Kembaran Magnet Bumi, Penyebab dan Dampaknya ke Indonesia yang Tak Pernah Terjadi Sebelumnya
Badai magnet bumi skala berat terjadi di Indonesia dini hari, 20 Januari 2026. Hal ini akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), badai magnet bumi atau badai geomagnetik adalah gangguan sementara pada magnetosfer Bumi. Penyebabnya adalah ledakan aktivitas Matahari moderat yang tinggi berupa suar Matahari kelas X1.9 pada 18 Januari 2026.
Badai Magnet Bumi, Apa Saja Dampaknya?
Dengan skala dampak badai magnet bumi ini terbagi menjadi lima klister, yaitu level G1 atau lemah, level G2 atau sedang, level G3 atau akut, level G4 atau berat, dan level G5 atau ekstrem. Badai magnet bumi level G4 berdampak pada kontrol tegangan yang luas pada jaringan listrik serta navigasi satelit menurun selama berjam-jam.
Apa dampaknya ke Indonesia?
Menurut ketua tim kerja geofisika potensial BMKG, Syirojudin, badai magnet bumi level G4 tidak berdampak signifikan di wilayah Indonesia karena posisi geografis Indonesia berada di lintang rendah. Namun, di wilayah Tondano, Sulawesi Utara terjadi gangguan magnetik lokal akibat badai magnet bumi level G4. Dalam pengamatan itu, indeks K lokal di wilayah tersebut tercatat berada pada kisaran K=8 hingga K=9 yang mengindikasikan terjadinya badai magnet Bumi besar hingga ekstrem.
Dampaknya untuk Masyarakat
Badai geomagnetik tersebut tidak berdampak langsung pada kesehatan manusia dan tidak menimbulkan risiko fatal terhadap infrastruktur kelistrikan nasional. Namun, hanya saja terjadi penurunan akurasi navigasi satelit global positioning system (GPS), gangguan komunikasi radio frekuensi tinggi (HF), serta fluktuasi pada layanan internet berbasis satelit.
Menghadapi Fenomena Badai Magnet Bumi
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan mengetahui perkembangan terbaru melalui informasi resmi dari daeri BMKG atau sumber terpercaya lainnya. Operator telekomunikasi serta navigasi juga diimbau untuk memantau kualitas sinyal satelit selama periode gangguan berlangsung.
Badai magnet bumi skala berat terjadi di Indonesia dini hari, 20 Januari 2026. Hal ini akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), badai magnet bumi atau badai geomagnetik adalah gangguan sementara pada magnetosfer Bumi. Penyebabnya adalah ledakan aktivitas Matahari moderat yang tinggi berupa suar Matahari kelas X1.9 pada 18 Januari 2026.
Badai Magnet Bumi, Apa Saja Dampaknya?
Dengan skala dampak badai magnet bumi ini terbagi menjadi lima klister, yaitu level G1 atau lemah, level G2 atau sedang, level G3 atau akut, level G4 atau berat, dan level G5 atau ekstrem. Badai magnet bumi level G4 berdampak pada kontrol tegangan yang luas pada jaringan listrik serta navigasi satelit menurun selama berjam-jam.
Apa dampaknya ke Indonesia?
Menurut ketua tim kerja geofisika potensial BMKG, Syirojudin, badai magnet bumi level G4 tidak berdampak signifikan di wilayah Indonesia karena posisi geografis Indonesia berada di lintang rendah. Namun, di wilayah Tondano, Sulawesi Utara terjadi gangguan magnetik lokal akibat badai magnet bumi level G4. Dalam pengamatan itu, indeks K lokal di wilayah tersebut tercatat berada pada kisaran K=8 hingga K=9 yang mengindikasikan terjadinya badai magnet Bumi besar hingga ekstrem.
Dampaknya untuk Masyarakat
Badai geomagnetik tersebut tidak berdampak langsung pada kesehatan manusia dan tidak menimbulkan risiko fatal terhadap infrastruktur kelistrikan nasional. Namun, hanya saja terjadi penurunan akurasi navigasi satelit global positioning system (GPS), gangguan komunikasi radio frekuensi tinggi (HF), serta fluktuasi pada layanan internet berbasis satelit.
Menghadapi Fenomena Badai Magnet Bumi
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan mengetahui perkembangan terbaru melalui informasi resmi dari daeri BMKG atau sumber terpercaya lainnya. Operator telekomunikasi serta navigasi juga diimbau untuk memantau kualitas sinyal satelit selama periode gangguan berlangsung.