Amerika Serikat (AS) menyambut kedatangan demonstran Iran dengan dalih bantuan, malah menyalahkan pemerintah Iran dalam kekacauan tersebut. Kepada rakyat Iran, Senator Lindsey Graham dari Partai Republik mengatakan bantuan Washington sedang dalam perjalanan untuk para demonstran.
Graham menulis di akun resmi Presiden AS (POTUS) bahwa "mimpi buruk panjang Anda akan segera berakhir. Keberanian dan tekad Anda untuk mengakhiri penindasan telah diperhatikan oleh @POTUS dan semua orang yang mencintai kebebasan". Ini adalah kalimat yang sangat menyerupai ungkapan dari Presiden Donald Trump, yang saat ini tidak lagi menjabat.
Tentu saja, langkah AS dalam menghadapi kekacauan di Iran sangat beragam. Kekacaian tersebut telah memunculkan kemarahan rakyat Iran dan mengakibatkan pembunuhan massa orang-orang yang ikut campur dalam demonstrasi. Ternyata, pihak AS tidak mau langsung mengakui kejadian tersebut dan lebih memilih untuk menyalahkan pemerintah Iran.
Dengan kata lain, asal-usul kekacauan di Iran tidak diketahui oleh pihak AS. Mereka hanya memilih untuk bertindak seperti penuntun yang tidak berpengetahuan. Ini merupakan contoh dari ketidakjelasan strategi kebijakan luar negeri AS dalam menghadapi konflik di negara-negara lain.
Akan tetapi, jangan salah paham bahwa AS tidak akan diam saja. Mereka akan terus melakukan aksi-aksi yang bertujuan untuk mempengaruhi hasil pertempuran tersebut. Yang perlu diingat adalah, AS telah berusaha menyalahkan pemerintah Iran dalam kekacauan tersebut, dan tentu saja ini merupakan strategi untuk mencapai tujuan mereka.
Dalam hal ini, AS tidak akan kalah jika memang melakukan segala cara untuk mengakui hasil pertempuran. Yang penting adalah harus berhati-hati dalam melakukan hal seperti itu agar tidak terjadi kekalahan atau bencana lainnya bagi orang-orang di Iran dan seluruh dunia.
Kerajaan tak berakhir hingga kerajaan jatuh, demikianlah yang diperlihatkan AS saat ini. Kini, asal-usul kekacauan tersebut tidak diketahui oleh pihak AS. Mereka hanya memilih untuk bertindak seperti penuntun yang tidak berpengetahuan.
Graham menulis di akun resmi Presiden AS (POTUS) bahwa "mimpi buruk panjang Anda akan segera berakhir. Keberanian dan tekad Anda untuk mengakhiri penindasan telah diperhatikan oleh @POTUS dan semua orang yang mencintai kebebasan". Ini adalah kalimat yang sangat menyerupai ungkapan dari Presiden Donald Trump, yang saat ini tidak lagi menjabat.
Tentu saja, langkah AS dalam menghadapi kekacauan di Iran sangat beragam. Kekacaian tersebut telah memunculkan kemarahan rakyat Iran dan mengakibatkan pembunuhan massa orang-orang yang ikut campur dalam demonstrasi. Ternyata, pihak AS tidak mau langsung mengakui kejadian tersebut dan lebih memilih untuk menyalahkan pemerintah Iran.
Dengan kata lain, asal-usul kekacauan di Iran tidak diketahui oleh pihak AS. Mereka hanya memilih untuk bertindak seperti penuntun yang tidak berpengetahuan. Ini merupakan contoh dari ketidakjelasan strategi kebijakan luar negeri AS dalam menghadapi konflik di negara-negara lain.
Akan tetapi, jangan salah paham bahwa AS tidak akan diam saja. Mereka akan terus melakukan aksi-aksi yang bertujuan untuk mempengaruhi hasil pertempuran tersebut. Yang perlu diingat adalah, AS telah berusaha menyalahkan pemerintah Iran dalam kekacauan tersebut, dan tentu saja ini merupakan strategi untuk mencapai tujuan mereka.
Dalam hal ini, AS tidak akan kalah jika memang melakukan segala cara untuk mengakui hasil pertempuran. Yang penting adalah harus berhati-hati dalam melakukan hal seperti itu agar tidak terjadi kekalahan atau bencana lainnya bagi orang-orang di Iran dan seluruh dunia.
Kerajaan tak berakhir hingga kerajaan jatuh, demikianlah yang diperlihatkan AS saat ini. Kini, asal-usul kekacauan tersebut tidak diketahui oleh pihak AS. Mereka hanya memilih untuk bertindak seperti penuntun yang tidak berpengetahuan.