika Latin.

Dalam kasus Venezuela, penguasaan AS akan sangat berdampak bagi negara tersebut karena memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Dengan kejadian kemarin dan kontrol atas Caracas, Trump mengancam Maduro untuk menangkapnya. Ini memang merupakan upaya peningkatan pengaruh AS yang tidak pernah dimulai sebelumnya.

Pemerintah Venezuela berbicara bahwa ini adalah serangan militer AS terhadap negara mereka, tapi yang dianggap serius oleh Trump adalah ada ketidakstabilan dan keamanan global. Oleh karena itu, menurut Edwin Martua Bangun Tambunan, aksi AS terhadap negara-negara Amerika Latin tidak hanya gertakan, melainkan upaya mengukuhkan posisi mereka di kawasan tersebut.

Pengaruh AS yang sangat besar pada Amerika Latin membuat banyak negara di sana berusaha untuk memperkuat hubungan diplomatik dan keamanan dengan AS. Namun, perlu diperhatikan bahwa menurut Aska, isu narkoba dan status negara gagal seringkali digunakan sebagai alibi oleh AS dalam melakukan intervensi militer.

Dengan demikian, peneliti dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, berpendapat bahwa penguasaan AS di Amerika Latin sangat berdampak bagi negara-negara tersebut karena memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Oleh karena itu, kedaulatan nasional harus disangga oleh kapasitas pertahanan yang kredibel dan memadai.

Aksi ini juga akan menjadi justifikasi Trump dalam mengambil langkah unilateral tanpa persetujuan Dewan Keamanan PBB. Menurut Aska, AS dapat melakukannya karena mereka memiliki kekuatan politik yang kuat dan tidak ada lembaga internasional yang bisa memblokir keputusannya.

Sikap bebas aktif, menurut Fahmi, bukan berarti pasif menonton atau sekadar menjadi penengah yang netral. Melainkan menuntut peran aktif untuk menjaga agar tatanan hukum internasional tidak runtuh digantikan oleh hukum rimba. Dalam kasus ini, Indonesia harus menyikapi dinamika aksi AS secara tenang, namun tetap menghitung aspek strategis.

Presiden Prabowo Subianto yang baru saja menjabat sebagai presiden Republik Indonesia juga seharusnya mempersiapkan diri untuk berhadapan dengan serangan AS terhadap Venezuela. Karena, menurut Aska, pelajaran paling krusial bagi sektor pertahanan Indonesia adalah semakin terkonfirmasinya kebutuhan akan diplomasi yang ditopang oleh hard power.

Oleh karena itu, Fahmi juga sangat menekankan pentingnya memperluas definisi keamanan nasional ke ranah non-militer. Gejolak di Venezuela sebenarnya membuktikan bahwa instabilitas geopolitik di satu kawasan dapat memicu guncangan energi dan ekonomi global yang pada akhirnya berpotensi mengganggu stabilitas dalam negeri.

Sementara itu, Aska menekankan bahwa tidak ada negara manapun yang akan menerima berada di bawah ancaman dan intimidasi AS. Oleh karena itu, Indonesia harus tegas menyuarakan bahwa serangan militer dan penculikan kepala negara aktif merupakan pelanggaran serius terhadap Piagam PBB Pasal 2 ayat 4 terkait kedaulatan wilayah.

Peneliti lainnya dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Edwin Martua Bangun Tambunan juga sangat mendukung pendekatan yang lebih aktif dalam berbagai bentuk, seperti diplomasi Ekuidistan. Dengan melakukan strategi ini, Indonesia dapat memaksimalkan kepentingan nasional dan tidak hanya menonton dari jauh tanpa ikut campur.
 
omg, gampang banget si Trump bikin Venezuela kaget deh! ancaman militer itu kayak gitu, tapi kemudian kalah karena Maduro kayaknya masih bisa bertahan 😂. tapi serius, AS mau menempati wilayah Amerika Latin, itu bukan mainan, tapi Indonesia harus teliti juga ya! 🤔 kita harus siap menghadapi ancaman strategis dari AS dan tidak hanya sekedar penonton di samping. diplomasi Ekuidistan yang disarankan Bangun Tambunan itu kayaknya bisa jadi opsi yang baik untuk kita, sehingga kita bisa lebih proaktif dalam menjaga kepentingan nasional 🚀
 
Kalau serangan AS terhadap Venezuela itu benar-benar bukan tujuannya untuk mengancam atau menekan, tapi sebenarnya itu adalah peristiwa yang sangat berat berdampak pada Venezuela karena memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Saya pikir ini memang akan sangat berdampak bagi negara tersebut dan juga Indonesia dalam arti bahwa banyak investor asing dari AS yang mungkin kehilangan kepentingan di Venezuela.

Sementara itu, saya setuju dengan pendapat Aska bahwa pelajaran paling krusial bagi sektor pertahanan Indonesia adalah semakin terkonfirmasinya kebutuhan akan diplomasi yang ditopang oleh hard power. Saya berharap pemerintah Indonesia dapat mempersiapkan diri untuk berhadapan dengan serangan AS secara tenang, namun tetap menghitung aspek strategis dan memperluas definisi keamanan nasional ke ranah non-militer.

