Tensi di Timur Tengah kembali mencapai titik didih. Amerika Serikat mengintensifkan pengerahan kekuatan militer besar-besaran di lepas pantai Iran. Langkah ini memicu kekhawatiran global bahwa Washington tengah mempersiapkan serangan militer langsung terhadap Teheran dalam waktu dekat.
Kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln telah tiba di Laut Arab, yang dilakukan hanya berselang beberapa bulan setelah AS meluncurkan serangan udara dahsyat ke tiga situs nuklir Iran pada Juni 2025 lalu.
Komando Pusat AS mengonfirmasi bahwa pengerahan aset strategis ini dilakukan untuk "mempromosikan keamanan dan stabilitas regional." Kapal raksasa USS Abraham Lincoln membawa Carrier Air Wing 9 yang terdiri dari 65 pesawat jet tempur, termasuk F/A-18E Super Hornet yang dikenal mematikan dalam serangan presisi.
Selain itu, kapal-kapal perusak rudal kendali kelas Arleigh Burke juga dikawal oleh USS Frank E Petersen Jr, USS Spruance, dan USS Michael Murphy. Ketiganya memiliki kemampuan meluncurkan rudal Tomahawk untuk serangan darat serta sistem pertahanan rudal balistik tingkat tinggi.
Angkatan Udara AS (AFCENT) juga mengumumkan latihan militer "kesiapan multi-hari" di seluruh wilayah tanggung jawabnya di Timur Tengah. Presiden Donald Trump memberikan sinyal kuat terkait potensi penggunaan kekuatan militer ini, yaitu untuk melindungi hak asasi manusia dan perlindungan warga sipil.
Namun, langkah ini berisiko tinggi karena biaya intervensi militer akan sangat mahal dan dampaknya justru bisa membuat rezim Iran semakin represif terhadap 92 juta rakyatnya. Spekulasi mengenai tindakan militer mendadak terhadap Iran tetap menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi dan geopolitik global.
Kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln telah tiba di Laut Arab, yang dilakukan hanya berselang beberapa bulan setelah AS meluncurkan serangan udara dahsyat ke tiga situs nuklir Iran pada Juni 2025 lalu.
Komando Pusat AS mengonfirmasi bahwa pengerahan aset strategis ini dilakukan untuk "mempromosikan keamanan dan stabilitas regional." Kapal raksasa USS Abraham Lincoln membawa Carrier Air Wing 9 yang terdiri dari 65 pesawat jet tempur, termasuk F/A-18E Super Hornet yang dikenal mematikan dalam serangan presisi.
Selain itu, kapal-kapal perusak rudal kendali kelas Arleigh Burke juga dikawal oleh USS Frank E Petersen Jr, USS Spruance, dan USS Michael Murphy. Ketiganya memiliki kemampuan meluncurkan rudal Tomahawk untuk serangan darat serta sistem pertahanan rudal balistik tingkat tinggi.
Angkatan Udara AS (AFCENT) juga mengumumkan latihan militer "kesiapan multi-hari" di seluruh wilayah tanggung jawabnya di Timur Tengah. Presiden Donald Trump memberikan sinyal kuat terkait potensi penggunaan kekuatan militer ini, yaitu untuk melindungi hak asasi manusia dan perlindungan warga sipil.
Namun, langkah ini berisiko tinggi karena biaya intervensi militer akan sangat mahal dan dampaknya justru bisa membuat rezim Iran semakin represif terhadap 92 juta rakyatnya. Spekulasi mengenai tindakan militer mendadak terhadap Iran tetap menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi dan geopolitik global.