Konflik Antarsesama Elite PBNU Tambah Guncang, Rais Aam Jadi Pendamping Gus Yahya
Bergejolak di pengurusan Pemimpin Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), elite-elite organisasi Islamist ini sendiri yang berkecamuk. Kursi kekuasaan Ketua Umum PBNU, alias Gus Yahya, terguncang setelah eskalasi konflik internal PBNU.
Ternyata, Rais Aam memegang penuh kendali PBNU di tengah kekosongan ketua umum. Dalam surat edaran yang dibuat Wakil Rais Aam Afifuddin Muhajir dan Katib Ahmad Tajul Mafakhir, Nomor: 4785/PB.02/A.II.10.01/99/11/202, dinyatakan bahwa Rais Aam memegang penuh kendali PBNU di tengah kekosongan ketua umum.
Gus Yahya sendiri menolak keabsahan surat tersebut dan mengklaim hingga saat ini masih menjabat sebagai ketum. "Bahwa surat (edaran) itu adalah surat yang tidak sah, karena seperti bisa dilihat, masih ada watermark dengan tulisan draft, maka itu berarti tidak sah," kata Gus Yahya di Kantor PBNU.
Konflik internal PBNU telah mengajak elite-elite organisasi Islamis Indonesia berkecamuk. Surat edaran Rais Aam menjadi bukti kesedutan ini. Namun, Gus Yahya tetap optimis untuk menyelesaikan masalah ini dan mengaku siap menyelesaikan konflik ini.
"Untuk selanjutnya, selama kekosongan jabatan Ketua Umum PBNU sebagaimana dimaksud, maka kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sepenuhnya berada di tangan Rais Aam selaku Pimpinan Tertinggi Nahdlatul Ulama," kata Ahmad Tajul.
Sementara itu, posisi Gus Yahya sebagai ketum hanya bisa digantikan lewat mekanisme muktamar. Namun, kesepakatan antar elite-elite ini harus segera ditekan agar PBNU tidak terus berguncang.
Bergejolak di pengurusan Pemimpin Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), elite-elite organisasi Islamist ini sendiri yang berkecamuk. Kursi kekuasaan Ketua Umum PBNU, alias Gus Yahya, terguncang setelah eskalasi konflik internal PBNU.
Ternyata, Rais Aam memegang penuh kendali PBNU di tengah kekosongan ketua umum. Dalam surat edaran yang dibuat Wakil Rais Aam Afifuddin Muhajir dan Katib Ahmad Tajul Mafakhir, Nomor: 4785/PB.02/A.II.10.01/99/11/202, dinyatakan bahwa Rais Aam memegang penuh kendali PBNU di tengah kekosongan ketua umum.
Gus Yahya sendiri menolak keabsahan surat tersebut dan mengklaim hingga saat ini masih menjabat sebagai ketum. "Bahwa surat (edaran) itu adalah surat yang tidak sah, karena seperti bisa dilihat, masih ada watermark dengan tulisan draft, maka itu berarti tidak sah," kata Gus Yahya di Kantor PBNU.
Konflik internal PBNU telah mengajak elite-elite organisasi Islamis Indonesia berkecamuk. Surat edaran Rais Aam menjadi bukti kesedutan ini. Namun, Gus Yahya tetap optimis untuk menyelesaikan masalah ini dan mengaku siap menyelesaikan konflik ini.
"Untuk selanjutnya, selama kekosongan jabatan Ketua Umum PBNU sebagaimana dimaksud, maka kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sepenuhnya berada di tangan Rais Aam selaku Pimpinan Tertinggi Nahdlatul Ulama," kata Ahmad Tajul.
Sementara itu, posisi Gus Yahya sebagai ketum hanya bisa digantikan lewat mekanisme muktamar. Namun, kesepakatan antar elite-elite ini harus segera ditekan agar PBNU tidak terus berguncang.