Saya juga pikir bahwa tidak ada negara manapun yang akan menerima berada di bawah ancaman dan intimidasi AS. Oleh karena itu, Indonesia harus tegas menyuarakan bahwa serangan militer dan penculikan kepala negara aktif merupakan pelanggaran serius terhadap Piagam PBB Pasal 2 ayat 4 terkait kedaulatan wilayah. 🌎💪
 
Aku pikir asusila AS tujuannya benar-benar untuk menjaga kedaulatan negara mereka di Amerika Latin, tapi juga ada hal lain lagi. Kalau kita lihat sejarahnya, AS selalu berusaha agar negara-negara lain di benua tersebut menjadi vasal mereka. Misalnya kalau Brazil yang dibekuk oleh US pada tahun 60an, atau apa aja yang terjadi dengan Panama.

Aku rasa penjajahan modern ini bukan hanya tentang minyak, tapi juga tentang mengendalikan alur utama perdagangan global. Kita harus siap-siap kalau negara-negara lain di Amerika Latin mulai menantang kedaulatan AS seperti apa aja yang terjadi dengan Venezuela sekarang.

Dan siapa tahu kalau ini adalah awal dari perubahan besar di benua tersebut, dan kita harus siap untuk beradaptasi. Kita tidak boleh hanya tetap munginilah serangan AS saja, tapi juga harus mempertimbangkan opsi kita sendiri tentang bagaimana menjaga kedaulatan Indonesia di kawasan ini. 🤔💡
 
asek kalau gini aksi AS terhadap Venezuela sebenarnya keren nggak? 🤔 AS yang besar itu udah punya pengetahuannya, tapi apa sih yang salah mereka? 🙄 asalnya Venezuela kan suka mengeksport minyak? apa sih yang membuat Trump ingin mengambil alih kendali dari Maduro? 😒

berdasarkan data saya, Indonesia sendiri juga memiliki cadangan minyak sekitar 3,5 juta barrel, tapi apakah kita juga bisa menjadi target utama AS? 🤑 asalnya kita tidak ingin jadi target AS, kan? 🙅‍♂️

menurut data dari International Energy Agency (IEA), Venezuela memiliki cadangan minyak sekitar 308 miliar barrel, yang merupakan salah satu cadangan minyak terbesar di dunia. apakah ini yang membuat Trump ingin mengambil alih kendali? 🤔

sebenarnya kalau kita lihat dari data ekonomi, AS masih memiliki neraca perdagangan yang besar dengan negara-negara Amerika Latin. tapi apa sih yang salah kita tidak bisa menjadi bagian dari kerja sama ekonomi ini? 😔

tapi jadi asalnya Indonesia ingin mengambil alih strategi dari AS? 🤝 karena kita punya kemampuan pertahanan yang cukup baik, kan? 🙌 menurut data dari Global Firepower, Indonesia memiliki daya serang total sekitar 134,4 juta ton metrik, yang merupakan salah satu daya serang terbesar di Asia-Tenggara. 🤯

dan apa sih yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan kita? 🤔 menurut data dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), perlu kita memperluas definisi keamanan nasional ke ranah non-militer, seperti diplomasi dan ekonomi. 🌎

dan apa sih yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan hubungan diplomatik dengan AS? 🤝 menurut data dari United States Department of State, Indonesia memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan AS sejak tahun 1950-an. tapi apakah ini cukup untuk memenuhi kebutuhan kita? 🤔

sebenarnya kalau kita lihat dari data historis, ada beberapa kali AS telah mengambil alih strategi di Amerika Latin, seperti dalam kasus Cuba dan Panama. apa sih yang membuat Trump ingin melakukan hal yang sama dengan Venezuela? 🤔
 
pikiranya ini sih agak serius nih. aksi AS terhadap Venezuela bukan tentang apa lagi kalau bukan mengancam dan menekan negara tersebut agar tetap subordinate dengan AS 😐. kadang-kadang aksi seperti ini di luar batas yang wajar. tapi siapa tahu, mungkin ada alasan lain yang tidak kita ketahui 🤔.
 
Gue tanya lagi apa itu Ekuidistan? Apakah itu serius aja? Gue penasaran banget... 🤔💭 Bisa dibaca di google? Gue kalau tahu bisa saking cepat nulis jawabannya 😉
 
Gue rasa aksi AS ini serupa aksi kebohongan, tapi siapa tau ada yang tidak paham apa itu geopolitik di Amerika Latin 🤔. Mereka benar-benar ingin menunjukkan bahwa mereka tetap kuat dan dominan di kawasan tersebut, tapi gue ragu apakah itu bisa menjadi contoh bagi Indonesia untuk mengambil langkah serupa dalam menjaga kedaulatan kita sendiri 🙅‍♂️. Saya rasa Presiden Prabowo Subianto harus lebih cerdas dalam menghadapi situasi geopolitik ini, tidak hanya sekedar menunggu AS melakukan aksi sembarangan 💡.
 
Aku pikir kalau AS benar-benar ingin menegaskan kewalahan mereka di Amerika Latin, mereka harus lebih bijak dalam menangani situasi ini... nggak cuma terus-menerus mengancam dan menekan Venezuela. Mereka harus lebih fokus pada solusi yang konstruktif dan tidak hanya mengandalkan kekuatan militer. Ini bukan lagi permainan politik, tapi serius banget apabila terjadi konflik di Amerika Latin. Kita harus memantau situasi ini dengan hati-hati dan siap untuk memberikan dukungan yang tepat jika diperlukan...
 
kembali
Top